10th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF): Coming, 1-6 Desember 2015

10th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF): [Be]Coming, 1-6 Desember 2015

1712
SHARE

Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) akan digelar untuk ke-10 kali, yaitu pada 1-6 Desember 2015. Sebanyak 153 film dari 23 negara berpartisipasi dalam ajang tahunan ini. “Dari Indonesia ada sekitar 50 film panjang dan pendek,” kata Direktur Program JAFF, Ismail Basbeth saat jumpa pers di Jakarta, Selasa kemarin.

Pemutaran film JAFF akan digelar di XXI Urip Sumoharjo, dan Taman Budaya Yogyakarta. Selain itu, JAFF juga memiliki program memutar film di ruang terbuka di lima titik, yaitu di Kotagede, Kraton, Banyuraden, Kasihan, Sedan. Keseluruhan lokasi pemutaran masih berada dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Ismail mengatakan pemutaran film di ruang terbuka dapat membuka akses bagi publik untuk menonton film festival.

Film Tanah Air yang akan diputar dalam festival ini, antara lain “Mencari Hilal” dari Ismail Basbeth, “A Copy of My Mind” karya Joko Anwar dan “Pendekar Tongkat Emas” garapan Ifa Isfansyah. Dan selain Indonesia, negara-negara lain seperti Irak, Bangladesh, India, Malaysia dan Timor Leste juga akan mengirimkan film mereka untuk diputar di festival yang bermula dari semangat komunitas film di Kota Pelajar tersebut.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, JAFF memiliki program khusus film panjang dalam penyelenggaraannya setiap tahun, antara lain Asian Feature, The Faces of Indonesia Cinema Today, Teddy Soeriaatmadja’s Way, Films by JAFF Persons, Focus on Chinese Cinema, Korean Cinema Splash, dan Japan Day: Filmmaker Choices of Japanese Films.

Sedangkan, program yang mengakomodasi film-film pendek adalah Light of Asia, 10 Films from Culture Office of Yogyakarta (didanai Pemprov DIY), Short Film Splashes, Viddsee Short Film Showcase, Special Screening Project: An Invitation to Experience Humanity bersama Babibutafilm, dan A Pilgrimage to Gotot Prakosa by Buttonijo.

 

Setelah Satu Dekade

Masuk usia satu dekade, JAFF tidak semata mengakomodasi film-film dari kawasan Asia, tetapi juga menjadi referensi penting perkembangan film di Asia. Portal MovieMaker.com bahkan menobatkan JAFF sebagai salah satu daftar 25 Coolest Festivals in the World 2015. Itu berarti, JAFF sudah cukup punya pengaruh dan diperhitungkan di tingkat internasional.

Para narasumber konferensi pers JAFF ke 10, dari kiri ke kanan: Joko Anwar (Sutradara Film "A Copy Of My Mind), Garin Nugroho (Festival President JAFF), Ifa Isfansyah (Executive Director JAFF) dan  Ismail Basbeth (Program Director JAFF). (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Para narasumber konferensi pers JAFF ke 10, dari kiri ke kanan: Joko Anwar (Sutradara Film “A Copy Of My Mind), Garin Nugroho (Festival President JAFF), Ifa Isfansyah (Executive Director JAFF) dan Ismail Basbeth (Program Director JAFF). (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)

Sepuluh tahun setelah festival pertama kali diadakan, Direktur Eksekutif JAFF Ifa Isfansyah melihat festival film tersebut cukup memiliki posisi di Asia Tenggara. Di dalam negeri, Ifa mengatakan, festival bertanggung jawab terhadap publiknya masing-masing. Bahwa Pondasi untuk melihat film Indonesia ke depan seperti apa, ada di forum-forum festival tersebut.

“10 tahun bukan perjalanan yang lancar. Setelah (dibentuk pada) 2006, festival mulai cukup besar. Kita selalu memutar 100 film lebih. kita seringkali mempunyai budget sangat terbatas. Perjuangan teman-teman dan pihak-pihak lain selama 10 tahun sangat luar biasa,” kata Ifa Isfansyah, Executive Director JAFF

Ifa menambahkan bahwa saat ini mereka semakin sadar, bahwa JAFF dan segala bentuk kegiatannya membentuk culture sinema di Yogya dan di Asia. “Kami berterima kasih kepada pendukung, voulenteer. Kita punya 50 sampai 100 voulenteer setiap tahunnya. Kita hidup dan continue karena itu. Mudah-mudahan 10 tahun ini awal lahirnya kembali JAFF,” kata Ifa.

Selain mengadakan pemutaran film, JAFF juga menggelar kuliah umum seputar film Asia dan strategi promosi film.

 

Tentang JAFF

JAFF adalah salah satu dari festival film Asia utama di Indonesia yang fokus pada perkembangan sinema Asia. Festival ini ditujukan tidak hanya untuk memperkenalkan sinema Asia kepada publik yang lebih luas di Indonesia, tapi juga mencoba memberikan ruang bagi ketersinggungan dunia sinema dengan beberap sektor lain seperti seni, kebudayaan dan pariwisata.

Sejak didirikan, JAFF sudah bekerjasama erat dengan jaringan promosi sinema Asia (NETPAC), salah satu organisasi dunia yang beranggotakan 30 negara. Bermarkas di Colombo, Srilanka, NETPAC adalah sebuah organisasi film dan budaya pan-Asia yang melibatkan kritikus, filmmakers, kurator dan penyelenggara festival, distributor dan eksibitor film, juga para akademisi dan pemerhati dunia sinema. NETPAC juga dianggap sebagai otoritas tertinggi dalam dunia sinema di Asia.

Setiap tahun, JAFF mempersembahkan beberapa penghargaan bagi film-film terbaik di Asia, yang disebut dengan Golden Hanoman Award, Silver Hanoman Award, NETPAC Award, Blencong Award dan Geber Award untuk mengekspresikan apresiasi mendalam terhadap dunia sinema Asia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY