10th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF): Merayakan Sinema Asia & Dorong Kebangkitan...

10th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF): Merayakan Sinema Asia & Dorong Kebangkitan Film Nasional

1246
SHARE

Satu dekade lalu sekelompok anak muda bekerja dengan seorang sutradara film nasional, akademisi film dan kurator film Asia membentuk Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF). Kelompok itu bertekun mengerjakan festival film sederhana tanpa gemerlap lampu seremonial dan selebritas untuk menghidupkan passion mereka di dunia film. Mereka memilih film Asia, sebuah pilihan aras yang tak populer saat itu.

Sepuluh tahun berlalu, film Asia mulai mendapatkan tempat di ruang tonton masyarakat dunia melalui bioskop, televisi dan terutama festival film di Asia, Eropa dan Amerika. Didukung oleh ketrampilan dan koneksi internasional, anak muda pelopor JAFF menjadi pembuat dan peneliti film yang berprestasi di dunia internasional. Mereka menjadi pelopor eksistensi film Indonesia di festival dan forum film internasional seraya terus membuka ruang bagi film Asia untuk publik Asia. JAFF tidak sekedar mempertemukan peminat film tapi juga merintis kerja kolaboratif, pertemuan pembuat dan pengkaji serta jalur eksibisi film Asia di Asia bahkan dunia internasional.

Dari Kiri ke kanan: Joko Anwar, Garin Nugroho, Ifa Isfansyah dan Ismail Basbeth (sumber: Panitia JAFF ke-10)
Dari Kiri ke kanan: Joko Anwar, Garin Nugroho, Ifa Isfansyah dan Ismail Basbeth (sumber: Panitia JAFF ke-10)

Oleh karena itu, tahun ini, JAFF yang digelar pada pada 1-6 Desember 2015, mengangkat tema (Be)Coming. Tema ini sesungguhnya bisa dibaca sebagai dua istilah: “being” (keberadaan) dan “coming” (kedatangan). “Being” menyatakan keberadaan sinema Asia yang telah diakui dan diapresiasi pada tataran global sebagaimana terbukti pada kemampuan sinema Asia memenangi sejumlah penghargaan bergengsi pada sejumlah festival internasional. Sementara itu, istilah “coming” merujuk pada realitas-realitas baru yang dibawa oleh sinema Asia yang telah memberi warna penting pada lanskap sinema dunia karena kemampuannya mengartikulasikan keragaman identitas Asia dengan gaya sinematiknya yang khas.  Dengan kata lain, masa depan sinema dunia  sesungguhnya terletak  pada sinema Asia.

Akan tetapi, ketika kedua istilah itu digabungkan membentuk istilah baru yakni “becoming” yang berarti menjadi.” Maknanya, sinema Asia senantiasa dalam proses perubahan tiada henti karena silang pengaruh di antara sinema di Asia yang diikuti oleh proses dialog kreatif dengan sinema dunia. Di samping itu, tema “(Be)coming“ juga menandai satu dekade penyelenggaraan JAFF yang telah mampu membentuk penontonnya yang memiliki apresiasi tinggi  pada sinema Asia sekaligus menjadi bukti daya hidup festival yang didukung oleh publiknya, para pembuat film Asia serta kolaborasinya dengan pelbagai pihak. Tak mengherankan, jika majalah Moviemaker edisi tahun ini memilih JAFF sebagai salah satu dari “25 Festival Tekeren di Dunia” (25 Coolest Festival in the World) karena dianggap memiliki akar yang kuat pada aktivisme.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, JAFF menyelenggarakan beberapa program yang memutar 159 film panjang dan pendek dari 23 negara di Asia.  Pemutaran film panjang diwadahi dalam program Asian Feature, The Faces of Indonesia Cinema Today, Teddy Soeriaatmadja’s way, Film by JAFF Persons, Focus on Chinese Cinema, Korean Cinema Splash dan Filmmakers Choice of Japanese Film.

Suasana program Open Air Cinema di JAFF Ke 10 (sumber: Doc 10th JAFF)
Suasana program Open Air Cinema di JAFF Ke 10 (sumber: Doc 10th JAFF)

Sedangkan film pendek terangkum dalam Light of Asia , Film dari Jogja (didanai Pemprov DIY), Short film splash, Special program bersama Viddsee dan An Invitation to Experience Humanity bersama babibutafilm, Ziarah: A Pilgrimage to Gotot Prakosa merupakan program kolaborasi dengan  buttonijo. Asian Doc merupakan program kerjasama dengan FFD (Festival Film Dokumenter), IFI dan JAFF, program kerjasama dengan Festival Cinema Prancis Pemutaran film akan diselenggarakan di XXI Urip Sumoharjo Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta.

Selama sepuluh tahun pelaksanaan JAFF selalu dimitrai oleh Netpac (Network for Promotion of Asian Cinema). Organisasi ini telah berdiri sejak tahun 1990 diprakarsai oleh Aruna Vasudev. Netpac memegang mandat dari UNESCO untuk mengembangkan film Asia. Tahun ini usia Netpac menginjak 25 tahun. Seperempat abad bukan waktu yang pendek untuk bertahan, organisasi lintas negara ini berhasil menunjukan prestasinya.

Tahun ini sangat istimewa, Netpac akan merambah ke Pasifik. Beberapa negara Pasifik akan bersama dengan rekannya di Asia untuk mempromosikan film bersama. Hawaii, Australia, New Zealand dan beberapa negara pasifik lain aku bergabung dengan Netpac. Maka bukan tidak mungkin tahun depan JAFF akan diramaikan oleh film-film Pasifik.

25 Tahun Netpac di Jaff ke 10 (sumber: Doc JAFF 10)
25 Tahun Netpac di Jaff ke 10 (sumber: Doc JAFF 10)

Public Lecture tahun ini fokus pada diskusi untuk membahas (Be)Coming Asia & Focus on Chinese Cinema dan dikusi buku mengenai “Crisis and Paradox of Indonesian Film – Krisis dan Paradoks Film Indonesia (1990-2012)”. Diskusi buku berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta dan menghadirkan narasumber Garin Nugroho, Dyna Herlina dan Tito Imanda. Buku ini pertama kali diluncurkan pada perayaan JAFF ke-8, dan saat ini sudah memasuki cetakan ke-4 dengan versi baru dalam bahasa Inggris dengan dukungan dana dari Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

“Tidak banyak buku tentang film Indonesia yang diterbitkan terlebih yang mengkaitkan sejarah film dengan konteks kesenian dan perubahan sosial politik yang terjadi di masanya. Oleh karena itu, buku ini ditulis untuk mengisi kekosongan itu. Sejarah selalu berulang, dinamika perfilman bergerak dalam kutub krisis dan paradoks. Pengalaman pribadi penulis saat berbenturan dengan berbagai konteks di atas turut menjadi salah satu penguat kisah dan analisis dalam buku ini” tutur Garin dalam diskusi yang dilaksanakan pada hari kedua pelaksanaan JAFF ke 10 ini.

Public Lecture tentang Yogyakarta Cinema(sumber: Doc 10th JAFF).
Public Lecture tentang Yogyakarta Cinema(sumber: Doc 10th JAFF).

Yang menarik, ada beberapa film yang tiketnya sudah habis terjual jauh sebelum pelaksanaan JAFF berlangsung. Hal ini membuktikan warga Yogyakarta sangat antusias menyambut JAFF. Semenjak siang antrian penonton sudah memadati bioskop Empire XXI  untuk menonton Film Indonesia, yaitu A Copy of My Mind karya sutradara Joko Anwar. Di lain tempat, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), penonton berjubel ingin menyaksikan kompilasi Film Dari Jogja 1. Kompilasi ini adalah film-film yang dihasilkan dari hibah produksi Dinas Kebudayaan Pemprov DIY.

Serangkaian film Asia termasuk dari Indonesia, diputar di hari ketiga festival ini. Bisa dipastikan film-film yang diputar JAFF tak akan ditemukan di lapak dvd bajakan, situs berbagi film di internet, warnet atau tv kabel. Panitia selalu menghadirkan film terbaru dan tersegar dari bumi Asia. Film panjang dari Indonesia yang diputar, diantaranya Surga Yang Tak Dirindukan karya Kuntz Agus dan Nay karya Djenar Maesa Ayu. Dua film ini istimewa karena film pertama sangat laris di pasaran beberapa bulan silam. Sedangkan film kedua mendapatkan banyak pujian dari kritikus film meskipun masih diedarkan secara terbatas. Jadi bagi penonton yang ketinggalan menyaksikan film ini dapat mengejarnya di JAFF.

Suasana tanya jawab tentang film NAY (Sumber: Doc 10th JAFF)
Suasana tanya jawab tentang film NAY karya Djenar Maesa Ayu (Sumber: Doc 10th JAFF)

Sementara itu, film pendek yang diputar pada hari ketiga ini juga cukup banyak. Kolase film Yosep Anggi Noen: To Home, Genre Sub Genre, Love Story Not. Ia adalah sutradara muda jebolan JAFF yang memenangi berbagai festival film internasional.

Film Cina, Jepang dan Korea diputar secara maraton di JAFF. Ada beberapa judul menarik pada hari ketiga ini, seperti Tharlo dan Dossier (Cina). Tahun ini Tharlo memenangi Grand Prize dan Student Prize Tokyo Filmex Festival. Melalui Tharlo kita menyaksikan Cina yang berbeda, bukan industrial tapi sederhana dan agraris. Cina yang lain pun ditampilkan oleh film dokumenter Dossier. Pejuang tibet, Tsering Shakya, menjadi tokoh utama dalam film ini. Sang sutradara menuturkan kehidupan sering yang selalu dianggap melawan pemerintah Cina. Film ini membuat kita bisa menilai konflik Cina dan Tibet dari sudut pandang berbeda. Tak kalah menarik dua film dramatis Perfect Proposal (Korea), dan Happy Hour (Jepang) sayang untuk dilewatkan.

Public lecture, sebagai pembuka festival hari ke empat, bertema Promo and Funding Strategy. Acara ini dilaksanakan di IFI, Sagan pada 4 Desember 2015 pukul 10.00-12.00. Beberapa narasumber dihadirkan, seperti Kamila Andini, Christine Hakim, dan Isabelle Glachant. Eksotisme Asia menarik distributor film dari Perancis seperti Isabelle untuk memutarnya di berbagai festival di Eropa. Para pembuat film tak saja berkesempatan memamerkan filmnya, tapi juga mendapatkan pendanaan dari beragam festival internasional. Kamila dan Christine adalah pembuat film Indonesia yang berhasil mendapatkannya.

Di tempat lain, Loop Station, masih diselenggarakan Forum Komunitas yang kali ini mengundang komunitas film dari Indonesia timur, yaitu Sumbawa dan Bali. Tak hanya dieksploitasi eksotisme alamnya, dalam film, anak muda dari kedua wilayah itu turut bergerak memproduksi film mereka sendiri. Dua komunitas yang mewakilinya adalah Sumbawa Cinema Society dan Minikino. Mereka akan berbagi pengalaman berkomunitas film disana.

Sementara itu, di hari ke empat festival ini, TBY dan studio XXI masih memutar film-film eksotis khas Asia. Apa yang dibayangkan penonton Indonesia tentang Kamboja, Kyrgyztan, Srilanka? Pedesaan, ternak, militer? Itulah gambaran tipikal dari ketiga negara Asia itu. Tak banyak kesempatan bagi kita untuk mendapat pemahaman lebih detail tentang ketiga negara itu. Maka film-film adalah jawaban menemukan kronik kehidupan Asia.

Cambodian Son yang berkisah tentang keterpisahan seorang anak, Kosal dan keluarganya akibat perang saudara tak berkesudahan di Kamboja. Sementara pemandangan pedesaan Kyrgyztan yang eksotis akan diekspose dalam film The Move. Srinlangka yang dramatis digambarkan dalam film The Strage Familiar.

Spesial film Indonesia, Another Trip to Moon yang dibesut oleh Ismail Basbeth merupakan produksi kolaborasi dengan Rotterdam Film Festival. Film panjang karya sutradara Indonesia yang lain adalah Something in The Way arahan Teddy Soeriaatmadja. Tak hanya itu puluhan film pendek terangkum dalam sesi Vidsee Short Film Showcase, Light of Asia dan Short Film Splashes. Tak hanya menikmati eksotisme, rangkaian film JAFF membawa penonton untuk mengenali Asia yang ‘lain’. Negara-negara tetangga yang justru kurang kita kenal dibandingkan Amerika dan Eropa yang lebih jauh.

Foto bareng penonton dan filmmaker Another Trip To The Moon, Ismail Basbeth (sumber: Doc 10th JAFF)
Foto bareng penonton dan filmmaker Another Trip To The Moon, Ismail Basbeth (sumber: Doc 10th JAFF)

JAFF ke-10 ini juga memutar banyak film Jepang dalam rangkaian JAPAN DAY pada hari kelima festival. Beberapa judul film Jepan yang cukup fenomenal diputar, seperti Seven Samurai, The Cure, Tokyo Story, The Pornographer, dan Kids Return. Semua film tersebut diputar di TBY dari pukul 11.40 hingga 23.45. Penonton dapat menonton semua film itu dengan gratis. Kehadiran film Jepang memberi pengaruh besar dalam sinema Indonesia karena mereka memiliki gerak kamera, isu dan penataan cahaya yang berbeda dengan film Hollywood.

Sedangkan di XXI ada film Korea Cloud Bread juga diputar gratis. Film dari Cina yang diputar Till Madness Do Us Part. Film dari Cina sungguh spesial, berdurasi 4 jam ini ‘mengobservasi’ kehidupan 50 laki-laki di sebuah RSJ terpencil. Dalam ruangan yang sama, mereka menjalani hidup yang hampa, berusaha mencari kenyamanan dan kehangatan manusia. Kegilaan membuat mereka bisa hidup bersama.

Pemutaran khusus kerjasama antara JAFF dengan IFI memutar dua film Perancis. Keduanya adalah Dephan karya Jacques Audiard dan Taj Mahal besutan Nicolas Saada. Program spesial ini diselenggarakan di XXI studio 6 pada pukul 19.00-20.40 dan 21.00-22.30.

Djenar Maesa ayu memeberikan sambutan ketika menerima penghargaan NETPAC Awards (sumber: Doc 10th JAFF)
Djenar Maesa ayu memberikan sambutan ketika menerima penghargaan NETPAC Awards untuk film karyanya, NAY (sumber: Doc 10th JAFF)

Akhirnya, pelaksanaan 10th JAFF berakhir pada 6 Desember 2015. Festival ini menganugerahkan beberapa penghargaan untuk film-film terbaik yang dipilih oleh berbagai juri. Ada 6 kategori penghargaan yang dipresembahkan, yaitu:

  1. Golden  Hanoman Awards: Penghargaan pada film Asia terbaik pertama melalui penjurian Asian Feature
  2. Silver Awards: Penghargaan pada film Asia terbaik kedua melalui penjurian Asian Feature
  3. Netpac Awards: Diberikan oleh Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC)
  4. Geber Awards: Penghargaan film Asia terbaik diberikan oleh komunitas film dari berbagai kota di Indonesia
  5. Blencong Awards: Penghargaan diberikan juri bagi film pendek Asia terbaik dari Program Light of Asia
  6. Jogja Student Film Awards: Penghargaan oleh Jogja Film Academy bekerjasama dengan ISI Media Rekam Yogyakarta, MMTC, AMIKOM, AKINDO, dan AKRB dipilih oleh murid sekolah film Yogyakarta.

Berdasarkan hasil rapat beberapa kelompok juri diperoleh hasil para pemenang sebagai berikut.

  1. Golden Hanoman Awards: Cambodian Son – Masahiro Sugano / Cambodia, USA, France, London
  2. Silver Hanoman Awards: Swap – Remton Siega Zuasola / Philipines
  3. NETPAC Awards: Nay – Djenar Maesa Ayu / Indonesia
  4. Jogja Student Film Awards: The Fox Exploits The Tiger’s Might – Lucky Kuswandi / Indonesia
  5. Light Of Asia : The Incredibly Strange Tale Of The Man Who Lost His Love Bought It Back With A Packet Of Duck Rice – Gavin Yap / Malaysia
  6. Geber Awards : A Copy Of My Mind – Joko Anwar / Indonesia

Perlu dicatat, dari enam kategori ada 3 film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan. Artinya, film Indonesia berhasil mengunguli film-film lain dari negara Asia. Ini sebuah prestasi yang perlu disebarluaskan sekaligus menjadi pemantik perluasan industri film tanah air.

Selain film terbaik, ada beberapa keberhasilan JAFF ke-10 ini yang perlu diperhatikan. Festival ini telah memutar 159 judul film dari 23 negara. Selain pemutaran film ada 2 program diskusi yaitu Public Lecture (6 diskusi) dan Forum Komunitas (10 diskusi). Tidak ada satupun pemutaran/diskusi yang dibatalkan selama festival. Film diputar dalam 67 sesi pemutaran dan terlaksana 17 diskusi.

Foto bersama setelah diskusi forum komunitas dan buttonijo (sumber: Doc 1oth JAFF)
Foto bersama setelah diskusi forum komunitas dan buttonijo (sumber: Doc 1oth JAFF)

Dan dengan hal tersebut, saat ini JAFF dianggap sebagai festival film terbesar di Indonesia ditilik dari rangkaian program dan jumlah pengunjung. Panitia mencatat hingga hari terakhir festival setidaknya ada 7.500 penonton/peserta yang terlibat.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY