10th Jogja-Netpac Asian Film Festival: Kerja Kolaboratif Perlawanan Atas Industri Yang Mati

10th Jogja-Netpac Asian Film Festival: Kerja Kolaboratif Perlawanan Atas Industri Yang Mati

1379
SHARE
Dari Kiri ke kanan: Joko Anwar, Garin Nugroho, Ifa Isfansyah dan Ismail Basbeth (sumber: Panitia JAFF ke-10)

Satu dekade lalu sekelompok anak muda bekerja dengan seorang sutradara film nasional, dosen film, dan kurator film Asia untuk membentuk Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF). Kelompok itu bertekun mengerjakan festival film sederhana tanpa gemerlap lampu seremonial dan selebritas untuk menghidupkan passion mereka di dunia film. Mereka memilih film Asia, sebuah pilihan aras yang tak populer saat itu.

Sepuluh tahun berlalu, film Asia mulai mendapatkan tempat di ruang tonton masyarakat dunia melalui bioskop, televisi, dan terutama festival film di Asia, Eropa dan Amerika. Didukung oleh ketrampilan dan koneksi internasional, anak muda pelopor JAFF menjadi pembuat dan peneliti film yang berprestasi di dunia internasional. Mereka menjadi pelopor eksistensi film Indonesia di festival dan forum film internasional seraya terus membuka ruang bagi film Asia untuk publik Asia. JAFF tidak sekedar mempertemukan peminat film tapi juga merintis kerja kolaboratif: pertemuan pembuat dan pengkaji serta jalur distribusi film Asia di Asia bahkan dunia internasional.

Tahun ini, JAFF terselenggara pada tanggal 1-6 Desember 2015 dengan mengambil tema (Be)Coming. Tema ini sungguh istimewa tidak saja menandai sepuluh tahun festival ini tapi juga menegaskan bahwa upaya tak kenal lelah agar film Asia diterima oleh publik Asia dan Internasional telah menemukan arah dan penontonnya. Festival ini juga berhasil membuktikan bahwa festival bukan sekedar perayaan tapi pertemuan, kolaborasi dan peluang.

slider-1

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, JAFF menyelenggarakan beberapa program rutin pemutaran film pendek dan panjang. Pemutaran film panjang adalah Asian Feature, The Faces of Indonesia Cinema Today, Teddy Soeriaatmadja’s way, Films by JAFF Persons, Focus on Chinese Cinema, Korean Cinema Splash dan Japan Day: Filmmaker Choices of Japanese Films. Sedangkan film pendek terangkum dalam Light of Asia, 10 Films from Culture Office of Yogyakarta (didanai Pemprov DIY), Short film splashes, Viddsee Short Film Showcase, Special Screening Project: An Invitation to Experience Humanity bersama babibutafilm, dan A Pilgrimage to Gotot Prakosa by buttonijo. Untuk Asian Doc (Prototype Program) merupakan program kerjasama dengan Festival Film Dokumenter (FFD) dan selain itu, JAFF juga bekerjasama dengan Festival Sinema Prancis (IFI).

Tahun ini, pemutaran film akan diselenggarakan di XXI Urip Sumoharjo Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta. Selain pemutaran film regular tersebut, ada tiga program fringe yaitu Open Air Cinema, Community Forum dan Public Lecture. Program Open Air Cinema ada di 5 titik seputar Yogyakarta yaitu: Kotagede, Kraton, Banyuraden, Kasihan, Sedan. Sedangkan Community Forum akan diadakan di Loop Station Jogja, yang terletak di selatan Taman Budaya Yogyakarta. Untuk program Public Lecture diselenggarakan di Bentara Budaya dan IFI-LIP Yogyakarta.

Sejalan dengan film-film yang diputar, program Public Lecture akan mendiskusikan beberapa topik penting yaitu: Menjadi Asia, Membaca Asia lewat Cina, Pengaruh Sinema Jepang terhadap Sinema Indonesia, Sinema Jogja, Bedah Buku Krisis dan Paradoks Film Indonesia (1900-2015), dan Strategi Promosi dan Festival.

Garin Nugroho, sineas senior yang juga Presiden JAFF menceritakan bagaimana pertama kalinya ia melatarbelakangi berdirinya JAFF. “Waktu itu gak ada festival film yang fokus ke Asia. Saya telpon Philip Cheah, kurator terbaik Asia. Bukan karena saya orang Jogja, (tapi memang) ada sumber daya dan komunitas. Waktu itu ada 75 komunitas (yang punya) kemampuansurvival dan menghadapi resistensi besar,” tutur Presiden JAFF ini saat konferensi pers JAFF ke-10 di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Selasa (24/11).

645x430-garin-nugroho-garap-film-bisu-hitam-putih-151002u
Garin Nugroho, sineas senior Indonesia sekaligus founder dan Presiden JAFF.

Ia juga mengatakan bahwa festival film ini adalah perlawanan terhadap krisis. “JAFF lahir ketika gempa Jogja. Hampir tiap sponsor menarik diri. Ini festival perlawanan terhadap krisis, industri yang mati. Tetap jalan untuk membangkitkan kehidupan di Jogja,” ungkapnya.

Tahun ke-10 ini JAFF mengangkat tema (Be)Coming. “Menjadi Asia tidak mudah karena nilai-nilai budayanya. Saya yakin film Asia tetap hidup dibanding Eropa dan Amerika karena banyak keberagaman. Banyak dimensi, banyak krisis, tema, dilema. Asia gak perlu takut kehilangan filmmaker karena akan terus melahirkan karya personal,” jelas Garin.

Ifa Ifansyah, produser film ‘Siti’ yang menyabet Piala Citra tahun ini, sekaligus Direktur Eksekutif JAFF mengatakan bahwa JAFF terus berusaha untuk terus konsisten. “Berusaha konsisten tiap tahun karena karakter tidak terbentuk begitu saja, kultur sinema di Jogja, Indonesia dan Asia pada khususnya. Kita hidup dan kontinyu dari volunteer ada 50-100 orang,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang apa saja film yang akan diputar tahun ini, Ismail Basbeth, sutradara film ‘Mencari Hilal’ yang sekaligus Program Director JAFF mengatakan bahwa ada film-film yang berasal dari Bangladesh, Malaysia, Irak, India, Egypt, Irak, dan Timor Leste. “Film pendek dikasih ruang yang lebar. Kalau mau lihat wajah film, lihat film pendeknya,” katanya. Kabar baiknya, dua film Indonesia, ‘A Copy Of My Mind’ karya Joko Anwar dan ‘Nay’ karya Djenar Maesa Ayu, juga akan ikut berkompetisi.

Direktur Festival, Budi Irawanto, lalu menjelaskan soal posisi JAFF sebagai festival film yang dipandang penting oleh negara-negara Asia. Buktinya, kata Budi, ada lebih dari 300 film yang mendaftar ke JAFF. Dan, setelah melalui proses seleksi, terpilihlah 75 film dari 18 negara untuk diputar dalam program-program utama JAFF.

“JAFF ini lahir dari semangat berkomunitas, sehingga semangat tersebut akan terus dibawa dan dijaga. Oleh terima kasih pada para volunteer, karena JAFF bisa berjalan hingga tahun kesembilan ini berkat peran mereka,” jelas Budi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY