20 Feet From Stardom: Perjuangan Para Penyanyi Latar

20 Feet From Stardom: Perjuangan Para Penyanyi Latar

1132
SHARE
Ket Foto : Kiri Kanan : Director Film Forward Initiative Meredith Lavitt, Editor 20 Feet From Stardom Doug Blush dan Assistant Cultural Affairs Officer Esther B-H saat memberikan materi dalam acara pemutaran dan diskusi film 20 Feet From Stardom.

Oleh: Rian Samin

Penyanyi latar atau background singer atau backing vocal sering kali kurang mendapat perhatian. Maklum saja, yang jadi bintang di sebuah konser pastinya si penyanyi utama.  Gambaran seperti itulah yang ingin diceritakan oleh Film 20 Feet From Stardom besutan Morgan Neville.

Film yang mendapatkan penghargaan Best Documentary Film pada ajang OSCAR 2014 tersebut diputar untuk umum di Kedai Kebun Jalan Tirtodiouran No.3 Yogyakarta, Rabu (10/9). Dalam pemutaran film tersebut juga diadakan diskusi mengenai film tersebut dengan langsung menghadirkan Doug Blush selaku editor film 20 Feet From Stardom.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Morgan Neville ini mengisahkan tentang kisah pahit manis para penyanyi kulit hitam ini sebagai backup singer dari penyanyi terkenal legendaris. Penyanyi-penyanyi latar yang kadang sering tidak dianggap dan diperhatikan.

Darlene Love, Merry Clayton, Lisa Fischer, Tata Vega, Jo Lawry, dan Judith Hill adalah para penyanyi latar yang sering bersanding dengan Ray Charles, Tina Turner, The Rolling Stones, Bruce Springsteen, Stevie Wonder, David Bowie, Joe Cocker, dan masih banyak lagi penyanyi legendaris lainya.

Mereka berhasil merebut perhatian penyanyi dan produser terkenal. Lisa Fischer, misalnya, menyanyi untuk The Rolling Stones sejak tahun 1989 sampai sekarang. Ia sering menemani Mick Jagger sebagai vokal utama di beberapa lagu saat konser.

Sebagai penyanyi latar, mereka mengalami jatuh bangun. Terutama saat mereka berusaha merilis rekaman mereka sendiri. Menyanyi adalah satu hal, menjadi bintang adalah hal lain. Darlene Love, yang bergabung dengan The Blossoms, disebut sebagai pelopor penyanyi latar bergaya gospel di tahun 60-an bahkan sempat menjadi pembantu rumah tangga. Ironisnya, saat ia sedang bersih-bersih, lagu yang ia nyanyikan diputar di radio.

Perjuangan para penyanyi latar tersebut disampaikan ke penonton dengan baik oleh sutradara melalui interview dan pengakuan baik itu dari sudut pandang si penyanyi latar ataupun artisnya. Interview itu silih berganti hadir dengan rekaman-rekaman zaman dulu dari acara televisi dan konser. Juga yang mana dalam durasi satu setengah jam durasinya kita diiringi lantunan musik dan lagu jadul yang begitu asyik dari suara indah mereka.

Dijelaskan oleh Doug Blush, proses pembuatan film tersebut berlangsung selama dua tahun dan menghasilkan stok video 7 ribu menit.  Ditambahkan oleh Gough Blush, selama proses pembuatan film dokumenter tersebut terdapat 60 wanita penyanyi latar. Para penyanyi latar tersebut hampir semuanya berasal dari paduan suara gereja.

Masih menurut Doug Blush, Darlene Love dipilih salah satu tokoh utama dalam film, karena wanita tersebut memeliki perjuangan dan cerita hidup yang meninspirasi. Selain Darlene Love, para penyanyi latar lainya yang diangkat dalam film tersebut mewakili sejarah dan perjalanan para penyanyi latar.

“Tidak hanya bercerita mengenai kehidupan mereka secara pribadi sebagai penyanyi latar, film ini juga menceritakan bagaimana sebagai penyanyi berkulit hitam, mereka ikut berjuang dalam gerakan anti rasis dan isu-isu kemanusian,” ungkap Doug Blush.

Pemutaran film tersebut diselenggarakan oleh Sundance Institute bersama Kedubes Amerika Serikat yang menginisiasi sebuah program bernama Film Forward. Melalui program tersebut Sundance Institute bersama Kedubes Amerika Serikat melakukan screening film, workshop, dan diskusi film.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY