6th Okinawa International Movie Festival: Laugh & Peace Celebration

6th Okinawa International Movie Festival: Laugh & Peace Celebration

1205
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Kalau pernah menonton ‘The Karate Kid Part II’, Anda pasti tahu Okinawa yang dikisahkan sebagai pulau kelahiran Mr. Miyagi. Dikenal sebagai salah satu kepulauan dimana tradisi-tradisi lama masih dipegang erat, belahan dunia dengan penghuni berusia paling panjang sekaligus pusat kelahiran seni beladiri Karate, Okinawa International Movie Festival (OIMF) mungkin bukan hanya sekedar sebuah festival film. Memasuki usia ke-6 penyelenggaraannya, festival yang punya atmosfer sangat berbeda ini lebih merupakan sebuah selebrasi kebudayaan dalam eksistensi tradisi dan budayanya yang dikenal sangat unik.

Sejak perhelatan pertamanya di tahun 2009, festival yang diselenggarakan oleh Yoshimoto Kogyo, sebuah perusahaan entertainment terbesar Jepang yang berfokus di konten-konten komedi ini, seperti dikatakan presdir-nya, Hiroshi Osaki, tetap mengambil konsep Laugh and Peace, mempertahankan tradisi lokal penuh kedamaian lewat pagelaran musik, tari dan budaya lain bersama lineup film-film peserta dalam cakupan unik di genre drama atau komedi dari berbagai belahan dunia dan rata-rata merupakan film-film yang menawarkan tawa tapi punya esensi heartwarming cukup dalam. Tercatat diantara film-film yang pernah memenangkan award di tahun-tahun sebelumnya adalah Rab ne Bana di Jodi (India), Crazy Little Thing Called Love (Thailand) hingga The Artist (AS).

Dengan jargon mereka tahun ini, “All Things are Great in All The Island!”, konsep itu tetap dipertahankan dengan masuknya beberapa kategori baru. Tetap membidik sasaran audiens yang bukan hanya penyuka film tapi dari seluruh kalangan masyarakat, penyelenggaraannya jadi bagaikan perayaan di seluruh kota. Ekshibisi pasar film yang biasanya hanya jadi ajang perburuan distributor pun mendapat treatment lebih luas menjadi Laugh & Peace Town, dilengkapi dengan panggung hiburan dan aktifitas-aktifitas interaktif yang menjangkau semua kalangan usia.

Dari kawasan terbesarnya, Naha City dengan bioskop indie alternatif Sakurazaka dan Ginowan yang terkenal dengan pantai tropisnya, film-film yang masuk dalam kategori kompetisinya bersaing untuk memperebutkan Uminchu Grand Prix Award buat masing-masing kategori Laugh and Peace. Penghargaan tertingginya sendiri, Special Jury Prize, The Golden Shi-sa Award, mengacu pada Shi-sa, sosok mitos pelindung pulau, diberikan pada satu film terpilih dari dua kategori tadi.

Dewan juri tahun ini adalah sutradara veteran Sadao Nakajima yang dikenal lewat film-film yakuza dan jidaigeki (period era samurai dan shogun) sebagai ketua juri, kemudian ada produser asal Hong Kong Gary Tang, produser Jepang Yoko Narahashi, serta dari komisi museum Ginowan, Etsuko Higa dan kritikus film mereka yang paling dikenal, LiLiCo.

OIMF tahun ini sekaligus mencatat momen penting lewat gelaran Okinawa Contents Bazaar sebagai event pembuka festival. Dalam konferensi dan panel diskusi sehari penuh ini, Yoshimoto meresmikan penandatanganan kerjasama produksi serta distribusi mereka dengan sejumlah media besar Asia lain dari Astro Malaysia, TVB, anak-anak perusahaan di Thailand hingga Media Asia dan jaringan distribusi Content Land dari Hong Kong bersama konsultan-konsultan media AS.

Turut dihadiri oleh aktor Masi Oka (Heroes) dan sutradara Gordon Chan (head of film division Media Asia), seremonial kontrak kerjasama itu ditandatangani oleh Hiroshi Osaki, Peter Lam dari Media Asia dan Johnny Lau dari Content Land. Juga  mengakuisisi beberapa penyelenggaraan festival lokal termasuk Kyoto yang akan direvitalisasi besar-besaran tahun ini sebagai bagian dari ekspansinya, untuk memperkuat profilnya, OIMF pun menghadirkan sineas-sineas internasional yang membawa film mereka tak hanya untuk berkompetisi tapi juga merayakan event world premiere dan Japan premiere yang berlangsung bersama festivalnya.

Dari Korea Selatan ada sutradara Hwang Dong-hyeuk dan aktris Shim Eun-kyeung dari Miss Granny serta Kim Yong-hwa dari Mr. Go, keduanya masuk ke dalam kategori peace, dari Jerman ada aktor Elyas M’Barek dari Suck Me Shakespeer hingga Johnny Knoxville yang datang untuk Jackass presents Bad Grandpa yang juga masuk dalam kategori laugh. Aktor-aktor Jepang seperti Shidou Nakamura, Tatsuya Fujiwara dan aktris cilik Mana Ashida dari Pacific Rim dan komedian-komedian Yoshimoto sebagai deretan presenternya juga hadir dalam momen terbesar festival yang dibanjiri oleh lebih dari 50000 pengunjung, penyelenggaraan Red Carpet sepanjang 150 m yang digelar di dua tempat berbeda; di tengah-tengah pantai Ginowan dan Naha City pada awal dan menjelang akhir festival.

Di luar kategori kompetisi, beberapa world’s major production juga hadir ke dalam kategori Special Invitation untuk membuka penyelenggaraan festival. Selain Oh! Father, salah satu blockbuster lokal unggulan mereka tahun ini, ada Grudge Match dan The Secret Life Of Walter Mitty. Sementara di sesi Open Air Screening, kategori yang menawarkan pengalaman sinematis unik perlambang kebebasan dan keterbukaan lewat layar outdoor terbesar (berukuran 26.65 m x 14.76 m) yang diimpor dari Switzerland tahun ini menayangkan Gravity bersama dokumenter pedansa reggae lokal mereka dalam Jamaica Diary: An Unbelievable True Story.

Keunikan lain ada dalam kategori Creator’s Factory yang baru memasuki tahun ke-2nya. Menggagas kompetisi untuk video-video pernikahan di seluruh Okinawa atas ciri khas kesenian lokal tiap kawasannya, pesertanya akan bersaing untuk memperebutkan Best New Creator Award. Scene perfilman independen serta film pendek pun diberi tempat lewat kategori penayangan Community-based Movies dan kompetisi yang diberi nama Jimot CM Competition.

Bersama kategori-kategori itu, Yoshimoto Kogyo bekerjasama dengan AEON Cinemas juga membuka kompetisi baru untuk merayakan budaya sinema yang selama ini memang sangat berkembang di Jepang. Dibandrol nama TV Director’s Movie, kategori ini diisi oleh film-film produksi stasiun televisi yang bersaing memperebutkan piala Best Film, Actor dan Actress di mana film-film pemenangnya akan ditayangkan juga di seluruh jaringan bioskop AEON nantinya.

Dua kategori terakhir adalah Sakurazaka College Screening dan Special Screening. Bukan hanya terkenal dengan bioskop alternatifnya, universitas film Sakurazaka juga memilih beberapa film termasuk nominee Oscar Philomena bersama beberapa film lain untuk ditayangkan dalam bentuk edukasi, di mana para pengamat serta dosennya akan membahas langsung film-film yang diputar dari berbagai segi filmis secara mendalam. Sementara sesi Special Screening menggelar penayangan film-film komedi klasik Jepang dan dunia termasuk pemenang Oscar The Sting (1973), Duck Soup (1933) dari The Marx Brothers.

Film-Film Peserta Pilihan

One Third (2014, Japan/Hiroshi Shinagaki – Laugh Competition)

Meraih penghargaan tertinggi OIMF tahun ini, film ketiga sutradara dari smash hit Manzai Gang a.k.a. Slaspstick Brothers (2011) ini, diangkat dari novel terkenal Sanbunnoichi karya Hanta Kinoshita. Dibintangi Tatsuya Fujiawara bersama ensemble cast yang rata-rata cukup dikenal, dalam tradisi film-film Tarantino yang juga dijadikan referensi kuat untuk membangun karakternya, ini adalah sebuah dark heist comedy perampokan bank yang sangat energik dan penuh kegilaan, sama seperti komposisi jazz theme song-nya yang serba complicated, Triad, dari Japanese jazz duo Pia-no-Jac.

Miss Granny (2014, Korea/Hwang Dong-hyeuk – Peace Competition)

Banting stir dari film-film bertema sosial yang sangat depresif, sutradara Hwang Dong-hyeuk membesut romcom fantasy dengan aktris utama Shim Eun-kyeung dari Sunny. Tema nenek berusia 74 tahun yang seketika kembali ke sosok 20-an tahunnya sendiri tak lantas tergelincir jadi sekedar komedi tapi dalam tradisi film-film tearjerking Korea, juga memuat refleksi penting tentang memori, keluarga dan pilihan-pilihan hati. Miss Granny memenangkan Uminchu Grand Prix untuk Laugh Category.

The Round Table (2014, Japan/Isao Yusikada – Peace Competition)

Merupakan adaptasi novel terkenal Entaku dari Kanako Nishi, The Round Table adalah bentuk kiprah Mana Ashida dalam lead performance yang sangat charming. Membawa penontonnya masuk ke kepolosan pikiran seorang anak dari suku Hyogo dan dialek Kansai-nya yang khas, berhadapan dengan kehidupan sosial barunya dalam memandang dunia, film arahan Isao Yusikada ini jauh lebih ketimbang sebuah film anak biasa.

Suck Me Shakespeer (2013, German/Bora Dagtekin – Peace Competition)

Film terlaris di Jerman tahun lalu, film berjudul asli Fack ju Göhte yang berkisah tentang seorang bekas napi yang terpaksa menjalani tugasnya sebagai guru pengganti bagi murid-murid aneh ini sekilas terasa sangat sinis dan nakal dengan dialog-dialog rapidfire-nya. Namun dibalik gelaran tawa juga ada pertanyaan moral yang serius tentang integritas dalam sebuah sistem pendidikan. Brassily funny and sexy, too.

Fuku-chan of Fukufuku Flats (2014, Japan/Yosuke Fujita – Peace Competition)

Biar berjudul Fuku-chan, ini bukan adaptasi langsung dari tokoh komik strip populer klasik populer mereka, namun sangat terasa masih diwarnai referensinya. Diperankan komedian wanita Miyuki Oshima, karakter Fuku-chan, lajang gendut – lugu yang seketika harus kembali berurusan dengan trauma masa lalu akibat kehadiran highschool crush-nya (Asami Misukawa dari Dark Water)  menjadi spesial. Menghindari ranah klise film-film sejenis, Fuku-chan of Fukufuku Flats menjadi heartfelt dramedy lewat karakter-karakter down to earth yang sangat manusiawi. Film Jepang pertama yang di-ko-produksi Inggris, Italia, Jerman dan Taiwan dengan rencana distribusi luas sekaligus membuka Udine’s Far East Film Festival barusan.

Daftar Pemenang OIMF ke-6 :

Jimot CM Prefectures of Japan Grand Prize: Re:born.K (Kagawa)

Jimot CM Municipalities in Okinawa Grand Prize: Zamami Village (Okinawa)

Best New Creator Award: Koji Fukada untuk Inabe

Best Film TV Director’s Movie: Love Session (sutradara Eiji Itaya)

Best Actor & Actress: Shidou Nakamura dan Manami Konishi dalam film Furiko

The Uminchu Grand Prix for Laugh Category: Ultrafest! Sankinkotai (Jepang/Katsuhide Motoki)

The Uminchu Grand Prix for Peace Category: Miss Granny (Korea/Hwang Dong-hyeuk)

Special Jury Prize/The Golden Shisa Award: One Third (Jepang, Hiroshi Shinagawa)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY