AFI 2015: “Mewujudkan Nawa Cita Melalui Film Indonesia”

AFI 2015: “Mewujudkan Nawa Cita Melalui Film Indonesia”

2378
SHARE

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menggelar ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI). Ajang yang sudah memasuki tahun ke-4 tersebut kata Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi, menjadi bukti yang menegaskan pentingnya memberikan apresiasi pada budaya sinema Indonesia.

“Apresiasi atau penghargaan pada budaya sendiri, pada karya sendiri, pada sinema-sinema karya anak bangsa, sehingga pada akhirnya bisa memacu kreativitas generasi muda kita untuk memajukan dunia sinema Indonesia,” jelas Sekjen pada lauching AFI 2015 yang lalu.

Menurut Sekjen,  budaya sinema sesungguhnya mencakup dimensi yang luas, tak sekedar produksi film. Tetapi juga komunitas yang menghidupkan film. Festival yang merayakan film hingga kritik maupun kajian akademis yang menakar bobot sebuah film.

Perhelatan AFI 2015 ini mengangkat tema “Mewujudkan Nawa Cita Melalui Film Indonesia”. Didik berharap melalui AFI 2015, produk film Indonesia bisa menerjemahkan program-program Nawa Cita, yaitu menjadi media yang mampu melakukan revolusi karakter dan memberikan pemahaman serta perubahan pola pikir masyarakat, membangun karakter bangsa, memperteguh kebhinnekaan dan mengangkat kearifan lokal, meningkatkan kreativitas sineas Indonesia, menjadi sumber pendapatan dari ekonomi kreatif dan sektor strategis domestik sehingga mewujudkan kemandirian ekonomi, mendukung pembangunan sektor lain seperti pariwisata, serta meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia.

Ketua Dewan Juri AFI 2015 Budi Irawanto mengatakan, AFI adalah satu-satunya festival di Indonesia yang memberi penghargaan kepada festival film. Kata apresiasi merupakan penghargaan pada berbagai macam ikhtiar di perfilman Indonesia secara umum. Hal yang membedakan dengan Festival Film Indonesia, AFI menekankan kepada film komersial dan nonkomersial atau art house yang menonjolkan aspek edukasi serta nilai-nilai luhur bangsa.

“AFI memberi apresiasi kepada budaya sinema dan tak hanya memilih film-film berdasarkan kategori semata. Budaya sinema itu luas, termasuk kritik dan kajian film. Ini akan membentuk corak perfilman kita. Oleh karena itu, bobot dari nilai edukasi menjadi penting,” kata Budi, pegiat film berbasis komunitas dan pengajar di Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Ketua Panitia Penyelenggara AFI 2015 Abdullah Yuliarso menambahkan, film-film yang disaring di AFI 2015 adalah semua film yang masuk ranah industri dan film komunitas. AFI lebih terbuka kepada masyarakat luas. “Film yang tidak bisa diputar di bioskop bisa masuk AFI,” ujar Dudung, panggilan Abdullah Yuliarso

Rangkaian program AFI 2015 juga dimeriahkan dengan Lomba Cipta Lagu AFI, yang terbuka untuk umum. Pendaftaran peserta dimulai dari bulan Agustus sampai September 2015, penjurian pada bulan Oktober 2015. Syarat lagu yang bisa diikutsertakan dalam lomba ini adalah memuat konsep dasar penghargaan atau Apresiasi Film Indonesia yang berbasis nilai budaya, kearifan lokal, dan pembangunan karakter bangsa dan liriknya menggaungkan Piala Dewantara.

Puncak acara AFI 2015 diselengarakan di Benteng Fort Rotterdam Makassar dengan melibatkan para artis, pejabat dan instansi terkait lainnya di kota tersebut. Kegiatan diawali dengan pawai artis, kunjungan artis ke sekolah, pameran, workshop, pada tanggal 23 Oktober 2015 dan pada tanggal 24 Oktober 2015 adalah “Malam Penganugerahan Apresiasi Film Indonesia Tahun 2015”.

AFI tahun ini kata Dirjen Kesenian dan Perfilman Kemendikbud, Endang Caturwati, mengambil 17 kategori dengan 14 penghargaan utama. Adapun 14 penghargaan utama tersebut antara lain apresiasi film fiksi panjang, apresiasi film fiksi anak, apresiasi film fiksi pendek kategori umum, apresiasi film fiksi pendek kategori pelajar, apresiasi festival film dan sebagainya. Sedang untuk penghargaan inspiratif terdiri atas 3 kategori yakni apresiasi Adi Karya, apresiasi Adi Insani dan kajian akademik tentang film.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY