Aktivasi Penonton Film Pendek

Aktivasi Penonton Film Pendek

1065
SHARE
Lulu Hendra Komara (kiri) dan Fahrul Ayunki (kanan) ketika diskusi film pendek di Komunitas Rumahkami). Keduanya adalah sutradara film 'Toilet' yang menjadi nominasi Festival Film Solo 2012

Semakin besar euforia pembuat film dalam memproduksi film pendek, maka semakin banyak festival film pendek yang bisa dijumpai saat ini. Otomatis akan semakin banyak pula ruang diskusi film yang dibentuk oleh para pecinta film. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa insan-insan yang terlibat dalam industri ini berlomba-lomba untuk memajukan perfilman di Indonesia. Bagi anak muda yang gemar membuat film, film pendek menjadi wadah ekspresi diri secara positif dan kreatif. Tapi sangat disayangkan jika kerja kolektif tersebut masih sulit di apresiasi oleh masyarakat Indonesia secara umum.

“Apakah film pendek hanya berakhir pada festival? Bagaimana film pendek dapat dinikmati oleh masyarakat umum selain Film Maker itu sendiri?” inilah pertanyaan Arif Kurniar Rahman  atau akrab disapa Jeki pada diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas RumahKami beberapa waktu lalu di kawasan Tembi, Yogyakarta.

Kegiatan ngobrol film di Komunitas RumahKami ini dilakukan rutin setiap bulannya. Forum ini juga menjadi wadah apresiasi film pendek di Yogyakarta. Bulan ini film-film yang diputar dan didikusikan adalah ‘Sedekah A Kiong’. Film karya sutradara Jeki ini menjadi Juara II pada Festival Film Menpora 2013 lalu. Selanjutnya adalah film  berjudul ‘Toilet’ yang menjadi nominasi Festival Film Solo 2012. Sutradara film ini Lulu Hendra Komara dan Fahrul Ayunki adalah alumni FSMR ISI Yogyakarta yang aktif membagi ilmu  film di Kutai Kertanegara, Kalimantan.

Pada diskusi usai pemutaran digelar, bisa dirasakan bahwa kedua sutradara memiliki gaya bercerita yang berbeda dalam menyampaikan narasi cerita. Lulu mengatakan bahwa ketika ‘Toilet’ diproduksi 2011 lalu, banyak sekali yang ingin ia tumpahkan dari pemikirannya, terutama dari buku-buku yang ia pelajari saat itu.

Sedangkan secara lebih luas, Jeki mengungkapkan bahwa jika dikonsumsi oleh banyak orang secara intens, maka sebuah tontonan akan mejadi aktif, misalnya Sinetron atau film-film yang beredar di bioskop. Lalu bagaimana nasib film pendek yang tidak menang dalam festival. Apakah film pendek hanya untuk festival?

“Sedangkan membuat film juga butuh dana yang besar,” ujar sutradara yang juga mahasiswa Pasca Sarjana jurusan Sastra UGM ini.

Mandela Madjid sebagai pembicara malam itu juga mengatakan bahwa film itu memiliki pemetaan masing-masing, begitu juga festival film pendek. Yang masih tergantung kebutuhan festival itu sendiri. Dosen FSMR ISI Yogyakarta yang juga pengiat film Indonesia ini menambahkan jika film pendek ingin bisa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, dibutuhkan kerjasama antara produser dan sutradara. Hal ini agar film tersebut dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum dengan dengan tepat, “Karena masing-masing sutradara memiliki cara untuk menyampaikan ide dan gasasan melalui sebuah karya,” ujarnya.

Mandela menambahkan bahwa perkembangan teknologi saat ini tentunya memudahkan kreator untuk membuat film. Namun hal ini belum tentu menjadikan semakin banyaknya film pendek yang dibuat, juga semakin banyak film pendek yang berkualitas secara cerita. “Selera Penonton juga semakin beragam, jadi ketika sutradara ingin membuat sebuah karya, kerja produser adalah perlu memikirkan peta selera penonton pada zamannya,” ungkapnya.

Sebagai moderator, Eka Nusa Pertiwi menutup diskusi bahwa jika berbicara tentang sebuah karya, maka tidak terlepas dari uniti dan pencitraan. Menurut satu di antara pendiri Komunitas RumahKami ini film yang unik itu memiliki tema yang berkualitas, dan disampaikan dengan cara sederhana. Malam itu diskusi tersebut dihadiri oleh 20 orang. Mereka berasal dari kalangan sastra dan pembuat film Pendek. Lewat diskusi ini Eka berharap agar semakin banyak film pendek yang berkualitas dan mendidik, terutama agar film pendek mendapat apresiasi lebih besar oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY