Asal Kau Bahagia: Romansa Fantasi Syahdu dan Mengharu Biru

Asal Kau Bahagia: Romansa Fantasi Syahdu dan Mengharu Biru

266
SHARE

ASAL KAU BAHAGIA

Sutradara: Rako Prijanto

Produksi: Falcon Pictures, 2018

Tak banyak mungkin film Indonesia yang digagas berdasarkan lirik lagu. Selain punya persyaratan mutlak harus populer dan datang dari band terkenal, sayangnya, sebagian dari segelintir judul itu tak diimbangi dengan hasilnya sehingga seringkali pupus begitu saja. Belum lagi yang hanya terkesan meminjam judul lagu tanpa benar-benar bisa dianggap sebagai adaptasi lirik yang solid. Asal Kau Bahagia yang datang dari lagu hit milik band Armada berjudul sama ini mungkin berbeda.

Ide cerita yang diangkat Upi kemudian dituangkan ke skrip olehnya bersama Aline Djayasukmana (Teman Tapi Menikah, film hit Falcon di trimester pertama tahun ini) terlihat lebih mendalam dalam menginterpretasikan lirik aslinya ke atas sebuah tema soal insecurity (maaf, tak ada kata insekuritas dalam panduan KBBI kita) dalam sebuah hubungan. Dengan template kisah cinta remaja mengharu-biru yang diarahkan Rako Prijanto – sineas yang sudah teruji di kotak serupa dalam Ungu Violet (2005) dan dibintangi aktor-aktor idola seperti Aliando Syarief, Aurora Ribero dan Teuku Rassya, ini jelas menjadi komoditas produknya yang menjanjikan.

Lantas, mari bahas pula ruang kanvasnya. Asal Kau Bahagia yang masuk ke dalam subgenre comatose (atau comatous; bentuk archaic-nya) romance, sebut di antaranya; Just Like Heaven, If I Stay atau di film kita; Langit Ke-7 karya Rudy Soedjarwo, 2012, atau Tapi Bukan Aku (2008, Irwan Siregar – juga diangkat dari lagu Kerispatih berjudul sama namun tak banyak diingat orang dan gagal pula secara kualitas), untungnya bisa keluar dari trope genre dengan hanya sekadar menggunakan template comatose atau out-of-body experience tadi sebagai elemen. Mencampurkan sedikit motif fantasinya dengan subgenre berdekatan seperti film romansa legendaris Ghost (1990, Jerry Zucker), plotnya memang terasa fresh tanpa terkesan sebagai pengikut dalam konteks-konteks aji mumpung. Tetap, yang muncul lebih tebal adalah motivasi dan kausa ketimbang dinamika plot-nya.

2 tahun menjalin hubungan pacaran, Aliando (Aliando Syarief) selalu merasa insecure terhadap pasangannya, Aurora (Aurora Ribero) hingga suatu ketika sebuah kecelakaan terpaksa memisahkan mereka. Namun tak seperti raganya yang harus terbaring dalam keadaan koma, sukma Aliando melanglang menyaksikan sekitarnya sambil berusaha mengungkap rahasia yang tak pernah ia duga, sementara satu-satunya yang bisa menolong adalah sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana).

Walau bergerak di trope subgenre comatose romance tadi, Asal Kau Bahagia tak pernah kehilangan pijakan dari duet penulisan skrip Aline dan Upi yang membawa elemen-elemen pengisahannya ke ranah berbeda. Ini seperti bercerita di atas template yang tak lagi baru tapi secara cermat bisa ke luar dari banyak kesamaan atas lirik sumber inspirasinya, sementara tone penyutradaraan Rako meredam fantasinya agar terasa lebih universal sebagai sebuah kisah cinta yang sangat teen-oriented. Keputusan menggunakan nama karakter sesuai aslinya seperti dulu sering kita dapatkan di film-film Indonesia ’70an juga muncul cukup kreatif buat tampil beda.

Di atas plot itu, salah satu kekuatan utamanya tentulah datang dari star power yang memang dijadikan jualan terdepan oleh Falcon. Aliando, aktor muda yang naik daun dari sinetron Ganteng-Ganteng Srigala dalam penampilan layar lebar terbaiknya bisa membentuk chemistry yang erat dengan Aurora Ribero, aktris muda yang sudah tampil di dua film sebelumnya; Susah Sinyal (2017) dan R: Raja, Ratu & Rahasia tahun ini. Ada tantangan besar yang sangat terasa dalam bentukan karakter dan empati penonton yang sewaktu-waktu bisa sangat terdistraksi dari guliran plotnya, namun bisa disiasati oleh skrip tadi dengan cukup baik, sementara kejutan terbesar justru datang dari pairing mereka dengan Dewa Dayana; debut putra Gusti Randa – Nia Paramitha yang di sini dijadikan comic relief. Mencairkan konflik-konflik romansanya dengan selipan komedik yang terasa lepas, Dewa mampu membentuk dinamika racikan resepnya sebagai sebuah romansa remaja yang hidup dan sangat mengalir. Masih ada juga dukungan dari Teuku Rassya dan sederet pemain senior seperti Surya Saputra, Vonny Cornellya dan Verdi Solaiman, di antaranya.

Selebihnya adalah kelebihan teknis yang membuat keseluruhan tampilan Asal Kau Bahagia terasa ada di kelas value produksi yang tak sembarangan. Sinematografi Hani Pradigya secara konsisten meletakkannya di atas atmosfer breezy yang sejalan dengan turnover haru-biru penceritaan itu bersama penyuntingan Aline Jusria, sementara mengiringi theme song hit inspirasinya – yang juga hadir lewat rendisi cantik dari versi yang dibawakan Wizzy, scoring dari Stevesmith Music Production juga dengan baik menambah rasa yang dibutuhkan dengan pas. Semua sisi teknis ini harus diakui hadir dengan baik.

Tapi hal terbaik dari Asal Kau Bahagia, kalau mau melihatnya secara lebih dalam – memang ada di inovasi Upi, Aline Djayasukmana dan Rako membentuk motivasi-motivasi dalam bentukan plot-nya sebagai genre romansa fantasi. Di situ, esensi lirik asli Armada soal cinta, insecurity, pengorbanan, dan soal letting go, tergelar dengan interkoneksi yang baik antara karakter dan konflik-konfliknya, juga terjaga di atas sebuah tuntutan lebih dalam pemahaman terhadap selipan-selipan twist-nya yang cukup berlapis namun tetap secara keseluruhan terasa cukup ringan. Ada punch-punch emosional yang potensial buat target pemirsanya untuk membuat Asal Kau Bahagia menjadi sebuah tontonan penuh rasa yang juga tepat sasaran, dan itu artinya berhasil. Di antara banyak film cinta konsumsi remaja yang sekadar lewat saja, Asal Kau Bahagia jelas bukan ada di kotak yang sama. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY