“BEBAN PALING SUSAH ADALAH MEMPERTAHANKAN APA YANG SUDAH KITA CAPAI” – OBROLAN...

“BEBAN PALING SUSAH ADALAH MEMPERTAHANKAN APA YANG SUDAH KITA CAPAI” – OBROLAN SANTAI DENGAN SUTRADARA DILAN 1990 FAJAR BUSTOMI DI OKINAWA INTERNATIONAL MOVIE FESTIVAL KE-10

159
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Sejak diselenggarakan pertama kali oleh Yoshimoto Kogyo, salah satu pemain terbesar industri komedi di Jepang di tahun 2009, Okinawa International Movie Festival (OIMF) memang mengusung pakem berbeda dengan festival film internasional lainnya. Bertema Laugh and Peace, line up film-filmnya lebih mengedepankan genre drama atau komedi namun punya penekanan lebih di soal penggambaran budaya dari masing-masing negaranya. Film-film seperti The Hangover, Bridesmaids, Attack the Block, Rab Ne Bana di Jodi, Bangkok Traffic Love Story, Crazy Little Thing Called Love, misalnya – merupakan film-film yang pernah mengisi lineup selain film-film komedi klasik dari Drunken Master sampai Airplane! yang mendapat segmen tersendiri. Meski begitu, tercatat sejumlah insan film internasional yang pernah menghadiri festivalnya; baik sebagai juri atau tamu spesial adalah Joel Schumacher, Jerry Zucker, Michael Hui dan Johnny Knoxville, di antaranya.

Beberapa tahun belakangan, OIMF bergerak semakin kuat ke konten lokal sekaligus platform untuk pemasaran film-film produksi Yoshimoto dengan event-event budaya pendamping festivalnya dari tari, film pendek lokal hingga konser musik di atas tujuan utama mengembalikan Okinawa sebagai salah satu pusat industri hiburan Jepang. Sementara tetap menjadi fokus dari film-film luar Jepang adalah film-film yang tengah menjadi trend di berbagai negara. Dari Indonesia, setelah Assalamualaikum Beijing (2014) dan Hangout (2016), tahun ini ada Dilan 1990 yang mendapat kehormatan untuk ditayangkan di festivalnya bersama film layar lebar tokusatsu Indonesia Satria Heroes yang diproduksi Reino Barack dengan dukungan Jepang termasuk aktor laga legendaris Yasuaki Kurata sebagai stunt coordinator-nya.

Diwakili oleh sutradara Fajar Bustomi, Dilan 1990 yang ditayangkan di Sakurazaka Theater Jumat, 21 April 2018 mendapat sambutan cukup meriah dari audiens Jepang. Sebagai invited journalist yang menghadiri festivalnya untuk kali kelima, saya menyempatkan untuk menggelar obrolan santai – lebih dari exclusive interview yang kesannya mungkin akan lebih kaku, bersama Fajar, mengulik kiprahnya mengkomandoi 15 film di perfilman Indonesia selama 10 tahun dan tentu saja, Dilan 1990.

Berikut adalah petikan bincang-bincang santai bersama Fajar Bustomi di Sakurazaka Theater seusai penayangan Dilan 1990.

Sebagai sineas lulusan IKJ, mas Fajar memulai debut penyutradaraan layar lebar lewat film Best Friend (2008). Setelah itu nama Fajar Bustomi seakan menghilang nih, dan baru muncul 5 tahun kemudian di Slank, Nggak Ada Matinya (2013). Apa yang membuat mas Fajar vakum sekian lama?

Best Friend film pertama saya. Waktu itu saya disupervisi oleh mas Hanung Bramantyo. Tapi hasil perolehan penontonnya tidak begitu banyak, sekitar 200.000-an penonton.

 

Sudah cukup banyak mungkin ya dibanding banyak film sekarang yang mencapai 100.000 penonton saja cukup sulit…

Ya tapi waktu dulu cukup banyak film yang mencapai angka box office 1 juta penonton. Dan cukup sedih karena waktu itu Best Friend berbarengan rilisnya dengan Tiren (Mati Kemaren), kalau saya tidak salah, yang pencapaiannya 1 juta penonton. Terus banyak orang bilang saya gagal dengan standar kesuksesan 1 juta penonton saat itu dan terus terang merasa trauma. Merasa gagal, saya akhirnya beralih ke iklan dan video klip. Sampai akhirnya tahun 2013, saat saya mengerjakan video klip Slank, Bimbim Slank menawarkan sesuatu pada saya. Katanya waktu itu,”Jar, bikin sesuatu dong buat ulang tahun Slank”. Kerinduan saya tidak syuting film layar lebar setelah 5 tahun lantas membuat saya mengiyakan. Kado ulang tahun dari saya, yang memang dari dulu adalah Slankers dan sering ngumpul bareng bersama mereka, adalah menyutradarai biopic Slank tadi. Apalagi saat itu industri video klip juga sedang hancur karena RBT tidak jalan dan banyak penyebab lain, ya jalan satu-satunya adalah kembali ke film layar lebar. Hanya saja, mindset saya saat kembali ke film sebenarnya agak salah. Awalnya saya berpikir kalau film dibuat hanya semata membuat produser untung sehingga saya bisa eksis oleh kepercayaan mereka. Untuk itu kadang kita harus rela melakukan kompromi yang sebenarnya saya tahu hasilnya akan buruk seperti memotong bujet dan sebagainya. Itu sebenarnya dosa-dosa saya dalam karir hingga di tahun 2016 saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan salah dan kalau diteruskan korbannya adalah film Indonesia sendiri. Sementara saya nggak bisa melakukan yang lain selain membuat film karena sejak lulus SMA satu-satunya pendidikan yang saya kejar adalah IKJ. Saya ingin lewat film yang saya buat saya bisa membanggakan diri saya sendiri, orangtua dan banyak orang. Akhirnya saya datang ke Falcon dan sangat berterima kasih karena mereka memberikan Surat Kecil Untuk Tuhan buat saya. Falcon benar-benar mensupport saya dengan bujet serta tim yang layak untuk sebuah produksi yang bagus. Panjang banget ya… (tertawa)

 

Oke enough soal background, sekarang mari kita bergerak ke Dilan 1990 karena memang ini bintangnya nih di OIMF. Nah yang saya dengar yang awalnya pengen banget mengadaptasi Dilan 1990 ke film itu mas Fajar sendiri. Apa kira-kira yang dilihat dari konten novelnya sehingga mas Fajar ingin membuat adaptasinya?

Oh itu begini ceritanya. Genre yang saya sukai, yang dari awal bikin saya masuk ke film memang film remaja. Inspirasinya sebenarnya sangat biasa, film Bintang Jatuh (Rudy Soedjarwo) yang saya tonton saat saya masih kelas 2 SMA. Yang ada di benak saya adalah wah ini seru bikin film independen seperti ini. Teknis kita lupakan, tapi rasanya luar biasa. Nah sampai akhirnya saya baca Dilan, saya merasakan ada yang luar biasa dari novel remaja ini. Ketika saya memutuskan saya mau berubah dan mulai bikin hanya film yang bagus, saya akhirnya menjumpai beberapa produser. Ada PH yang mau mengontrak saya secara eksklusif, saya jawab saya mau dikontrak secara eksklusif, dengan bayaran berapapun yang ditawarkan, asal saya bisa bikin film Dilan. Sayangnya PH itu akhirnya tidak mendapat rights novelnya karena penulisnya (Pidi Baiq) mau menyutradarai sendiri. Saya sempat melupakan Dilan karena sadar sudah ada orang lain yang mau buat, tapi ini lantas seperti kebetulan karena ketika saya bergabung di Falcon Pictures, ternyata Pak Naveen dan Pak Ody justru menawarkan saya menyutradarai Dilan. Ini cukup mengejutkan saya karena sebelumnya saya sudah tahu bahwa Dilan yang sudah sempat melakukan press con akan digarap oleh sutradara lain; ada nama Rizal Mantovani dan Monty Tiwa. Saya senang sekali, pastinya. Menurut saya banyak kisah remaja tapi Dilan ini berbeda. Dia mengajarkan remaja untuk menjadi Dilan dengan caranya sendiri. Dilan datang ke wanita yang dia sukai bukan semata untuk membuat wanita menyenangi dia tapi dia ingin membahagiakan wanitanya. Saya melihat karakter cowok yang berbeda dari cerita-cerita remaja yang lain, yang memberi simbol romantis lewat sesuatu yang mewah atau yang biasa seperti bunga, misalnya. Dilan tidak seperti itu. Saat gebetannya ulang tahun yang dia berikan adalah TTS, tapi niat dia memberikan TTS yang sudah diisi. Dilan menurut saya adalah karakter yang positif, bahkan ke soal melawan guru karena Dilan datang dari keluarga guru (ibu dan kakaknya adalah guru). Namun ketika dia merasa gurunya mengajarkan sesuatu yang salah dan memberikan contoh yang tidak baik, dia melawan. Saya merasakan ada koneksi karena saya sudah berkeluarga dan punya anak. Saya punya kekhawatiran terhadap ajaran yang salah dan ingin anak saya nanti bisa belajar dari Dilan. Banyak lagi hal yang buat saya menarik soal Dilan.

 

Soal proses kreatif saat produksi Dilan, di luar selentingan-selentingan yang ada, apakah dari awal sebenarnya ada batasan masing-masing dalam kolaborasi mas Fajar menempati kursi sutradara berdua dengan Pidi Baiq?

Oke ini harus saya luruskan. Bukan ribut-ribut seperti yang diisukan, yang ada sebenarnya adalah berdebat demi kebaikan filmnya sendiri. Sejak saya diajak untuk mendampingi Pidi sebagai sutradara, kesepakatannya adalah Pidi Baiq ikut menentukan konten cerita dan soal latar set Bandung yang memang lebih dimengerti oleh Pidi lewat input-input yang baik. Begitu juga dengan pemilihan karakter dan cast, itu harus lebih dulu lewat ACC mas Pidi. Untuk konten, Pidi sebagai pembuat cerita jelas adalah orang yang paling tahu bentukannya seperti apa. Nah untuk teknis film, struktur penceritaan hingga editing, atas pengetahuan film saya dengan Pidi yang tentu berbeda, itu ada di ruang yang diberikan pada saya. Pidi buat saya merupakan seniman yang sangat idealis dan saya mengerti bahwa sebagai karyanya, Dilan seperti anak buat Pidi. Bahwa saat ada bagian yang harus dikompromikan untuk menyingkat novel berjumlah halaman 370an halaman ke dalam film berdurasi 2 jam, saya bisa merasakan kekhawatiran Pidi. Tapi kami sama-sama sayang dengan source-nya karena saya juga sangat ngefans dengan Dilan. Di sisi lain, produser juga tentunya punya peran dan kita berdebat untuk menyelesaikannya secara musyawarah dan mufakat. Sejauh yang saya kenal Pidi sangat care dengan Dilan, selalu ada di lapangan, melihat master shot dan memberikan banyak sekali input yang menurut saya baik untuk filmnya.

Mas Fajar juga sebelumnya sudah punya pengalaman membuat film dengan latar set dan artistik tahun ‘90an di Slank Nggak Ada Matinya. Begitu juga di Dilan. Kira-kira saat di lapangan seperti apa tantangan dan kesulitannya?

’90 di Dilan adalah Bandung ‘90an, berbeda dengan Slank. Ini yang saya rasakan bahwa saya sangat membutuhkan Pidi karena dia memang hidup di zaman itu di tengah latar yang digagasnya sendiri. Kalau Slank memang saya kuasai karena memang saya Slankers dan sering nongkrong di Potlot. Di Slank semuanya jadi lebih gampang karena Bimbim memang orang yang sangat telaten menyimpan pernak-pernik dan printilan jadulnya. Saya malah sempat dikasih 2000 kaset dan disuruh nonton. Di Dilan mungkin bahan risetnya lebih terbatas tapi Pidi memang adalah orang yang paling tahu dengan scene tahun ‘90an dibantu dengan sejumlah riset tambahan seperti mengulik kembali tampilan-tampilan icon ‘90an seperti Michael Jackson di era itu.

 

Kalau untuk pemilihan soundtrack, yang juga jadi salah satu elemen terbaik di Dilan 1990, ada di ranah siapa?

Itu ada di ranah Pidi, Cuma spotting-nya ada di saya. Pidi memberikan saya buku dan CD lagu, hanya yang menentukan spotting-nya di film, di mana lagunya harus diletakkan, itu ada di ranah saya.

 

Di luar kekuatan yang disebutkan soal Dilan tadi, novelnya sebenarnya tidak punya banyak konflik dan ini pendapat pribadi bahwa saya melihat di filmnya ada beberapa konflik yang sudah dicoba untuk dimulai tapi tidak dikembangkan. Apakah mas Fajar menyadari soal ini dari awal dan kira-kira ada atau tidak usaha untuk menampilkannya lebih dari sekedar soal romance untuk dituangkan sebagai film?

Begini. Hal apapun, yang tidak menarik sekali pun, kalau kita tahu kekuatannya ada di mana, yang bisa menggerakkan orang menjadi suka, kita mudah-mudahan bisa membuatnya menjadi sukses. Saya melihat kekuatan Dilan ada di quotes dan dialog-dialog serta cara dia mendekatkan diri pada Milea. Struktur cerita yang memang kalau mau dibilang datar itu memang punya kekuatan di hal lain. Satu lagi, gambaran karakter-karakter Dilan saat saya baca novelnya menurut saya punya keunikan bahwa Pidi memang tidak membuat gambaran baik atau jahat, salah atau benar di luar soal mereka adalah karakter-karakter yang berbeda. Nandan, Beni, Kang Adi, misalnya, ini hanya karakter yang terbangun dari orang tua dan lingkungannya. Saya mencoba membuat film ini juga tanpa adanya gambaran atau judgment hitam putih, setia kepada source-nya berdasarkan patokan yang ada. Tidak lari dari buku, juga untuk kedekatan penonton yang selalu mencari karakter yang dekat dengan diri mereka. Ada juga sisipan-sisipan politik dari Pidi yang diselipkan. Saya juga sempat berdebat soal bagian Dilan memukul guru. Buat saya itu bukan perlakuan yang baik, tetapi lagi, kita mungkin harus lihat prosesnya, apalagi ibu dan kakaknya Dilan adalah guru, sehingga akhirnya saya berani menuangkan adegan itu.

 

Ya itu sebenarnya juga yang ingin saya tanyakan, tapi sudah terjawab.

(Tertawa)

 

Salah satu yang membuat mas Fajar ingin masuk ke film adalah film remaja. Ini kebetulan pas banget sama yang mau saya tanyakan sejak awal. Sebagai sineas yang memang suka film remaja, kira-kira gambaran film remaja paling ideal menurut mas seperti apa?

Gambaran idealnya…. begini. Ada sejumlah film-film remaja yang saya sukai dan memberi influence buat saya selain Bintang Jatuh tadi. Salah satunya adalah Usia 18-nya pak Teguh (Teguh Karya). Saya suka banget film itu dan menurut saya gambaran ideal film remaja adalah bahwa film itu harus punya kedekatan sama remaja sebagai subjeknya, juga tidak berjarak. Remaja menurut saya adalah usia di mana hormon kita sedang bergejolak, salah satunya untuk rasa suka terhadap lawan jenis. Untuk menggambarkannya, kisah-kisah cinta remaja ini mestinya bisa menjadi sesuatu yang positif dan membanggakan mereka ketika dikenang saat usianya tak lagi muda, seperti misalnya penonton-penonton yang dulu menonton Ada Apa Dengan Cinta? dan tetap mengenang kebaikannya hingga sekarang. Pendeknya menurut saya tontonan buat remaja itu harus memberikan kesan yang baik buat mereka sendiri sebagai sasarannya. Saya juga suka sekali dengan Catatan Akhir Sekolah-nya mas Hanung.

Saya melihat dalam karir mas Fajar ada proses-proses kebetulan yang mungkin boleh disebut sebagai serendipity. Bahwa minat dan kesempatan yang didapat saling mengakomodir karya-karya itu. Sebagai Slankers, ditawari Slank Nggak Ada Matinya. Saat ingin berubah jadi lebih serius dan baik, di luar pemasaran yang menurut saya salah untuk filmnya yang dipromosikan sebagai film anak padahal kontennya sangat dewasa walau bicara soal anak, Surat Kecil Untuk Tuhan datang. Lantas masuk ke film karena menyukai film remaja dan fans novel Dilan, sekarang mendapat kesempatan untuk menyutradarainya. Kira-kira adakah genre lain yang ingin dijajal ke depannya? Superhero misalnya, seperti Jagoan Instan?

Bagi saya, superhero kayanya cukup sekali. Saya merasa genre superhero tidak dekat dengan Indonesia dan mungkin karena kegagalan saya di Jagoan Instan, iya saya merasakannya sebagai kegagalan dan saya selalu belajar dari kegagalan untuk melihat wilayah yang tidak seharusnya saya masuki. Saya merasa genre superhero bukan wilayah saya. Begitu juga action, terus terang saya takut nonton The Raid kalau tidak diajak sama astrada saya di Dilan. Kalau yang lain, mungkin bukan soal genre, tapi saya ingin sekali membuat film untuk ibu saya dan membanggakan beliau, kampung juga agama saya sendiri. Kemarin saya ditawarkan Falcon Pictures yang berkolaborasi dengan Starvision untuk membuat film Buya HAMKA. Belajar lewat 15 film yang sudah saya buat, saya tidak lagi ingin membodohi dan mengecewakan penonton yang sudah mengeluarkan uang dengan niat baik akhirnya mendapat hasil yang sekedar menghibur. Seperti Dilan yang punya banyak nilai-nilai, mudah-mudahan lewat HAMKA ini saya bisa mengakomodir semua. Selain memang saya punya darah Minang dari ibu, ibu saya juga suka sekali dengan HAMKA karena ia terkenal sebagai ulama yang sangat menghargai wanita sampai akhir hayatnya. Saya membaca kisah hidup HAMKA bahwa ia juga tidak berpoligami meskipun menikah lagi setelah istrinya meninggal, namun itupun ia lakukan karena ia tidak ingin cintanya kepada istri melebihi cintanya terhadap Tuhan. Mengutip quote Steven Spielberg, karena saya memang suka sekali dengan Spielberg dan karya-karyanya, “ Yang membuat saya ingin membuat film adalah cerita yang baik”, setelah HAMKA nanti, yang saya lihat dilandasi niat dan antusiasme besar dari Falcon dan Starvision, dua aura yang besar sekali untuk menghasilkan film bagus, saya juga suka dan salut sekali dengan skrip Alim Sudio yang sudah saya baca, mudah-mudahan ke depannya filter pertama untuk memilih proyek adalah cerita yang baik. Saya selalu ingat pesan dari pak Naveen saat mengerjakan Dilan, jangan pernah mengkhianati penonton. Penonton datang ke bioskop meluangkan waktu dan mengeluarkan uangnya, sambut mereka dengan sebaik-baiknya seperti tamu yang datang ke rumah kita. Semoga saya bisa konsisten dengan kata-kata ini. Bukan saya tidak menghargai karya-karya sebelumnya, hanya saja mungkin dulu terlalu banyak kompromi yang saya lakukan.

 

Oke, yang terakhir. Dengan kesuksesan Dilan meraih 6 juta lebih penonton, seperti apa nih bebannya ke depan? Ada atau tidak?

Ya itu dia. Saya mungkin akan kembali memakai quote Spielberg (tertawa), bahwa yang paling susah adalah mempertahankan apa yang sudah kita capai. Bebannya adalah Dilan 1991 tidak boleh mengecewakan orang karena dari kesuksesan Dilan 1990 akan banyak sekali orang yang ingin menontonnya. Saya harus benar-benar, sungguh-sungguh untuk membuat sekuel yang bagus. Saya sampai minta syutingnya mundur karena saya butuh waktu untuk mempersiapkannya lebih matang lagi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY