‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ di Tokyo International Film Festival Ke-29

‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ di Tokyo International Film Festival Ke-29

753
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-29 akan digelar lagi dari tanggal 25 Oktober hingga 3 November di bilangan Roppongi Hills dan berbagai situs lainnya di seputar Tokyo. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, walau selalu ada beberapa film Indonesia yang masuk ke dalam official selection di kategori-kategorinya, ada hal yang sangat spesial bagi industri film Indonesia tahun ini lewat program tahunan pertukaran budaya melalui film, yang digelar TIFF dalam kerjasama mereka tiga tahun terakhir ini bersama The Japan Foundation Asia Center.

Program yang diadakan dengan tujuan pertukaran karya guna meningkatkan interaksi budaya Jepang dengan sejumlah negara di Asia ini juga mendorong pertukaran pekerja kreatif dalam membangun jaringan pekerja film profesional di negara-negara Asia, termasuk jurnalis serta kritikus film. Selain itu, program ini juga dimaksudkan sebagai platform untuk mempromosikan konten film Jepang ke negara-negara Asia yang menjadi fokusnya.

Program yang secara spesifik dinamakan ‘Crosscut Asia’ dan meletakkan fokusnya secara berganti ke negara-negara Asia terutama Asia Tenggara ini memang menjadi program nyata hasil kerjasama TIFF bersama Japan Foundation yang baru dimulai sejak tahun 2014. Setelah sinema Thailand di tahun 2014 dengan film-film box office mereka seperti ‘Teacher’s Diary’, diikuti Filipina dengan fokus ke film-film karya Brillante Mendoza di tahun 2015, ‘Crosscut Asia’ tahun ini akan menyorot film-film Indonesia di bawah sub judul ‘Colorful Indonesia’. Menurut pihak humas TIFF, publik Jepang selama ini masih cukup jarang mengakses film-film Indonesia. Selain itu, dengan adanya program ini, mereka juga sedang belajar untuk lebih mengenal Indonesia dan budaya-budaya yang diusung lewat film-filmnya.

Program ‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ juga menyorot keberadaan Indonesia sebagai negara Islam toleran, di mana Indonesia yang terdiri dari 10.000 pulau sangat memiliki potensi diversitas budaya yang sangat kaya dari ragam karya-karya kreatifnya. Selain Christine Hakim dan Garin Nugroho yang sudah dikenal luas oleh publik Jepang, ada beberapa sineas yang terpilih bersama karya mereka dalam merefleksikan keunikan itu. Ada sutradara kelahiran Jepang Teddy Soeriaatmadja, putri Garin – Kamila Andini, Angga Dwimas Sasongko dan Edwin, serta juga beberapa nama dari asal luar Jakarta seperti Riri Riza (Makassar) dan Ifa Isfansyah (Yogyakarta).

Judul-judul yang hingga saat ini terpilih untuk mewakili ‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ adalah ‘Lovely Man’ dari Teddy Soeriaatmadja, film terbaik pemenang Piala Maya 2012 serta aktor terbaik FFI 2012 untuk Donny Damara, ‘Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband’, film berdurasi 55 menit karya Edwin yang dibintangi oleh Nicholas Saputra & Mariana Renata, ‘Sendiri Diana Sendiri (Following Diana)’, film 40 menit karya Kamila Andini yang dibintangi Raihaanun & Tanta Ginting, serta ‘Filosofi Kopi’, film layar lebar 2015 karya Angga Dwimas Sasongko yang memuat keberadaan Indonesia sebagai tuan rumah produk kopi yang terkenal hingga ke seluruh dunia di balik sebuah kisah bromance dua sahabat pengusaha gerai kopi.

Melengkapi 4 judul terpilih ini, ‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ direncanakan akan menayangkan total 10 judul film Indonesia bersubtitel Inggris dan Jepang, termasuk beberapa di antaranya dalam kategori World/Asian Premiere yang akan diumumkan bersama lineup lengkap film-film peserta lain di akhir bulan ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY