Denok & Gareng: Merekam Realita Apa Adanya

Denok & Gareng: Merekam Realita Apa Adanya

1524
SHARE

Oleh: Doni Agustan

Denok kabur dari rumah saat berusia 14 tahun, tinggal di jalanan dan menghidupi diri dengan berdagang narkoba. Denok hamil dari pacarnya yang justru kemudian meninggalkannya. Tiga tahun kemudian nasib mempertemukannya dengan Gareng. Gareng berbesar hati menerima Denok apa adanya. Berdua mereka mumutuskan menikah dan mencoba untuk hidup lebih baik. Cerita kemudian lompat beberapa tahun setelah mereka menikah, dengan usaha ternak babi berusaha memperbaiki hidup yang sebelumnya adalah anak jalanan. Mereka tinggal bersama ibu dan 3 orang adik Gareng, Soesan, Pur dan Nur. Masalah tidak pernah selasai dari hidup mereka. Bapak Gareng meninggalkan mereka dengan beban hutang 40 juta rupiah. Bagaimana kemudian Denok, Gareng dan keluarganya menjalani hari sebagai manusia sederhana dengan masalah demi masalah yang tak kunjung selesai?

Begitulah sekelumit pembuka film Denok & Gareng yang menerima penghargaan terbaik kedua pada Chop Shots Documentary Film Festival, yang digelar di Jakarta, Desember 2012 lalu. Film ini kemudian diputar juga pada Arkipel International Documentary and Experimental Film Festival, yang diadakan oleh Forum Lenteng, 24 – 30 Agustus 2013. Denok dan Gareng diputar untuk program kuratorial Mobilitas Sosial untuk Pemula.

Seperti yang dituliskan Adrian Jonathan, kurator program ini bahwa menonton Denok & Gareng akan mengingatkan kita kalau tantangan terbesar sinema Indonesia saat ini bukanlah menjadi orisinil, tapi menjadi otentik. Mitos mobilitas sosial hanyalah satu di antara jutaan perkara negeri ini yang belum terartikulasi secara jujur oleh sinema kita. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah merekam realita apa adanya.

Menggaris bawahi merekam realita apa adanya, tepat sekali apa yang dilakukan oleh Dwi Sujanti Nugraheni, sutradara Denok & Gareng. Apa yang kita lihat dalam film debutnya ini adalah realita apa adanya dan terasa begitu dekat dengan penonton. Terasa dekat karena cara kerja kamera terhadap filmnya seperti tidak ada. Jadi hubungan antara penonton dengan keluarga Denok & Gareng sangat intens, dekat dan intim. Kita sebagai penonton bisa langsung merasakan bagaimana fluktuatifnya hidup mereka, segala kesusahan, dan kesenangan yang mereka alami. Treatment yang juga digunakan oleh Negeri di Bawah Kabut karya Shalahuddin Siregar, yang juga di putar untuk program yang sama pada Arkipel 2013 ini.

Dwi Sujani Nugraheni memaksimalkan gerak kamera pada setiap polemik hidup Denok & Gareng. Sebagai orang yang mengamati dan merekam kehidupan keluarga kecil ini, sutradara yang pernah bekerja untuk UNESCO ini patut kita nobatkan sebagai seorang pengamat yang baik. Keberadaannya sebagai pembuat film pada keseharian keluarga kecil yang diwakilkan dari rekaman kameranya menguliti detail kesusahan, keluguan, interaksi antara Denok & Gareng dengan setiap anggota keluarganya dan orang-orang yang terlibat dalam kehidupan mereka tanpa adanya rasa kikuk, atau akting, terasa sangat alami dan natural. Mereka seperti tidak melihat ada kamera mengikuti kemanapun mereka pergi dan merekam apapun yang mereka lakukan. Aktivitas apapun yang mereka lakukan layaknya hidup mereka sehari-hari seperti tidak ada kamera yang merekam kegiatan mereka. Dua jempol untuk hal ini.

Seperti misalnya adegan Denok & Gareng saling pukul dengan bantal. Cinta dan romantisme pasangan ini sangat terasa hangatnya. Tanpa kikuk mereka bermesraan dengan bantal tersebut bak dua aktor profesional, dan bahkan ketika romantisme mereka itu berubah menjadi serius dan pertengkaran, tidak ada rasa jenggah, malu atau kikuk terhadap kamera yang berjarak sangat dekat dengan pertengkaran tersebut.

Perhatikan juga adegan Gareng meraung-raung menangisi beban yang dia hadapi setelah Soesan, salah satu adiknya kecelakaan dengan motor pinjaman, atau perhatikan juga ketika Gareng menertawakan ibunya yang tidak bisa tulis baca untuk mengurus asuransi kecelakaan Soesan, atau aktivitas Denok, Gareng dan ibunya yang setiap pagi harus mengais-ngais sampah masyarakat Gamping, Kota Gede, Yogyakarta guna mengambil sisa-sisa makanan yang masih bisa mereka gunakan untuk makanan ternak. Semua terasa sekali realitanya.

Meskipun mereka adalah mantan anak jalanan, yang biasanya sudah tidak terlalu peduli pada tatanan norma, tetapi keputusan mereka untuk hidup lebih baik membuat Denok & Gareng harus menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya dan anaknya, Frida. Frida yang baru berusia TK tinggal bersama orang tua Denok. Dalam kurun waktu tertentu, Denok mendatangi Frida, bersikap sebagai ibu pada mestinya, memandikan Frida, mengajaknya bermain, bercerita dan menuntunnya pada hal-hal yang baik.

Salah satu adegan yang cukup menyentuh adalah bagaimana Denok meminta Frida untuk berbohong jika sekolah menanyakan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Denok mengajarkan Frida untuk tidak menyebut bahwa orang tuanya adalah peternak babi, tetapi bebek. Dalam hal ini terlihat sekali bahwa Denok memikirkan kondisi anaknya jika orang di sekitarnya tahu kenyataan bagaimana mereka mencari nafkah dari sumber yang haram. Ada norma sosial kemasyarakatan yang menyentil hidup mereka dan demi tetap berada pada tatanan masyarakat pada umumnya, mereka mengajarkan Frida untuk berbohong.

Selain kepedulian mereka pada norma-norma masyarakat tempat mereka tinggal, isu pendidikan juga menjadi salah satu yang sangat vokal dalam film ini. Denok & Gareng peduli terhadap pendidikan orang-orang yang mereka sayangi. Perhatikan adegan Gareng memarahi adiknya Pur yang kabur dari pesantren. Bagaimana Gareng menekankan pada adiknya bahwa dia tidak ingin Pur bernasib sama sepertinya, hidup susah sampai usia tua. Denok juga melakukan hal yang sama, dia membuat berbagai produk kerajinan tangan, untuk biaya tambahan sekolah Frida. Atau kepedulian orang tua Denok terhadap pendidikan mengaji Frida ketika Denok meminta untuk membawanya tinggal bersama mereka di Gamping. Ini sangat menyentil sekali, karena hidup susah secara ekonomi tidak membuat keluarga ini luput dari pemikiran bahwa pendidikan adalah salah satu hal yang penting dan menjadi prioritas hidup.

Satu hal lagi yang menjadi daya tarik film ini adalah bahwa tidak ada satupun interaksi semua karakter ke arah kamera. Fungsi kamera seperti dalam film-film fiksi. Tidak ada wawancara yang biasanya selalu ada dalam film-film dokumenter. Sepanjang menyaksikan film ini hanya sekali kejadian interaksi ke arah kamera. Adegan polisi yang mendatangi kediaman mereka di Gamping karena kecelakaan motor yang dialami Soesan, ketika akan berpamitan polisi bersalaman dengan kameramen. Pilihan untuk membiarkan satu-satunya adegan interaksi ke arah kamera ini adalah untuk menyadarkan penonton bahwa kamera  memang sebenarnya selalu ada dimanapun. Bahwa realita yang ditangkap oleh kamera dari kehidupan keluarga ini tetap menjadi sebuah karya film.

Tidak ada habisnya jika kita membahas momen-momen berharga yang meninggalkan kesan mendalam dari film ini, hampir semua adegan dalam film ini berkesan. Salah satu adegan yang juga cukup menarik adalah saat Gareng mengikuti atraksi kuda lumping. Kelucuan demi kelucuan kerap hadir karena Gareng kesurupan (atau mungkin sebenarnya mabuk anggur merah yang dia minum?).

Selama hampir 6 bulan, Dwi Sujanti Nugraheni dan tim melalukan pendekatan terhadap keluarga Denok dan Gareng, guna membiasakan mereka dengan keberadaan kamera di sekitarnya. Setelah terbiasa hidup dengan kamera selama 6 bulan, proses pengambilan gambar dilakukan dan memakan waktu 2 tahun. Tidak salah kemudian jika keluarga Denok dan Gareng menjadi sangat natural, apa adanya dan memberikan realita demi realita hidup mereka dengan jujur serta bersahaja. Bersahaja dalam hal ini dilihatkan dalam adegan mereka merayakan Idul Fitri bersama dan saling minta maaf antara satu sama lain, sangat menyentuh. Usaha sutradara film ini dan team memang luar biasa dan sangat boleh kita sebut mereka juga telah menghasilkan karya yang juga luar biasa.

Isu-isu yang diselipkan dalam film ini menjadi menarik karena tidak disampaikan dengan cara yang berceramah tetapi melalui kepedulian-kepedulian yang tumbuh dari Denok & Gareng yang terekam kamera apa adanya. Dan sangat pas dengan tema mobilitas sosial yang menjadi salah satu program dari Arkipel tahun ini. Denok & Gareng mencoba merintis hidup ke arah yang benar, menjaga norma-norma di sekitarnya, serta kepedulian mereka terhadap pendidikan untuk masa depan yang lebih baik. Kesusahan hidup yang membuat mereka mengencangkan ikat pinggang, pengeluaran keperluan untuk sekolah yang mahal, dan berbagai masalah hidup dengan tanpa henti datang silih berganti, Denok & Gareng hadapi dengan sabar, arif, dengan cinta dan gelak tawa, penonton dengan mudah terenyuh dengan semua kesederhanaan ini. Film ini menjadi saksi dan merupakan satu dari sekian banyak kenyataan bahwa betapa negara kurang peduli dan gagal memerikan yang terbaik untuk penduduknya. Bagaimana dengan generasi masa depan jika saat ini masalah demi masalah yang seperti lingkaran setan tidak pernah bisa diputus karena tidak tahu lagi dimana sumbernya. Satu-satunya cara untuk bisa bertahan adalah dengan kearifan. Sungguh 89 menit yang sangat mencengankan.

Bukti bahwa Denok & Gareng sangat spesial adalah dengan resminya film ini berkompetisi di Festival Film dokumenter Amsterdam (IDFA) yang ke-25 pada 14-25 November mendatang. Denok dan Gareng akan bersaing dengan film-film dokumenter dari 15 negara lainnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY