Dewi Dja: Mutiara Indonesia Untuk Dunia

Dewi Dja: Mutiara Indonesia Untuk Dunia

2592
SHARE

Air mataku menetes lagi. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh daripadaku. Indonesiaku, engkau jauh di mata, tetapi senantiasa dekat di hatiku, bahkan menggelepar hidup di dalam jantungku.” – Dewi Dja

Dewi Dja, sebuah nama Jawa yang sangat biasa terdengar di telinga kita, yang mungkin kita juga bisa bayangkan sosok seorang perempuan Jawa, yang juga biasa saja. Dia berasal dari sebuah keluarga Jawa yang miskin di awal abad ke-20. Namun kisah di balik nama itu ternyata sangat hebat. Kisah seorang perempuan Indonesia yang mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya di dunia, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Perempuan ini pasti tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan menjadi seorang artis teater yang populer di Indonesia, bahkan mencanegara. Ia mungkin juga tak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa namanya akan dikenang terus dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Devi Dja (tiga dari kiri) bersama para artis Hollywood. Sumber: showbiz.beritaprima.com
Devi Dja (tiga dari kiri) bersama para artis Hollywood. Sumber: showbiz.beritaprima.com

Ya, Dewi Dja adalah seorang wanita luar biasa. Seorang sederhana, yang karena pengalaman hidupnya dan kemauannya yang kuat, walaupun ia baru mengenal huruf saat berumur 14 tahun, ia mampu menguasai banyak bahasa. Kemampuannya berakting dan menari mempesona banyak orang. Sejak 1930an ia mengelilingi dunia dengan nama Dewi Dja and Her Bali-Java Dancers —with Native Gamelan Orchestra. Dengan 14 adegan individual tari Jawa dan tari Bali, ia mencengangkan banyak orang ketika itu.

Bahkan saat dirinya berada di Amerika, ia sempat membuka sekolah tari, di mana murid-muridnya kini banyak yang memiliki studio ternama di Hollywood. Dewi Dja juga dikenang sebagai orang Indonesia pertama yang mampu menembus Hollywood. Dia melakukannya dengan menari dan menjadi koreografer untuk film Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Moon and Sixpence (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), Three Came Home (1950) dan Road to Bali (1952).

Begitu hebat pribadi dan kemampuannya kala itu, hingga almarhum Ramadhan KH menuliskan otobiografinya yang berjudul “Gelombang hidupku, Dewi Dja dari Dardanella” yang dicetak tahun 1982 oleh penerbit Sinar Harapan. Sayangnya, buku itupun sudah tergolong sangat langka. Saking langka dan minimnya literatur tentang sosok wanita ini, Matthew Cohen PhD, staf pengajar di University of London, dalam sebuah diskusi kesenian Bali-Jawa di Amerika, Dewi Dja Goes to Hollywood, tertarik untuk mendokumentasikan kembali kehidupan Dewi Dja bersama kelompoknya di Amerika Serikat dalam sebuah buku yang sedang disusunnya bertajuk Performing Java and Bali on International Stages: Routes from the Indies, 1905-1952.

Cover buku biografi Dewi Dja karya Ramadhan KH
Cover buku biografi Dewi Dja karya Ramadhan KH

Dewi Dja dan Dardanella

Dalam buku yang ditulis oleh Ramadhan KH tersebut, Dewi Dja atau “Bintang Dari Timur” lahir pada 1 Agustus 1914 di Sentul, Yogyakarta, dengan nama kecil Misria dan kemudian menjadi Soetidjah. Dewi Dja memang memiliki minat seni sejak kecil. Dewi Dja memulai karir dari sebuah rombongan stambul kecil milik kakeknya, bernama Stambul Pak Adi. Di saat yang bersamaan, sebuah grup Sandiwara yang sudah sangat terkenal ketika itu, Dardanella pimpinan Pedro (Willy Klimanoff), juga main di Banyuwangi. Saat itu usianya baru 14 tahun.  Pedro mengaku tertarik dengan Soetidjah dan langsung melamarnya. “Ternyata Pedro menyaksikan pertunjukan kami. Dia bilang tertarik pada saya ketika saya menyanyikan lagu Kopi Soesoe yang popular saat itu,” tutur Dewi Dja ketika menjenguk sahabatnya, Tan Tjeng Bok yang sedang terbaring sakit tahun 80-an, di Jakarta.

Awalnya, Dewi Dja hanya memainkan peran-peran kecil saja di Dardanella. Namun, pada tahun 1930, kemampuannya sebagai seorang bintang besar mulai tampak jelas. Hal ini ditunjukkan ketika Dewi Dja dalam usia 16 tahun sudah mampu memukau penonton ketika berperan sebagai Soekesih pada lakon Dokter Samsi karya Andjar Asmara, menggantikan Miss Riboet II yang sudah terkenal sebelumnya.

Setelah kejadian itu, Dewi Dja mendapat panggilan Miss Dja, sebuah panggilan kehormatan bagi seniman perempuan saat itu. Bersama dengan sahabatnya, Tan Tjeng Bok, saat itu ia menjadi roh setiap pertunjukan yang dilakukan oleh Dardanella dan mendapatkan julukan “Bintang Dari Timur” karena kemampuan akting dan suaranya yang merdu. Pada saat itu, akhirnya Dewi Dja yang masih sangat muda, dinikahi oleh Pedro.

Poster film musikal Dardanella, Angkara Murka
Poster film musikal Dardanella, Angkara Murka

Pada 1935, Darnadella mengadakan perjalanan ke Singapura, Siam, Burma (Myanmar), Sri Lanka, India dan Tibet, untuk melakukan pertunjukan-pertunjukan mereka yang mereka Tour d’Orient. Dalam tour itu tidak dipertunjukan tonil atau sandiwara, tetapi mementaskan tari-tarian Indonesia seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Janger, Durga, Pencak Minangkabau, Keroncong, Pencak Sunda, nyanyian ambon, tari-tarian Papua. Dalam perjalanan ini, mereka tidak menggunakan nama Dardanella, melainkan The Royal Balinese Dancers. Pada saat itu, tercatat dalam tulisan Ramadhan KH, bahwa mereka mulai menggonta-ganti nama rombongan juga personilnya untuk kepentingan pertunjukan.

Sinpo edisi 23 Desember 1939, menulis bahwa pada saat mengadakan pertunjukan di India, mereka mendapat pujian dari orang-orang terkenal di sana, seperti Rabindranath Tagore, Maharaja Baroda, Maharaja Patiala, Profesor Chaterjee, Jawaharlal Nehru, sampai Mahatma Gandhi. Surat kabar lokal juga memberitakan tentang mereka, seperti Amarita Bazar Patrika di Kalkuta, India, yang menulis, “Supple passionate and warm….which words are to poor express.” Lalu ada juga surat kabar Madras Mail yang menulis, “An Excellent performance…”

Pada tengah perjalanannya, rombongan Danella berpisah. Dewi Dja dan Piedro serta beberapa orang rombongan, melanjutkan perjalanan ke Eropa. Sedangkan Tan Tjeng Bok, Andjar Asmara, Ratna Asmara, Njoo Cheong Seng, Fifi Young, Ferry Kock, Dewi Mada, Bachtiar Effendi dan Henry L. Duarte kembali ke Jawa. Setelah itu, Piedro dan Dewi Dja serta beberapa rombongan lainnya melanjutkan perjalanan mereka ke Athena, Roma, Belanda, Swiss dan Jerman. Konon, saat mengadakan pertunjukan di Munich, Jerman, pemimpin NAZI, Adolf Hutler sempat ingin menonton pertunjukan mereka, namun batal karena ada urusan darurat. Saat itu, Perang Dunia ke-II mulai berkecamuk dan karena alasan keamanan, Piedro memutuskan untuk kembali ke Belanda.

Dewi Dja di Amerika

devi-djaTidak hanya sampai di situ, pada akhir September 1939, Colombus Concerts Coorporation telah mengatur kegiatan pertunjukan rombongan yang sudah cukup terkenal ini ke beberapa kota di Amerika. Atas dasar itulah Piedro dan Dewi Dja memutuskan untuk menyebrang ke Amerika Serikat. Karena Perang Dunia ke II meletus, rombongan akhirnya tidak bisa kembali ke Indonesia karena saat itu Jepang telah menduduki Indonesia.

Akhirnya rombongan hanya tersisa belasan orang saja, karena sebagian orang telah kembali ke tanah air setelah perang usai. Namun, semangat mulai pudar dan keinginan untuk melakukan pertunjukan sudah tidak muncul. Sejak Niteclub bernama Sarong Room yang dibangunnya bersama Dewi Dja habis dilalap api pada 1946, akhirnya Piedro meninggal dunia setelah dia putus asa dengan keadaannya di Chicago pada 1952.

Dewi Dja sempat bertemu Sutan Syahrir yang tengah memimpin delegasi RI untuk memperjuangkan pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia di markas PBB New York tahun 1947. Oleh Syahrir, dia sempat diperkenalkan sebagai duta kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Dan namanya pun makin dikenal di negara itu. Sebab itu tak sulit baginya mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Dan pada tahun 1951 Dewi resmi menjadi warga negara Amerika. Dewi Dja tercatat pernah ikut berdemo di depan gedung PBB bersama mahasiswa untuk menyokong kemerdekaan Indonesia.

Dewi Dja menjadi berita di surat kabar Amerika
Dewi Dja menjadi berita di surat kabar Amerika

Dewi Dja juga pernah membela pemuda-pemuda Indonesia di Pengadilan Los Angeles ketika berita tentang “Perbudakan di Los Angeles” marak.  Dewi membela pemuda-pemudi Indonesia yang dirantai dihadapkan ke pengadilan di Los Angeles. Namun berkat campur tangan Dewi Dja bersama Staf  KJRI RI Los Angeles, Pruistin Tines Ramadhan (alm),  dan Dirjen Protokol Konsuler di Deplu Pejambon waktu itu, Joop Ave, persoalan “budak-budak” dari Indonesia itu akhirnya selesai dan pemuda-pemuda Indonesia itu batal dipenjara.

Sepeninggal Pedro, Dewi masih sempat mementaskan kebolehannya dari pangung ke panggung bersama anggota kelompok yang tersisa. Dewi menikah dengan seorang seniman Indian bernama Acce Blue Eagle. Menurut Ramadhan KH, pernikahan itu hanya berlangsung sebentar. Dan setelah itu Dewi terbang ke Los Angeles karena di sana kesempatan karir terbentang lebih luas. Dewi Dja sempat menari di depan Claudette Colbert yang takjub oleh gerak tangan dan kerling mata Dewi Dja. Kabarnya, Dewi hampir terpilih untuk mengambil peran dalam salah satu film produksi Hollywood. Tapi sayang, karena bahasa Inggrisnya kurang fasih. Dia gagal mendapatkan kesempatan itu.

Dia lalu menikah lagi dengan orang Indonesia asal gresik yang menetap di Amerika bernama Ali Assan. Dari Ali Assan ini Dewi memperoleh satu anak perempuan yang diberi nama Ratna Assan. Tapi usia pernikahan mereka tak lama, mereka pun bercerai. Kesibukaannya di Amerika adalah mengajarkan tari-tarian daerah kepada penari-penari Amerika. Namun begitu, Dewi mengaku beruntung berteman dengan selebriti Hollywood yang menjadi teman akrabnya. Ia akrab dengan Greta Garbo, Carry Cooper, Bob Hope, Dorothy Lamour, dan Bing Crosby. Merekalah yang banyak membantu  Dewi dalam memberikan kesempatan.

Putri Dewi Dja, Ratna Assan, saat diwawancarai oleh Wimar Witoelar, antara tahun 1971-1975. Sumber: Album foto Wimar di flickr.com
Putri Dewi Dja, Ratna Assan, saat diwawancarai oleh Wimar Witoelar, antara tahun 1971-1975. Sumber: Album foto Wimar di flickr.com

Sebetulnya, Ratna Assan sempat bermain sebagai pemeran pendukung dalam film Papillon (1973) yang dibintangi Steve Mc Quin dan Dustin Hoffman. Tapi dia tidak melanjutkan karir  aktingnya di Hollywood, sesuatu yang amat disesali Dewi Dja mengingat anaknya itu fasih berbahasa Inggris, tidak seperti dirinya. Ramadhan KH juga menulis dalam bukunya bahwa Dewi Dja pernah memimpin float Indonesia (float “Indonesian Holiday”, dengan sponsor Union Oil) dalam “Rose Parade” di Pasadena, tahun 1970.  Dia  menjadi orang pertama Indonesia yang memimpin rombongan Indonesia yang turut serta dalam Rose Parade di Pasadena itu.

Air mataku menetes lagi. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar kepada sesuatu yang jauh daripadaku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa! Seluruh hatiku tercurah baginya. Indonesiaku, engkau jauh di mata, tetapi senantiasa dekat di hatiku, bahkan menggelepar hidup di dalam jantungku,” kata Dewi seperti tertulis dalam buku itu.

Di Los Angeles Dewi Dja tinggal di kawasan Mission Hill, San Fernando Valley, 22 km utara Los Angeles. Di rumah berkamar tiga di pinggiran kota itu ia tinggal bersama putri satu-satunya, Ratna Assan. Semasa pensiun Dewi Dja mendapat sedikit uang pensiun dari Union Arts, tempat dimana dia bergabung. Saat berumur 68 tahun, pada tahun 1982, Dewi Dja pernah pulang ke Indonesia atas undangan Panitia Festival Film Indonesia. Dewi Dja kemudian meninggal di Los Angeles pada tanggal 19 Januari 1989 dan dimakamkan di Hollywood Hills, Los Angeles.

Hurd Hatfield belajar gerakan tari bersama Devi Dja. Foto yang dibuat oleh Dorian Gray. Sumber: http://hurdhatfieldluv.tumblr.com/
Hurd Hatfield belajar gerakan tari bersama Devi Dja. Foto yang dibuat oleh Dorian Gray. Sumber: http://hurdhatfieldluv.tumblr.com/

Dewi Dja adalah salah satu dari sedikit orang yang diminta sendiri oleh Ramadhan KH untuk dituliskan biografinya. Tidak hanya itu, catatan tentang riwayat hidupnya juga pernah disusun oleh Leona Mayer Merrin, Standing Ovations: Dewi Dja, Woman of Java, yang terbit pada 1989. Sekelumit kisah cintanya juga tertulis di buku Lumhee Holot-Tee – The Life and Art of Acee Blue Eagle, memoar suaminya yang juga seorang seniman Amerika berdarah asli Indian.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY