Dokumenter Yang Ke-7 di Bioskop Sejak Indonesia Merdeka

Dokumenter Yang Ke-7 di Bioskop Sejak Indonesia Merdeka

2178
SHARE

“Ketika media makin partisan, film yang tak punya tanggung jawab moral untuk berimbang, terpaksa turun tangan” (Dandhy D Laksono).

Dalam sejarah perfilman Indonesia, tercatat setidaknya ada enam dokumenter yang ditayangkan di jaringan bioskop umum secara komersial. Mereka adalah ‘Student Movement in Indonesia’ (2002) karya Tino Saroengallo, disusul sequelnya: ‘Setelah 15 Tahun’ (2013). Lalu ada ‘The Jak’ (2007) dan ‘The Conductors’ (2008) karya Andi Bachtiar Yusuf. Di tahun yang sama, juga ada ‘Pertaruhan’ dari Nia Dinata, sebelum akhirnya ‘Jalanan’ (2014) karya Daniel Ziv.

Jaringan bioskop 21 menyebut ‘Student Movement in Indonesia’ yang bercerita tentang Reformasi 1998 sebagai: “film dokumenter pertama yang bisa disaksikan di bioskop”. Bila klaim ini dapat diterima, maka butuh waktu 76 tahun bagi dokumenter Indonesia mendapat tempat di bioskop umum setelah film fiksi pertama yang diproduksi di dalam negeri (Lutung Kasarung, 1926). Atau 69 tahun sejak Indonesia mereka.

Bisa disebut, Tino adalah sutradara pertama yang bisa membawa dokumenter ke jaringan bioskop komersial sejak Indonesia merdeka. Dalam konteks ini, komersial berarti masyarakat mau datang dan membayar untuk menonton sebagai bentuk penghargaan, di luar perhelatan sosial-budaya atau dukungan sponsor.

YANG KETU7UH

Pada 25 September 2014 nanti, layar bioskop Indonesia kembali menayangkan film dokumenter berjudul ‘YANG KETU7UH’ karya sutradara Dandhy D Laksono dari rumah produksi WatchdoC. Dengan demikian, YANG KETU7UH yang merekam proses pemilihan Presiden RI ke-7 ini, menjadi film dokumenter ketujuh yang masuk bioskop umum dan didistribusikan secara komersial.

Dokumenter ini berkisah tentang para pemilih dalam proses Pemilu 2014 yang disebut-sebut paling fenomenal karena seolah membelah masyarakat menjadi dua kubu. Film yang melibatkan 19 jurnalis dan videografer ini diproduksi mulai awal 2014, meski beberapa bahan telah dikumpulkan sejak Pemilu 2009.

 Kedua trailer ini telah ditonton lebih dari 100.000 kali sejak diunggah ke youtube pada akhir Juli 2014.

 Trailer 1: http://www.youtube.com/watch?v=WQgQKnW3n0E

Trailer 2: http://www.youtube.com/watch?v=CRpxt1bAv3g

 Film ini pertama kali dipertontonkan di tempat terbuka, Taman Fatahillah Jakarta, pada malam HUT Kemerdekaan RI, 16 Agustus 2014, dan dihadiri 3.000 orang. Penyelenggaranya adalah Kata Data dan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC). Juga ada beberapa pemutaran terbatas yang dihadiri komunitas media sosial, dan bahkan memberikan testimoni atas film ini.

“Produksi film ini adalah bagian dari tradisi Watchdoc, di luar agenda rutin memproduksi dokumenter untuk sejumlah stasiun televisi di Indonesia,” ujar Andhy Panca Kurniawan, produser eksekutif WatchdoC.

Sebelumnya, WatchdoC telah memproduksi dokumenter berjudul ‘Kiri Hijau Kanan Merah’ (2009) tentang aktivis HAM, Munir dan ‘Alkinemokiye’ tentang pemogokan buruh tambang emas Freeport di Papua (2011) yang mendapat penghargaan di Screen Below the Wind Film Festival dan telah berkeliling di setidaknya lima kota dari tiga negara di Eropa.

“YANG KETU7UH bukan karya partisan dan tidak dibiayai salah satu kubu calon presiden. Ini film tentang rakyat yang memiliki hak pilih, dan menaruh harapan pada calon presiden yang ketujuh, siapapun yang akhirnya menang,” imbuh ko-sutradara, Hellena Souisa.

“Ketika media makin partisan, film yang tak punya tanggung jawab moral untuk berimbang, terpaksa turun tangan,” pungkas Dandhy D Laksono, sutradara.

Untuk tahap awal, film yang memanfaatkan teknologi drone journalism untuk merekam tata ruang Jakarta dan sekitarnya ini akan hadir di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Makassar, Yogya, dan Solo. Namun tidak tertutup kemungkinan hadir juga di kota-kota lain.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY