Dukun: Horor Kontroversial Tak Biasa dari Sinema Malaysia

Dukun: Horor Kontroversial Tak Biasa dari Sinema Malaysia

84
SHARE

DUKUN

Sutradara: Dain Iskandar Said

Produksi: Astro Shaw, 2006 (produced), 2018 (released)

 

“Akhirnya kita bertemu”, tagline menarik yang mengantarkan Dukun, film Malaysia yang diproduksi 2006 silam dan semestinya dirilis di akhir tahun yang sama, kemudian mundur ke 2007 namun lantas ditahan tanpa alasan yang benar-benar jelas. Ada kesimpangsiuran yang beredar soal penggambaran kesadisan visual dan erotik, sebelum akhirnya mengarah ke isu politis di balik kisah nyata yang memang menjadi inspirasi lepas plotnya, soal kasus pembunuhan seorang politikus Malaysia oleh seorang penyanyi yang beralih menjadi dukun dan berujung ke hukuman mati di tahun 2001.

Kontroversi ini lantas menenggelamkan filmnya hingga di awal tahun ini ada pihak yang membocorkannya di internet. Berkembang menjadi viral, pihak FINAS bersama Astro Shaw kemudian mendorong Dukun untuk dirilis di bulan April. Apalagi, mungkin, nama Dain Iskandar Said (credited as Dain Said) juga sudah sangat dikenal di ranah arthouse lewat film-film yang memperoleh resepsi kritik bagus seperti Bunohan dan joint production dengan Indonesia, Interchange.

Indonesia sendiri, yang tak seperti kebalikannya, tak seperti di era P. Ramlee, jarang-jarang merilis film Malaysia bahkan ketika aktor-aktor mereka banyak diimpor ke sini oleh prakarsa Garuda Film di mid 80an, kecuali beberapa joint venture lokal atau yang didorong kesuksesan fenomenal seperti Munafik kemarin, akhirnya juga merilis Dukun walau lagi-lagi ditayangkan di jumlah bioskop cukup terbatas di luar jaringan ekshibitor utama. Padahal, latar kultur yang dibawa – ini juga lebih kurang terinspirasi dari kisah nyatanya, soal praktik supranatural berlatar budaya Batak, Sumatra dari tongkat Batak hingga kanibalisme, sangat dekat dengan kepercayaan tradisional kuno yang selama ini dikenal oleh sebagian masyarakat kita. Kesuksesannya memecahkan rekor BO di negara tetangga itu jelas didorong oleh isu-isu di seputarnya, sementara potensi kedekatannya ke masyarakat kita meski bisa jadi amunisi sayangnya luput dari banyak perhatian. Tapi tentu, dalam konteks ini, kita tak tengah bicara baik soal itu ataupun inspirasi kisah nyatanya. Yang jelas, secara filmis, Dukun punya serangkaian kelebihan yang membuatnya tak lekang meski sudah terkendala lebih dari 10 tahun.

Dari sebuah prolog masa silam soal pemberontakan dukun-dukun wanita suku Batak di daerah Sumatra, kita dibawa pada kasus pembunuhan/mutilasi keji terhadap seorang pengusaha bernama Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie) oleh seorang penyanyi yang juga berprofesi sebagai dukun wanita, Diana Dahlan (Umie Aida). Di saat yang sama, seorang pengacara, Karim (Faizal Hussein), yang sebenarnya sudah lama meninggalkan kasus-kasus kriminal, tak bisa menolak ketika diminta menangani pembelaan Diana karena tengah kehilangan anak perempuannya, Nadia (Elyana) yang melarikan diri dari rumah atas hubungan tak harmonis setelah istri Karim lari meninggalkannya sejak lama. Menjadi pengacara kesekian yang akhirnya diterima oleh Diana setelah ia menolak banyak yang ditunjuk, Karim tak menyadari bahwa kasus ini juga perlahan mulai mengungkap rahasia masa lalunya.

Skrip yang ditulis oleh Huzir Sulaiman, seniman multitalenta yang lebih dikenal sebagai sutradara panggung Malaysia, juga pengajar handal, dengan efektif merangkum effort lintas genre dalam Dukun. Dari luar, ia terlihat sebagai horor yang jelas berbau supranatural, namun ada sentuhan kuat dari subgenre thriller pembunuhan/homicide thriller dan legal/courtroom thriller yang terbagi cukup kental dengan berimbang di dalamnya. Dain, dalam karya pertama sebelum ia beralih ke ranah arthouse, terlihat sangat visioner di balik pengaruh jelas dari gaya penyutradaraan David Fincher ataupun Memories of Murder-nya Bong Joon-ho. Kemasannya tetap ada di ranah komersil tanpa perlu terlihat kelewat noir atau stylish, namun seperti dua nama yang menjadi pijakan itu, cukup melawan arus dan jauh lebih berkelas dari film-film mainstream Malaysia di tahunnya bahkan hingga sekarang, yang walau sudah lebih melangkah dalam eksplorasi genre ketimbang kita, masih belum terlalu banyak bermain di teritorial serupa.

Dan ketiga subgenre itu memang berhasil membentuk Dukun menjadi sangat kuat lewat masing-masing elemennya, di atas pemaparan kultur mistis tradisional yang membawa budaya Batak seperti latar kisah nyatanya. Ia tak lupa pula menyentil aspek sosial budaya masyarakatnya yang tak jauh berbeda dengan kita, menyenggol sistem peradilan penuh sindiran ketika tatatan-tatanan rasional dibenturkan dengan supranatural, dan yang terpenting, tak pula main-main menghembuskan nafas horor dalam batasan tipis genre thriller – horor di tengah visi mendalam tadi tanpa harus membawa-bawa hantu atau setan ke dalamnya.

Atmosfer mencekam, luar biasa eerie dan creepy, yang sudah datang dari jalinan plot kuat ditambah performa ikonik yang akan membekas lama di benak penonton dari Umie Aida (Kala Malam Bulan Mengambang dan banyak lagi, juga pernah bermain bersama Slamet Rahardjo di drama seri mereka) yang rapi sekali menampilkan permainan gestur, ekspresi dan intonasi di tiap pengadeganannya. Performa Umie sudah dengan sendirinya membangun ambience magis sebagai fondasi solid ke elemen supranaturalnya. Bersama Umie, Dukun bergerak pelan tapi mencengkeram di tengah lapisan-lapisan kelam yang kian lama makin terasa disturbing walau tak harus eksploitatif menggelar kesadisan visual atau simbahan darah. Membuat kita berkali-kali merasa merinding, terlebih yang sudah lebih dulu mengakses kejadian nyata sumber inspirasi itu.

Sebagai fokus utama selain Umie dalam elemen-elemen racikan tiga subgenre itu, Faizal Hussein – aktor veteran yang namanya terangkat sejak film Gila-Gila Remaja (1985) – dulunya empat dibilang terinspirasi dari trend film-film anak muda sejenis akhir ’70an era Roy Marten – Roda-Roda Gila, salah satunya, termasuk panggilan ikonik ‘Roy’ terhadap Faizal, bermain baik sekali sebagai Karim di tengah eskalasi dilematis karakternya. Sederet aktor mereka yang kini cukup punya nama di film kita; Chew Kin Wah dan Bront Palarae, plus Nam Ron, actor turns director yang ketiganya bermain bersama Ario Bayu dan Asmara Abigail di One, Two, Jaga (juga disutradarai Nam Ron) juga tampil bagus walaupun karakter duo polisi Nam dan Bront sayangnya tak cukup dikembangkan di tengah porsi relatif singkat mereka. Buat yang mengenalnya sebagai produser/sutradara mantan aktor di film-film Malaysia yang cukup dikenal seperti Ular, award-winning Adiwiraku dan Kau Takdirku, juga ada Jason Chong yang tampil singkat sebagai dokter forensik.

Selain departemen akting yang tertata rapi dan bagus, Dukun masih punya tata teknis sama baiknya dari sinematografi Yuk Hoy Cheong dan scoring mencekam dari Luka Kuncevic. Namun pencapaian terbaiknya jelas datang dari elemen-elemen racikan lintas genre/subgenre yang bisa berpadu dengan sangat baik dan sangat tak biasa. Lagi-lagi, ini mungkin pukulan buat sineas kita yang selain harus membiarkan sineas negara tetangga yang mengangkat sisi budaya Indonesia secara relevan, sebenarnya sudah berkali-kali mendapat kesempatan mengangkat tema-tema sejenis – menggabungkan kisah nyata berbau mistis/supranatural dengan thriller pembunuhan juga legal namun berakhir tak jadi apa-apa. Sebut di antaranya – Dukun AS (Misteri Kebun Tebu), Sumanto/Kanibal, Rien Pembunuh Berantai hingga Kafir versi 2003 yang sampai berujung kontroversi somasi oleh beberapa pihak warga adat, walau judul terakhir ini laku di pasaran, tapi berada di kualitas sangat jauh dengan Dukun yang notabene diproduksi lebih dari 10 tahun lalu. Duh! (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY