Edisi Ke-4 Kyoto International Film & Art Festival Siap Digelar Oktober Tahun...

Edisi Ke-4 Kyoto International Film & Art Festival Siap Digelar Oktober Tahun Ini

133
SHARE

Oleh: Daniel Irawan (@danieldokter)

Di usia festivalnya yang masih sangat muda, dengan edisi pertama yang baru mulai dihelat tahun 2014, Kyoto International Film and Art Festival (KIFF) sebenarnya memiliki nilai historis yang sudah tertinggal jauh oleh pusat sinema negaranya di Tokyo. Padahal, Kyoto merupakan rumah pertama kelahiran sinema Jepang.

Festival yang digagas oleh salah satu pelaku industri hiburan terbesar Jepang, Yoshimoto Kogyo ini memang bertujuan untuk mengingatkan kembali nilai historis tersebut dengan bidikan ke film-film lokal negaranya. Sama seperti festival yang menjadi saudaranya, juga dari Yoshimoto, Okinawa International Movie Festival (OIMF), penyelenggaraannya lebih diarahkan ke nilai-nilai tradisional sinema Jepang walaupun tetap dibandrol dengan standar internasional bersama penayangan beberapa film dari sinema lintas negara.

Sejak tahun pertama penyelenggaraannya, festival ini juga menayangkan sejumlah film-film klasik sinema Jepang di salah satu bioskop kuno di bilangan Gion yang masih dipertahankan Yoshimoto untuk panggung pertunjukan komedinya. Selain itu, ada pula alasan mengawinkannya dengan sebuah festival seni di balik nama Film and Art Festival atas kekayaan Kyoto terhadap tradisi klasik yang tetap menjadi ciri khasnya.

Bertempat di Yoshimoto Gion Kagetsu, konferensi pers untuk edisi tahun ini digelar pada awal bulan lalu. Menggarisbawahi eksistensi Kyoto sebagai rumah sinema Jepang, festival director sekaligus komedian Yuichi Kimura bersama MC Satomi Hirano dari KBS Kyoto mengumumkan tema untuk edisi ke-4 festivalnya tahun ini adalah ‘Movies, Art and Everything Else’. Sementara, tagline festivalnya sendiri cukup simpel: ‘Kyoto: 3 Nights and 4 Days’, menandakan bahwa sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam usia penyelenggaraan yang masih dalam tahap berkembang, KIFF hanya dihelat dalam durasi cukup singkat selama 4 hari.

Sadao Nakajima, Presiden Kehormatan dari Komite Penyelenggara juga menambahkan catatan bahwa Kyoto mesti diingat sebagai kota kelahiran industri film Jepang, dan keberadaan KIFF harus tetap dipertahankan untuk meneruskan warisan-warisan kreativitas penduduknya. Bersama itu, Ichiya Nakamura, Chairman KIFF dari Komite Eksekutif, mengatakan bahwa festival tahun ini akan membawa KIFF ke venue-venue bersejarah seperti Nishi Honganji Temple, Okazaki Park dan Kyoto Botanical Garden yang sangat dikenal sebagai landmark prefekturnya dengan event-event menarik termasuk perayaan 100 tahun animasi Jepang ke dalam festivalnya.

Gelaran karpet merah KIFF tahun ini akan diselenggarakan tepat di depan Karamon Gate yang merupakan situs National Treasure Jepang dimulai dari panggung besar yang dibangun di Kuil Nishi Honganji. Terdaftar sebagai World Heritage Site oleh UNESCO, keberadaan tempat-tempat bersejarah ini memiliki tradisi turun-temurun mempertahankan dunia kesenian tradisional Jepang.

 

Dari Segmen Baru Animasi ke Penayangan Film Bisu

Produser festival Kazuyoshi Okuyama yang menangani seleksi film-film pesertanya mengatakan bahwa terus meningkatkan diversifikasi kategorinya, KIFF tahun ini juga akan menghadirkan segmen khusus film-film animasi Jepang. Sementara versi layar lebar Sparks (Hibana) yang disutradarai komedian Yoshimoto Itsuji Itao berdasar novel pemenang award berjudul sama karya Naoki Matayoshi akan ditayangkan sebagai world premiere di KIFF tahun ini.

Seperti Okinawa, KIFF juga menghadirkan segmen TV Director’s Movie untuk menggarisbawahi kerjasama Yoshimoto dengan banyak stasiun TV lokal serta internasional. Berbeda dengan banyak film TV produksi studio lain, film-film TV produksi Yoshimoto memang memiliki kualitas dan production value berbeda serta membawa talenta-talenta sinema ke ranah televisi.

Untuk mempertahankan tradisi lokal dan sejarah sinemanya, KIFF juga tetap menayangkan sejumlah film bisu dan film-film klasik lain, tak hanya dari Jepang tapi juga dunia. Bertujuan agar sineas-sineas sekarang selalu belajar dari sejarah perkembangan sinema mereka, sejumlah film-film itu bahkan akan ditayangkan dengan live narration (benshi) dalam versi restorasi. Salah satu bagian dari penayangan film bisu ini akan menayangkan film-film komedian, penulis naskah, sutradara sekaligus wanita Amerika kelahiran tahun 1892, Mabel Normand, yang dalam film Chaplin (1992) diperankan oleh aktris Marisa Tomei.

Masih ada juga dua segmen spesial yang salah satunya akan menayangkan film-film karya sutradara Hideo Gosha untuk memperingati perayaan ke-25 tahun wafatnya Gosha. Tomoe Gosha, presiden Gosha Productions mengatakan bahwa segmen ini merupakan suatu kehormatan. Sementara satu lagi segmen itu akan diisi oleh dokumentasi terkenal rocker Jepang Yuya Uchida.

 

Penghargaan Tertinggi Untuk Insan Sinema Jepang

KIFF tetap akan menganugerahkan dua penghargaan tertingginya secara berbeda dengan sejumlah festival film lain di Jepang. Bukan kepada film-film peserta melainkan sosok sineas yang dianggap berjasa bagi perfilman negaranya. Dua penghargaan itu, The Shozo Makino Award, nama yang disemat untuk menghormati sutradara asal Kyoto bernama sama akan diberikan kepada sineas yang dianggap memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sinema Jepang, sementara The Toshiro Mifune Award akan dianugerahkan bagi aktor Jepang yang memiliki pengaruh internasional.

Tercatat, sineas dan aktor yang pernah mendapat anugerah ini adalah sutradara/DoP veteran Daisaku Kimura dan aktor Koji Yakusho di edisi tahun 2014, penulis skrip Rashomon dan sejumlah karya Akira Kurosawa lainnya – Teruyo Nogami dan aktor senior Tatsuya Nakadai, sutradara berusia 85 tahun Shinoda Masahiro dan aktor Hiroshi Abe di edisi tahun lalu.

 

Ekshibisi Seni Klasik dan Kontemporer

Ikut menjadi bagian penting dari keseluruhan penyelenggaraan festivalnya, KIFF memang tak hanya membidik film tapi juga pameran-pameran banyak bentuk karya seni sebagai salah satu tradisi terkenal di Kyoto. Disampaikan oleh Kenta Oka, pelaku seni kontemporer terkenal Jepang, tema segmen seni tahun ini adalah ‘Everything is Constantly Born and Changed, Nothing is Eternal’.

Pameran seni yang akan dihelat di beberapa titik landmark Kyoto akan memiliki fokus berbeda. Kyoto Station akan diisi oleh ekshibisi artis Nobuyuki Tachibana, Kyoto Art Center diisi oleh LIMITS dengan pameran berjudul Digital Art Battle in Kyoto, Kyoto Botanical Garden oleh Yota dan Kazuyuki Ishihara. Sementara pameran keramik dan animasi akan diselenggarakan di Rissei Elementary School, dan Stik dan Heather Brown, masing-masing akan mengisi ekshibisi seni di pusat perbelanjaan Fujii Daimaru.

Sedikit berbeda dengan segmen bernama sama di Okinawa International Movie Festival, Creator’s Factory Award KIFF yang diperuntukkan bagi karya-karya lokal akan dipersembahkan bersama program pameran seni oleh dua jurinya Taichi Kasuga dan Michail Gkinis. Salah satunya adalah Yoshimoto Archigram yang merupakan kreasi ulang dari gerakan avant-garde Archigram dari era ’60-an di Inggris.

 

Kiprah Yoshimoto Mendukung Program SDGs

Terakhir, bersama usaha Yoshimoto Kogyo mendukung program jangka panjang SDGs (Sustainable Developmental Goals) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN), sejumlah segmen festival ini juga akan menghadirkan kampanye-kampanye terhadap program yang mencanangkan sebuah dunia yang lebih baik bagi kehidupan umat manusia tersebut.

Kampanye meluas yang dilakukan oleh PBB lewat festival-festival film berkelas internasional ini memang bertujuan menggamit figur-figur yang memiliki pengaruh besar di industri hiburan lokal mereka untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Sementara, sejumlah jurnalis internasional yang tergabung dalam press members resmi festivalnya juga diharapkan membawa misi ini ke negara masing-masing.

Kyoto International Film and Art Festival 2017 akan diselenggarakan dari Kamis, 12 hingga Minggu, 15 Oktober di sejumlah lokasi bersejarah di Kyoto.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY