Editing: Cara Bercerita Dengan Gambar, Suara dan Musik

Editing: Cara Bercerita Dengan Gambar, Suara dan Musik

3341
SHARE
Ilustrasi editing. Sumber: http://sims.ind.in/

Oleh: Cesa David Lukmansyah

“Forget theory, each film presents a different case.” – John Dunning, Editor

Editing adalah bagian dari seni, bagian dari ilmu pengetahuan, bagian dari sebuah keterampilan dan bagian dari sebuah bisnis. Melihat beberapa aspek diatas, tidaklah cukup untuk seseorang yang ingin menjadi editor hanya menguasai teknis saja. Ketika kita berbicara mengenai seni, tidak akan lepas dari kreatifitas. Seni menuntut kreatifitas, imajinasi dan ketrampilan.

Untuk itu ada beberapa tips dan trick untuk menyiasati proses kreatif, imajinatif dalam mengedit di bawah ini:

PACING SCENE

Pacing atau irama/ketukan sangat diperlukan dalam membentuk sebuah karya audio visual, baik naratif maupun non naratif. Manusia hidup tidak pernah lepas dari irama. Jantung pada setiap orang selalu berubah secara ketukan, tergantung suasana pikiran, kegiatan dan perasaan. Ini menjadi analisa penulis bahwa ketukan pada setiap karya audio visual sangatlah penting. Tidak hanya menjadi sebuah style, irama dalam mengedit harus mewakili rasa setiap scene. Di sini diperlukan cara menganalisa dari seorang editor tentang isi/konten dari setiap adegan.

Secara prinsip, ada dua jenis ritme dalam editing, yaitu:

1. Ritme Eksternal

Ritme yang dihasilkan dari panjang pendeknya shot yang kita pakai. Panjang pendek ukuran shot akan membentuk irama; konstan, berakselerasi (semakin cepat), melambat, atau tidak beraturan.

2. Ritme Internal

Ritme yang dihasilkan dari aspek yang ada di dalam shot (msse en scene), yaitu; Type of shot, gerak subjek, kamera,  dan suara (Musik, dialog, sound effect).

Semua cara membentuk ritme tadi adalah alat untuk kita bercerita dan penggunaannya harus tepat sesuai dengan kebutuhan konten, sehingga hasilnya tidak hanya menarik secara irama, tetapi juga menarik secara emosi dan cerita.

DRAMATIC TENSION

Karya audio visual tanpa membentuk tangga dramatik akanlah sangat membosankan. Dalam bentuk apapun, mulai dari editing video acara pernikahan, dokumenter, iklan televisi, program televisi sampai dengan film, editor harus bisa melihat titik-titik dramatis dalam setiap adegan. Setiap shot yang dipilih dan disambung, harus bisa membentuk rasa (mood), membentuk aksi (adegan), membentuk ritme (ketukan), membentuk ruang dan waktu (time dan space), dan membentuk tangga dramatik untuk menarik perhatian penonton.

Beberapa yang harus diperhatikan dalam membentuk tangga dramatik adalah:

  • Berpegang teguh pada benang merah cerita.
  • POV cerita.
  • Selalu menganalisa setiap adegan. Apa konten terpenting atau karakter yang mana yang dianggap penting.
  • Mengumpulkan referensi, baik dari karya tulis, karya visual, hingga pengalaman hidup

MIXING AUDIO & SCORING MUSIC

Audio adalah pasangan yang tidak bisa dilepaskan dari sebuah karya visual. Seorang editor harus punya kemampuan (minimal) dalam mendisain audio. Audio meliputi :

  • Dialog
  • Musik
  • Efek
  • Ambience

Dengan audio kita dapat membentuk karakter ( tokoh ), membentuk ritme, emosi dan cerita. Di sini kembali dibutuhkan kreatifitas dari seorang editor untuk meramu bagian-bagian dari audio tadi, menjadi elemen yang membuat setiap adegan tidak hanya sebagai pengisi suara, tetapi juga menjadi pembangun emosi, dan bentuk bertutur cerita.

Sound yang bagus itu bukan berarti keras atau kencang, ataupun banyak efek yang dipakai. Kadang, ada pilihan seorang editor untuk menutup suara dialog (mute), hanya suara ambience dan sedikit sentuhan musik yang terdengar. Hal ini dibutuhkan karena ingin menyampaikan rasa emosi ataupun memfokuskan penonton pada hal yang diinginkan.

Di dalam sebuah produksi film, sound (mixing) dan pembuatan Music Score, akan dikerjakan setelah editing cerita (offline editing) selesai. Namun menurut pandangan penulis, ketika pada tahap offline editing, editor harus sudah membuat pre-desain suara dan musik. Karena sekali lagi, editing tidak bisa dipisahkan dari elemen suara.

CUTTING BERBAGAI MACAM PROJECT

Ada editor yang biasa mengerjakan video musik, ada yang biasa mengerjakan iklan televisi, dokumenter, Film Feature, film televisi,berita, dan lain sebagainya. Setiap projek mempunyai cara penanganan yang berbeda. Tidak semua editor video music bisa mengerjakan dokumenter. Tidak semua editor film televisi bisa mengerjakan iklan televisi, dan seterusnya. Tetapi ketika editor memiliki kemampuan yang kuat tentang bagaimana mencari titik potong, bagaimana menahan shot dengan tidak memotong, dan selalu melakukan pilihannya dengan menggunakan hati, pikiran dan energi yang kuat, bisa saja dengan mudah editor itu berpindah dari satu projek ke projek yang lain, meskipun berbeda jenis.

Yang terpenting dalam mengedit adalah masalah pemilihan titik potong atau sambung (Cutting Point). Ada teori dari seorang tokoh editing di Indonesia, yaitu Alm. Soemardjono, bahwa titik potong atau sambung setiap shot yang paling ideal didasari oleh 3 aspek, yaitu fungsional, struktural dan Proposional. Ketika 3 aspek tadi terpenuhi, maka bisa dipastikan setiap sambungan atau potongan yang kita buat akan tepat, secara cerita akan kuat, secara emosi akan lebih terasa.

Seperti juga musik, film memiliki banyak aliran. Tetapi bagaimanapun alirannya, setiap film pasti akan punya cerita. Seorang Editor adalah seorang “pencerita”. Jadi ketika seorang pencerita diberi tugas untuk menyampaikan cerita yang berbeda-beda, maka caranya pun berbeda.

Di bawah ini beberapa tips mengedit berbagai macam genre/project :

CUTTING ACTION

Pada adegan atau film action, biasanya tim lapangan (sutradara) akan membuat banyak shot di setiap adegannya. Untuk itu, yang harus diperhatikan oleh editor adalah kerapihan dalam mengorganisir file/shot. Selain itu kita harus hafal dan paham semua shot-nya. Kerapihan ini diperlukan agar ketika kita membutuhkan shot itu, akan dengan cepat kita tahu posisi filenya ada dimana.

Selain hal di atas, pada editing film action yang harus diperhatikan adalah Reaction Shots. Dengan memilih reaksi yang pas, emosi penonton akan lebih dalam dan akan menambah intensitas aksi dari adegannya. Lalu Pacing/Ritme, di mana hal ini penting untuk membentuk tangga dramatik. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam tipe shot (CU, MCU, MS, LS, dll) di setiap adegan, dengan memperhatikan panjang pendek shot yang dipakai.

Kadang, untuk merasakan ritme adegan yang sudah dibentuk, penulis perlu melakukan playback dengan volume dalam posisi mute dan hanya melihat gambar. Sehingga kita menjadi tau, apa yang kita sambung/potong sudah membentuk ritme atau belum.

Ada juga cara Repetisi (mengulang) adegan. Mungkin kita pernah melihat adegan action sebuah tabrakan mobil, lalu di situ editor mengulang beberapa kali adegan dengan posisi kamera yang berbeda. Pengaruhnya adalah sebuah kejadian yang sangat dahsyat, penonton dibuat terkesima dengan berbagai macam angle adegan.

Parallel dan Cross-cutting ini penting juga di dalam mengedit action. Dengan menggabungkan dua kejadian atau lebih di saat yang bersamaan, akan bisa membentuk ketegangan yang lebih.

CUTTING COMEDY

Cutting komedi hampir sama dengan konsep performing, yaitu masalah Timming. Di genre ini kita lupakan catatan dari lapangan. Lihat semua materi shoting dan harus bisa melihat atau menemukan perform yang terbaik dari pemainnya. Lalu digunakan untuk membentuk ritme yang tepat bagi adegan tersebut.

CUTTING TVC, PROMO, TRAILER, PSA

Pekerjaan ini adalah bagian dari sebuah advertising (periklanan), marketing, komersil. Ke empat project ini hampir memiliki kesamaan, yaitu menyampaikan pesan yang banyak dalam waktu yang cukup singkat. Untuk itu, seorang editor harus punya kejelian dalam memilih shot, yang punya bobot artistik, komersil dan stylist.

Biasanya dalam proses editing TVC (iklan), kita selalu ada dalam tekanan. Karena dengan waktu yang terbatas (biasanya cuma 1-2 hari editing), membuat beberapa versi dari materi yang sangat banyak. Selain itu cukup banyak orang yang ikut bagian dalam sebuah produksi iklan, mulai dari rumah produksi, agensi dan klien. Rata-rata rasio shoting iklan adalah 70:1, ini berarti memilih 1 yang terbaik dari 70 pilihan.

Tantangan lain adalah membuat trailer, bagaimana kita merangkum cerita dalam waktu singkat dan menjualnya (tell and sell).  Ini seperti menggabungkan editing film, iklan dan musik. Meramu ketiga gaya tadi menjadi satu kesatuan, bercerita dengan bantuan musik dan style-style dalam TVC.

Berbeda dengan trailer atau TVC, editing PSA lebih dekat kepada mengedukasi atau mempromosikan sebuah usaha/perusahaan atau bahkan perorangan. Editor harus mempelajari terlebih dahulu tentang perusahaan atau jasa yang akan dibuat, supaya hasilnya sesuai dengan prosedur dari usaha tersebut. Setiap cut yang kita buat harus selalu informatif, dan mengikuti instruksi dari disain yang sudah dibuat oleh perusahaan dan tim kreatif.

CUTTING DOCUMENTARY

Di dalam proses pembuatan dokumenter, editor adalah penulis, bahkan kadang ada yang menyebut editor juga sutradara. Yang harus diperhatikan dari awal adalah masalah administrasi file/shot. Karena materi dokumenter kadang tidak mempunyai rasio shoting yang jelas. Terlebih kalau dalam dokumenternya ada footage-footage yang diambil dari berbagai macam sumber.

Semua file yang ada harus tertulis didalam buku. Begitupun dengan isi wawancara. Ini disebut tahap pencatatan transkip. Pencatat ini tidak bisa disatukan dengan pekerjaan asisten editor. Dia bekerja sebelum asisten editor bekerja. Asisten editor, editor dan sutradara akan duduk berdiskusi dengan pegangan buku yang berisi semua catatan tadi. Dari situ akan membuat ide, akan merangkai shot dengan mencatatnya terlebih dahulu di atas kertas, yang di dalam istilah film dokumenter disebut Paper Edit. Setelah paper edit dibuat, barulah asisten editor akan memilih shot-shot tersebut dan merangkainya dalam mesin editing.

Ini yang membedakan antara editing dokumenter dengan yang lain. Tetapi menurut pengalaman penulis, ketika kita sudah atau terbiasa dengan pekerjaan dokumenter, maka ketika kita akan mengedit project film, tvc, iklan dan lainnya, akan terasa lebih mudah. Hal ini disebabkan karena dalam dokumenter kita terbiasa dengan mengolah banyak shot tanpa panduan skenario yang detail.

CUTTING TELEVISION

“The best editor in the world today cut television. The deadlines ate there and it’s got to work and you learn how to cheat the film…When you’ve cut televison for a couple of years and you get into features, you can put anything together, When I went with Spielberg, he shot a lot of footage and if I didn’t have that experience it would have been difficult.” –  ­Michael Kahn, A.C.E

Dari pernyataan di atas, kita bisa melihat bagaimana kondisi televisi bisa membuat editor semakin kuat secara teknis dan kreatif. Terbiasa dengan deadline, materi yang tidak tercatat, namun dipaksa dengan hasil yang bisa diterima oleh penonton dirumah. Untuk itu penulis mengajak semua editor untuk selalu mencintai profesi dibanding mencintai pekerjaannya. Karena dengan mencintai profesi, dengan materi shot dan kondisi tertekan seperti apapun, kita bisa membuat karya dengan baik.

Bagaimanapun kondisi materi dan situasi pekerjaannya, penulis mengingatkan tentang dua hal penting, yaitu:

  1. Ketika kita mengedit sebuah project, kita harus tahu dan membaca ceritanya (skenario). Ini sangatlah penting, karena tugas kita untuk menceritakan kembali skenario tadi dalam bahasa gambar.
  2. Setelah itu, kita harus berdiskusi dengan tim kreatif, siapakah yang akan melihat karya kita (target market/audience).

Dua hal penting di atas menjadi dasar editor dalam membentuk konsep editing.  Tidak mungkin kita membentuk cutting yang cepat dan fashionable, ketika yang menonton hanya orang-orang tua. Mereka akan kaget dengan potongan-potongan yang ada. Untuk itu, maka, selalu ingatlah prinsip dasar bahwa editing itu cara bercerita dengan susunan gambar, audio dan musik. Buatlah editing yang sesuai dengan cara bercerita pada kehidupan nyata.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY