Ekplorasi Budaya Asia Lewat Proyek Omnibus “Asian Three Fold Mirror” TIFF &...

Ekplorasi Budaya Asia Lewat Proyek Omnibus “Asian Three Fold Mirror” TIFF & The Japan Foundation Asia Center

901
SHARE
3 Sutradara yang berpartisipasi dalam pembuatan proyek Omnibus Asian Three Fold Mirror, Tokyo International Film Festival yang bekerja sama dengan The Japan Fondation Asian Center, dari kiri ke kanan: Isao Yukisada (Japan), Sotho Kulikar (Cambodia) dan Brillante Ma. Mendoza (Philippines)

Oleh: Daniel Irawan

Sejak perhelatannya di tahun 2014, penyelenggara Tokyo International Film Festival (TIFF) sudah mengumumkan proyek kerjasama mereka dengan The Japan Foundation Asia Center yang bergerak di bidang kolaborasi kebudayaan negara-negara Asia. Proyek pembuatan film omnibus yang dinamakan Asian Three-Fold Mirror itu, bertujuan untuk meningkatkan interaksi antara negara-negara Asia yang saling bertetangga, sekaligus memperkaya pemahaman budaya dan lebih lagi di atas pengertian lebih mendalam tentang identitas dan pandangan hidup individu-individu-nya.

Dua tahun masa pengembangan hingga perwujudannya di tahun 2016 ini mereka fokuskan untuk memilih tiga sutradara berikut cast untuk proyek pertama yang direncanakan bakal berlanjut di tahun-tahun berikutnya, dengan Indonesia juga mungkin akan menjadi salah satu kandidatnya nanti.

Untuk yang pertama, akan ada sutradara Brillante Ma. Mendoza (Filipina) yang karya-karyanya disorot dalam sebuah segmen khusus di TIFF 2015 kemarin. Kemudian Isao Yukisada, sutradara muda Jepang yang baru memulai debutnya di tahun 2000 lewat film pemenang Busan International Film Festival, ‘Sunflower’ dan kemudian berkembang menjadi sutradara hitmaker dengan film-film lokal box office. Yang terakhir Sotho Kulikar dari Kamboja, yang dalam keterbatasan film-film lokal mereka masih jarang-jarang terjangkau oleh audiens kita.

Para bintang utama dalam Proyek Omnibus Asian Three Fold Mirror, dari kiri atas searah jarum jam:  Chumvan Sodhacivy (Kamboja/Aktris), Lou Veloso (Filipina/Aktor), Masahiko Tsugawa (Jepang/Aktor), Masathosi Nagase (Jepang/Aktor), Masaya Kato (Jepang/Aktor), Sharifah Amani (Malaysia/Aktris)
Para bintang utama dalam Proyek Omnibus Asian Three Fold Mirror, dari kiri atas searah jarum jam: Chumvan Sodhacivy (Kamboja/Aktris), Lou Veloso (Filipina/Aktor), Masahiko Tsugawa (Jepang/Aktor), Masathosi Nagase (Jepang/Aktor), Masaya Kato (Jepang/Aktor), Sharifah Amani (Malaysia/Aktris)

Masing-masing sutradara tadi membawa bintang-bintang Asia yang tak harus terbatas dari negaranya saja. Selagi Mendoza akan menampillkan aktor, komedian, sutradara sekaligus politikus veteran Filipina Lou Veloso peraih 5 aktor terbaik FAMAS (The Filipino Academy of Movie Arts and Sciences Awards), juga pernah ikut berperan di ‘The Bourne Legacy’, dalam segmen bertema hilangnya identitas nasional seorang imigran Filipina di Jepang beberapa dekade setelah dideportasi, Isao Yukisada dalam segmen berjudul ‘Pigeon’ mengkolaborasikan dua aktor terkenal Jepang Masahiko Tsugawa dan Masatoshi Nagase bersama aktris Malaysia Sharifah Amani yang sangat dikenal dari trilogi kontroversial alm. Yasmin Ahmad, ‘Sepet’ – ‘Gubra’ dan ‘Mukhsin’, plus ‘Muallaf’ yang sempat ditangguhkan peredarannya di sana.

Mengetengahkan drama percintaan lintas era di balik latar sejarah penjajahan Jepang terhadap Malaysia, antara mantan prajurit Jepang yang kini menetap di Malaysia dengan wanita Melayu muda yang merawatnya,  Sharifah Amani, juga seorang sutradara – penulis dan bukan baru sekali ini bermain dalam film Jepang (sebelumnya ada ‘Redemption Night’ produksi 2013 karya Takato Hosoi) menyampaikan komentarnya terhadap kesempatan ini. Mengaku sangat mengagumi kultur Jepang, ia juga merasa bangga bahwa film-film alm. Yasmin Ahmad yang dikenal sebagai sutradara transgender Malaysia itu diapresiasi dengan luas oleh audiens Jepang.

Segmen yang terakhir dari Sotho Kulikar, sutradara Kamboja yang karya debutnya, ‘The Last Reel’ menorehkan prestasi besar ke sinema mereka yang baru bangkit pasca sejarah kelam rejim Khmer Merah, mengetengahkan kisah cinta yang terentang dalam dua periode dan simbol – perang saudara bangsanya dan sejarah jembatan terkenal di Phnom Penh yang dikenal sebagai ‘Cambodia – Japan Friendship Bridge’.

Dalam karyanya yang kedua setelah ‘The Last Reel’, Kulikar mengkolaborasikan aktris sekaligus penari kontemporer terkenal Chumvan Sodhachivy dengan aktor superstar Jepang Masaya Kato. Satu hal yang unik dari Kulikar adalah sebelum kembali ke Kamboja untuk ikut serta mengembangkan sinema bangsanya, ia sempat bekerja di Hollywood sebagai line producer. Salah satu kreditnya sebagai line producer adalah dalam ‘Lara Croft: Tomb Raider’ (2001). ‘The Last Reel’ juga memenangkan piala khusus The Spirit of Asia Award yang digagas Japan Foundation Asia Center di TIFF ke-27 tahun 2014.

Karya kolaborasi yang sekaligus mencerminkan makna titel yang mereka pilih untuk proyeknya, ‘Asian Three-Fold Mirror Project’, mengacu ke cermin tiga sisi yang maksudnya merefleksikan budaya serta masyarakat Asia dari tiga visi dan sudut pandang ketiga sutradara lintas negara Asia ini akan dirilis dengan status premiere dunia pada TIFF ke-27 tahun ini yang akan diselenggarakan dari 25 Oktober hingga 5 November mendatang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY