Fête du ciné: Pesta sinema Kamis Film IFI Bandung & Bahasinema Maret...

Fête du ciné: Pesta sinema Kamis Film IFI Bandung & Bahasinema Maret 2016

988
SHARE

Dalam rangka merayakan Hari Film Nasional yang jatuh pada bulan Maret, IFI Bandung dan Bahasinema menyajikan pemutaran film-film Prancis dan Indonesia terbaik setiap minggunya yang masuk dalam kategori ‘The Nouvelle Generation’ di mana para generasi  sineas Prancis dan Indonesia  di era 1998 hingga 2015 telah menorehkan karya terbaiknya dengan menggebrak dan memberi warna baru bagi dunia perfilman.

Generasi  baru telah lahir, budaya dan sosial politik masyarakat semakin berkembang. Tak hanya berhasil mengcapturenya dalam format film namun mereka berhasil menjadi penanda sejarah sinema atau wara-wiri dalam apresiasi  di berbagai penghargaan film nasional dan Internasional.

Minggu ketiga akan diisi oleh pemutaran film The Artist dan Betina karya sineas muda Lola Amaria.

The Artist (2011)

Salah satu film terbaik Prancis sepanjang masa karya Michel Hazanavicius. Berformat hitam putih dan bisu, kita pun bertemu dengan karakter George Valentin (Dujardin), seorang yang berada di puncak dunia film bisu tahun 1927. Dia benar-benar seorang idola yang hidup damai dengan popularitas dan sering pamer tanpa tahu malu.

Pada puncak karirnya, dia bertemu dengan Poppy Miller(Berenice Bejo) dan mereka pun berhubungan. Lalu, datanglah era film bersuara (talkies), Valentin tiba-tiba mendapati karirnya menurun sementara Miller justru sedang naik daun. Valentin harus melihat keraguan akan aktingnya di era yang baru, dan itu menyakitkan.

Film ini menorehkan penghargaan yang tidak sedikit. Best Actor dalam Cannes Film Festival, 3 piala Golden Globes, 7 piala BAFTA awards, 6 piala Cesar Awards dan 10 nominasi dalam Academy Awards dan membawa pulang 5 piala Oscarnya.

Betina (2006)

Film besutan karya Lola Amaria yang ramai diperbicangkan hingga saat ini. Betina (Kinaryosih) adalah seorang gadis pemerah susu di pangkalan susu milik Mamang Otig. Ia seorang gadis berwajah cantik dan bertubuh molek. Tidak heran pria-pria di desanya (desa antah-berantah) mengagumi, bahkan mencoba melakukan hal-hal yang tidak pantas padanya.Betina tinggal dengan ibunya (Tutie Kirana) yang agak sinting setelah ayah Betina (Zairin Zain) diciduk dari rumah.

Ayah Betina adalah seorang tentara yang telah menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah buku berjudul “NKRI Bukan Tuhan” yang dipandang sebagai tindakan subversif. Sepeninggal sang suami, ibu Betina tak pernah berhenti berharap lelakinya akan pulang ke rumah. Karenanya ia masih terus mencuci dan menyetrika seragam sang suami secara teratur dengan penuh kerinduan. Kepergian ayahnya yang tak kunjung kembali membuat Betina kehilangan figur lelaki.

Hingga suatu hari, ia menemukan seorang lelaki yang dipikirnya ideal seperti ayahnya. Lelaki itu (Agastya Kandou) adalah seorang pemimpin prosesi pemakaman. Untuk melihat lelaki itu, Betina harus menunggu setiap kali di desanya terjadi kematian. Lelaki ini akan menuruni bukit dengan jubah putihnya yang aneh untuk menjemput para janda

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY