FFI 2015: Kemajuan dan Kritik

FFI 2015: Kemajuan dan Kritik

1557
SHARE
Gubernur Banten Rano Karno (berkemeja biru) dan Ketua Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2015 Olga Lydia (kiri) saat membuka rangkaian acara FFI 2015 di Serang, Banten (Sumber: KOMPAS/DWI BAYU RADIUS)

Festival Film Indonesia 2015 akhirnya usai digelar di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Senin (23/11/2015). Sebanyak 21 kategori diumumkan pada ajang penghargaan bagi para pekerja film nasional ini. Menurut siaran pers yang diterima Kinescope, sebanyak 278 film mendaftar pada panitia pelaksana ajang festival bagi para insan perfilman nasional ini.

Film ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tercatat sebagai film yang paling banyak mendapatkan penghargaan di FFI 2015 bersama ‘Siti’ dan ‘A Copy of My Mind’.

Selain itu, film ‘Siti’ dinobatkan menjadi film terbaik untuk FFI 2015. Dan, Joko Anwar menyabet gelar sebagai sutradara terbaik untuk film ‘A Copy of My Mind’.

Selain itu, artis senior Christine Hakim juga meraih penghargaan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, n amun sayangnya Christine Hakim berhalangan hadir dan penghargaan diwakili oleh Reza Rahardian.

Christine Hakim meraih penghargaan tersebut melalui perannya di film Pendekar Tongkat Emas. Dia mengalahkan sejumlah nominator lain seperti Prisia Nasution (Comic 8 Casino Kings Part One), Raline Shah (Surga Yang Tak Dirindukan), Ria Irawan (Bulan Di Atas Kuburan), dan Wulan Guritno (Nada untuk Asa).

FFI 2015 juga memberikan penghargaan Piala Citra khusus untuk kategori Film Dokumenter Panjang Penghargaan Khusus Dewan Juri FFI 2015, yang diraih oleh film Cerita tentang Cak Munir.

 

Apa Yang Baru Dari FFI?

Festival Film Indonesia (FFI) 2015 memang sedang berbenah. Penghargaan bergengsi bagi insan film Tanah Air itu berupaya memperbaiki diri. Seperti diketahui, penyelenggaraan FFI kerap mendapat kritik pedas. Contoh teranyar, penghelatan FFI 2014 yang dianggap memiliki banyak masalah. Salah satunya, gagal menghadirkan beberapa artis ke Palembang.

Sebagai bentuk evaluasi, FFI 2015 yang diketuai Olga Lydia ini mulai mencoba mengadopsi beberapa nilai positif yang terdapat dalam ajang penghargaan film kelas dunia, seperti Academy Awards alias Piala Oscar.

“Kami belajar dari festival film di dunia termasuk Oscar. Di Oscar yang menjadi juri 5.000 orang. Kalau kita mulai berbenah dari tahun lalu dengan 100 juri. Jadi, kenapa kita nggak mulai dengan hal yang sama?” kata Olga Lydia di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Lukman Sardi, sebagai Ketua III Bidang Media FFI 2015 juga mengatakan hal yang senada. Dia dan timnya juga menjadikan FFI 2014 di Palembang sebagai pelajaran berharga. Namun dirinya optimis, bahwa FFI 2015 dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan menghadirkan banyak insan seni.

“Di Palembang kenapa banyak yang nggak hadir? Ternyata ada nama yang masuk nominasi tapi nggak dapat tiket (pesawat). Jadi saat itu, kita masih mengurus tiket untuk orang lain tengah malam. Sehingga mereka terhambat datang ke Palembang,” terang Lukman Sardi, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Didik Suhardi mengatakan, jumlah juri FFI 2015 tentu menambah obyektivitas dan kredibilitas festival tersebut. Apalagi, panitia bekerja sama dengan akuntan publik kelas dunia.

Ketua Bidang Penjurian FFI 2015 Jajang C Noer mengatakan, pihaknya merekrut lima pakar sebagai juri untuk masing-masing kategori. “Misalnya, lima editor yang dianggap terbaik akan menilai hasil mengedit film. Juru kamera juga begitu. Selain itu, ada 20 aktor dan aktris yang menjadi juri,” tuturnya.

Mereka terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan. Jajang mengatakan, mereka merupakan gabungan bintang muda dan senior. Ada pula juri yang tidak berkecimpung dalam dunia perfilman, seperti budayawan, wartawan, dan aktivis perempuan, sebanyak 15 orang.

Mereka yang masuk nominasi pada FFI sebelumnya juga menjadi juri dan diberikan keanggotaan seumur hidup. Jajang mengatakan, total jumlah juri FFI 2015 lebih kurang 150 orang. Karena itu, pemilihan penerima penghargaan pada tahun ini akan sangat berimbang.

Selain itu, Olga juga akan memberikan FFI Lifetime Membership. Penghargaan itu diberikan kepada 100 orang yang masuk nominasi untuk berkesempatan menjadi juri pada perhelatan FFI mendatang.

 

Kritik Atas Penyelenggaraan

Namun begitu, perhelatan ini juga bukan tanpa kritik. Beberapa kritik dilontarkan oleh beberapa pemerhati dan praktisi film nasional yang menyayangkan bahwa peraih penghargaan Piala Citra untuk kategori film pendek, dokumenter, animasi, dan televisi hanya disebutkan oleh pembawa acara dan tidak ada pemberian penghargaan secara langsung. Menurut mereka bahwa ini adalah bentuk kurangnya apresiasi terhadap dunia dan seni film secara komprehensif dan bisa menjadi sebuah bentuk diskriminasi atas karya film non-bioskop.

Menurut mereka, film Indonesia itu tidak hanya film bioskop saja dan justru hal inilah yang memperkaya dunia perfilman nasional. Dengan tidak memberikan penghargaan secara langsung untuk film non-bioskop dalam FFI 2015 dan hanya disebutkan saja oleh pembawa acara, dianggap bahwa panitia FFI 2015 (yang mengklaim lebih banyak praktisi film yang berada di dalamnya) justru tidak menganggap penting karya film non-bioskop dan melakukan diskriminasi.

Alasan waktu durasi acara tidak bisa dijadikan alasan atas hal ini, dan justru semakin membuat panitia terlihat tidak profesional. Untuk hal itu, untuk semua pihak, khususnya para pemangku kepentingan dan praktisi yang berada di balik perayaan FFI 2015 harus mau mengakui kekayaan sinema Indonesia, dan tidak menganak tirikan karya film non-bioskop.

 

Berikut daftar lengkap pemenang FFI 2015:
– Pengarah Artistik: Guru Bangsa Tjokroaminoto
– Film Animasi: GWK
– Film Dokumenter Panjang: Mendadak Caleg
– Film Dokumenter Pendek: Tino Sidin Sang Guru Gambar
– Perancang Busana Terbaik: Guru Bangsa Tjokroaminoto
– Penata Musik: Siti
– Penata Suara: A Copy of My Mind
– Penyunting Gambar: Filosofi Kopi
– Penata Efek Visual: Supernova
– Sinematografi: Guru Bangsa Tjokroaminoto
– Pemeran Anak: Aria Kusumah (Pendekar Tongkat Emas)
– Pemeran Pendukung Wanita: Christine Hakim (Pendekar Tongkat Emas)
– Pemeran Pendukung Pria: Mathias Muchus (Toba Dreams)
– Pemeran Utama Wanita Terbaik: Tara Basro (A Copy Of My Mind)
– Pemeran Utama Pria Terbaik: Deddy Sutomo (Mencari Hilal)
– Sutradara Terbaik: Joko Anwar (A Copy Of My Mind)
– Film Terbaik: Siti
– Penulis Skenario Asli Terbaik: Eddie Cahyono (Siti)
– Penulis Skenario Adaptasi Terbaik: Jenny Jusuf (Filosofi Kopi)
– Lifetime Achievement: George Kamarullah
– Film Pendek Terbaik: The Fox Exploites The Tigers Might

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY