Film Dokumenter Pendek “Digdaya Ing Bebaya” Karya BW Purba Negara Berjaya Di...

Film Dokumenter Pendek “Digdaya Ing Bebaya” Karya BW Purba Negara Berjaya Di Ajang Viddsee Juree Award 2016

852
SHARE

Satu lagi prestasi berhasil diraih oleh pembuat film produktif asal Yogyakarta. Film berjudul Digdaya Ing Bebaya (Of the Dancing Leaves), karya sutradara BW Purba Negara berhasil memenangkan penghargaan Silver Award pada ajang Vidsee Juree Awards 2016.

Viddsee Juree Awards adalah kompetisi untuk merayakan film pendek Asia dari berbagai genre; fiksi, dokumenter serta animasi. Indonesia mendapat kehormatan dan terpilih sebagai negara pertama yang meluncurkan edisi perdana Viddsee Juree Awards, di mana pembuat film pendek Indonesia mendapatkan kesempatan filmnya ditonton dan dipilih oleh panel juri internasional.

pemenang dan panitia

Pada ajang tersebut, peraih penghargaan utama Gold Award diraih oleh film Little Sister’s Chalk (Kapur Ade) karya Firman Widyasmara. Sementara itu Film berjudul Udin Telekomsel mendapatkan penghargaan Honorable Mention. Penganugerahan penghargaan ini telah dilangsungkan pada Sabtu malam, 5 Maret 2016 di Institut Français d’IndonésieInstitut Francais d’Indonesie (IFI) Jakarta.

Film pendek Digdaya Ing Bebaya yang dikerjakan oleh BW Purba Negara dan rekan-rekannya di limaenam films ini menghadirkan gambaran ketangguhan warga lereng selatan Gunung Merapi dengan memotret kehidupan Mbah Rejo, Mbah Arjo, dan Mbah Mardi, 3 lansia penghuni Desa Glagaharjo, salah satu desa yang terkena dampak hebat letusan Merapi.

still foto

Saat erupsi gunung Merapi 2010, penduduk desa mengungsi, namun setelah kondisi dirasa aman, mereka kembali ke desa mereka, membersihkan material dan membangun kembali rumah mereka. Mereka menolak direlokasi. Tiga lansia yang tangguh dan tabah ini bekerja dengan menaiki dan menuruni bukit untuk mendapatkan regedek atau daun pegagan sebagai bahan jamu.

Di sela-sela perjalanan mereka, mereka bercerita tentang pengalaman seputar erupsi Gunung Merapi. Wanita-wanita tua nan tangguh ini berbicara tentang banyak hal, mengenai alasan untuk tetap bertahan di kampung halamannya, juga tentang perasaan, cinta, dan kepercayaan mereka. Walaupun segala resiko mengancam di depan mata, mereka tetap mempertahankan rumahnya. Ya, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal. Oleh karenanya mereka menolak untuk direlokasi, dan lebih memilih untuk beradaptasi.

Silver Award yang jatuh pada film Digdaya Ing Bebaya ini menambahkan daftar panjang penghargaan untuk film-film pendek karya BW Purba Negara, di mana sebelumnya beberapa karya film pendek  yang dibuat oleh BW Purba Negara telah banyak mendapatkan penghargaan di tingkat nasional dan internasional, di antaranya Piala Citra Festival Film Indonesia pada tahun 2008 dan 2011, Best Short Film Award di ajang ‘Pacific Meridian’ Vladivostok International Film Festival 2012 di Rusia, Miglior Fotografia Award di Capalbio Cinema International Film Festival di Italy, Best Short Film Award di Hanoi International Film Festival 2012 di Vietnam, serta Dokumenter Terbaik XXI Short Film Festival 2015.

still foto2

Saat ini BW Purba Negara sedang dalam tahap akhir penyelesaian film layar lebar berjudul Ziarah yang diproduksi secara independen bersama tim kerja yang kesemuanya merupakan filmmaker Yogyakarta. Seperti halnya film Digdaya Ing Bebaya, film Ziarah juga mengambil tokoh wanita berusia lanjut sebagai karakter utamanya.

Film Ziarah bercerita tentang perjalanan mbah Sri (95 tahun) dalam mencari makam suaminya yang hilang pada masa Agresi Militer Belanda II di tahun 1949. Tujuan pencarian ini sederhana saja, setelah meninggal nanti mbah Sri ingin dimakamkan di samping makam sang suami. Ziarah adalah film cinta dengan sudut pandang yang tidak biasa.

Tokoh utama film ini diperankan oleh mbah Ponco Sutiyem, seorang wanita berusia 95 tahun asal kecamatan Ngawen, Gunung Kidul. Barangkali mbah Ponco ini adalah aktor paling tua yang bermain sebagai tokoh utama dalam film Indonesia. Di usia senjanya ia mampu berakting dengan sangat prima. Film ini mengambil lokasi pengambilan gambar di Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, Klaten, dan Boyolali. Rencananya film ini akan dirilis secara nasional pada akhir tahun 2016.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY