Film Epik Sejarah Indonesia Dari Masa Ke Masa

Film Epik Sejarah Indonesia Dari Masa Ke Masa

2878
SHARE
Ilustrasi: Foto film Laskar Pemimpi

Oleh: Daniel Irawan

‘Seperti apa sebenarnya film epik sejarah Indonesia itu?’ Genre historical epic, dalam banyak literatur, mungkin punya banyak detil-detil definisi berbeda. Tapi dalam film Indonesia, genre ini jelas punya ciri khas tersendiri. Persepsinya bisa jadi akan sangat bias ke tema-tema legenda yang juga menggunakan elemen-elemen sejarah sebagai latar belakangnya. Sebagian lagi mungkin menganggapnya sama dengan film kolosal karena rata-rata bangunan set-nya membutuhkan bujet lebih untuk lokasi hingga kostum yang otentik, belum lagi penggunaan extras yang cukup banyak. Semuanya tak salah memang, karena kebanyakan genre ini berada dibalik ambisi besar pembuatnya, dan dalam pemaparan kisah-kisah kepahlawanan ini, tak semuanya juga harus berupa biopik dengan karakter tokoh-tokoh nyata.

Lebih dari latar sejarah kerajaan-kerajaan kuno, genre epik dalam film Indonesia agaknya lebih lekat pada tema-tema perjuangan kemerdekaan. Pasalnya, film-film dengan nafas legenda itu lebih sering dibalut bersama genre fantasi yang lebih bertujuan komersil, sementara film-film epik dengan latar perjuangan kemerdekaan, lepas dari wujudnya sebagai propaganda yang dijadikan kendaraan politik atau tidak, terutama dalam era pemerintahan orde baru, lebih mementingkan pendekatan sinematis yang seimbang antara estetika dengan sekedar komoditas jualan, dimana grand scale production, human drama dan sisi historisnya berjalan sama kuat. Seperti apa perkembangannya dari masa ke masa, mari lihat lebih dekat.

1950 – 1960

Meski dalam catatan sejarahnya film Indonesia sudah diproduksi sejak tahun 1926 dengan film ‘Loetoeng Kasaroeng’ produksi Java Film Co., film-film yang diproduksi setelahnya memang hampir tak meninggalkan jejak untuk bisa dilihat lagi sekarang. Hingga tahun 1950, film ‘The Long March (Darah dan Doa)’ yang diproduksi Perfini dengan sutradara Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail, yang dianggap sebagai titik terpenting dalam sejarah perfilman kita lewat keputusan konferensi kerja Dewan Film Indonesia dengan organisasi perfilman lewat sepuluh tahun sesudahnya. Konferensi ini menetapkan ‘Darah dan Doa’ sebagai pembuatan film nasional pertama yang kemudian diperingati sebagai Hari Film Nasional berdasar hari syuting pertamanya di tanggal 30 Maret 1950.

Sebagai film epik sejarah yang mengisahkan long march prajurit RI dari Yogyakarta ke Jawa Barat, genre ini tak lantas berkembang jadi trend pada masa itu. Baru setahun setelahnya, Usmar Ismail kembali membuat “Enam Djam Di Djogdja’ (1951), masih dari Perfini, yang mengangkat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Narasinya tetap fiktif, namun mengacu pada fakta nyata peristiwa itu.

Setelahnya, ada ‘Rodrigo de Villa’ (1952) produksi Persari yang merupakan joint venture Indonesia dengan Filipina namun mengetengahkan sejarah luar dibalik penyerangan Turki ke Spanyol. Tak banyak lagi genre ini diproduksi walau sebagian film-film bergenre drama masih menggunakan latar revolusi dalam plotnya seperti ‘Krisis’ dan ‘Lewat Djam Malam’-nya Usmar Ismail, hingga di tahun 1957, muncul ‘Turang’ yang merupakan produksi Rentjong Film Corp, Medan dengan sutradara Bachtiar Siagian.

Memenangkan film terbaik FFI 1960 serta Piala Citra untuk sutradara, artistik dan pemeran pembantu pria terbaik, ‘Turang’ mengisahkan perjuangan gerilya melawan penjajah di Tanah Karo. Era ini kemudian ditutup oleh lagi sebuah film dari Usmar Ismail, ‘Pedjuang’ yang juga berlatar perjuangan melawan agresi militer Belanda namun sebenarnya lebih kental terasa sebagai film drama perang ketimbang nuansa epik sejarahnya.

1960 -1970

Genre epik sejarah di era ini dibuka dengan ‘Pagar Kawat Berduri’ (1961) arahan Asrul Sani yang banyak dianggap sebagai film epik namun sebenarnya lebih berupa POW drama. Sayangnya, film ini terbentur pada agenda politik dari partai tertentu hingga peredarannya dicekal.

‘Teror di Sumatera Selatan’ arahan Bambang Hermanto yang diangkat dari kisah nyata pembantaian 40.000 nyawa oleh Westerling sayangnya juga gagal menghadirkan gaung besar untuk membuatnya tetap diingat sebagai salah satu film klasik kita.

1970 – 1980

Trend film silat – legenda dan adaptasi komik yang dipicu oleh ‘Si Buta Dari Gua Hantu’ dan ‘Si Pitung’ di tahun yang sama sangat mewarnai film Indonesia di awal tahun ’70-an bersama drama genre action modern dari pengaruh film-film luar. Berturut-turut setelah itu ada ‘Tuan Tanah Kedawung’ yang juga diangkat dari komik karya Ganes T.H., ‘Api di Bukit Menoreh’, ‘Tjisadane’ dan sekuel-sekuel Si Buta serta Si Pitung. Namun hanya dengan skala produksinya yang cukup besar, walaupun sebagian berlatar sejarah, agaknya belum layak untuk digolongkan ke genre epik.

Baru ‘Perawan di Sektor Selatan’ (1971, Alam Surawidjaja)-lah yang kembali memulainya. Walau lebih kuat dalam nafas drama dari plot fiktifnya, penggarapan keseluruhannya terasa lebih pantas masuk ke genre ini, diikuti ‘Mereka Kembali’ (1972) yang disutradarai Nawi Ismail. Kembali mengangkat latar Long March Divisi Siliwangi seperti ‘Darah dan Doa’, namun dengan plot yang berbeda, wujudnya sebagai sebuah epik sejarah sangat kuat.

Genre ini kembali berlanjut pada sebuah biopik pahlawan yang bisa dianggap pertama kali muncul dalam film Indonesia. ‘Pahlawan Goa Selarong’ (1972, Lilik Sudjio) mengangkat biopik Pangeran Diponegoro dan perlawanannya terhadap Belanda. ‘Pelangi di Langit Singosari’ di tahun yang sama mengangkat legenda Ken Dedes dan Tunggul Ametung di kerajaan Singosari, namun fokus ceritanya lebih diarahkan ke tokoh fiktif yang diperankan oleh Pong Hardjatmo dalam penampilan debutnya sebagai aktor utama.

‘Romusha’ (1972, S.A. Karim) yang konon menggambarkan kekejaman Jepang di era pendudukannya sebenarnya sudah lolos sensor namun dilarang beredar oleh Departemen Penerangan dengan alasan bisa mengganggu hubungan bilateral Indonesia – Jepang. Di tahun yang sama, muncul juga ‘Sisa-Sisa Laskar Pajang’ (CM Nas) yang lebih menyolok dari penggarapan kolosalnya. Dengan penggunaan seribuan pemeran figuran serta lebih dari 200 kuda, adaptasi novel ini mengetengahkan latar perang kerajaan Pajang melawan Mataram.

Sempat tertinggal lagi dengan merebaknya trend komedi yang dibawa Benyamin S., ‘Max Havelaar (Saijah dan Adinda)’ (1975, Fons Rademaker, Mochtar Soemodimedjo) yang merupakan joint venture production Belanda – Indonesia) dan sebenarnya lebih memfokuskan idealisme protes terhadap sistem kolonial karakter utamanya ketimbang roman berlatar belakang sejarah kemudian juga tertahan lebih dari sepuluh tahun di Badan Sensor Film.

Di tahun 1976, ada ‘One Way Ticket (Semoga Kau Kembali)’ arahan Motinggo Boesje yang meskipun lebih berupa drama namun menampilkan latar patriotisme Yos Sudarso untuk membebaskan Irian Barat dibalik promosinya terhadap korps Angkatan Laut RI.

Produksi film yang makin berkembang di pertengahan era ’70-an dengan tingginya animo penonton film Indonesia kemudian membuat film-film dengan tujuan komersil lebih banyak diproduksi setelahnya hingga di tahun 1977 muncul ‘Para Perintis Kemerdekaan’ arahan sutradara Asrul Sani. Ketimbang berfokus pada kisah roman dalam source novel-nya, ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ karya HAMKA, Asrul Sani lebih menyorot atmosfer perjuangan bersama nilai-nilai relijius hingga poin-poin penting dalam emansipasi perjuangan wanita. Begitupun, keseluruhannya justru jadi sangat baik sebagai sebuah adaptasi yang menangkap gagasan-gagasan besar yang ada dalam novelnya, jauh dari adaptasi tahun 2000-an barusan.

Di tahun berikutnya, 1978, hadir pula ‘November 1828’ karya Teguh Karya yang merupakan salah satu epik sejarah terbaik yang pernah diproduksi. Dibalik gambaran tradisi masyarakat Jawa yang sangat kuat bersama latar Perang Diponegoro yang tak pernah mendistraksi plot utamanya yang diilhami drama ‘Montserrat’, penggarapan sinematisnya sangat luarbiasa hingga memenangkan 6 Piala Citra untuk film, sutradara, fotografi, musik, artistik dan pemeran pembantu pria terbaik.

Ada juga ‘Singa Lodaya’ karya sutradara Yudhi DH dan Soeparmin, epik tentang pasukan brigade mobil berlatar perjuangan kemerdekaan dan penumpasan PKI Madiun, ‘Tengkorak Hitam’ (Wishnu Mouradhy) yang lebih kental sebagai film silat, sebelum lagi sebuah biopik yang sangat diingat hadir di tahun 1979. ‘Janur Kuning’ (Alam Surawidjaja) kembali mengangkat peristiwa Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta dengan fokus karakter ke Soeharto dan Soedirman yang masing-masing diperankan oleh Kaharuddin Syah dan Deddy Soetomo. Sama seperti ‘November 1828’, ‘Janur Kuning’ juga dianggap sebagai film berbujet termahal di zamannya.

1980 – 1990

Maraknya genre drama, musikal dangdut serta komedi yang mulai mengangkat nama Warkop di awal-awal tahun ’80-an masih menyisakan sejumlah film epik sejarah yang rata-rata tergolong bagus. Hadirnya PPFN yang sering dianggap sebagai propaganda pemerintahan Orde Baru sebenarnya malah membuat penggarapan sejumlah film epik sejarah di era ini tak main-main. Dan semakin banyak pula film perang komersil yang muncul dengan latar belakang sejarah, sebagian dengan kualitas sangat baik. Jadi bisa dibilang, genre epik sejarah justru mencapai puncaknya sebagai komoditas film di era ini, khususnya di awal ’80-an.

‘Jaka Sembung’ (1981, Sisworo Gautama Putra) ada di kombinasi epik dengan silat fantasi. Mengangkat nama Barry Prima ke genre action, meski lebih berupa adaptasi komik silat fiktif namun latar penjajahan Belanda-nya digarap dengan nafas epik yang kental.

‘Kereta Api Terakhir’ produksi PPFN (Mochtar Soemodimedjo) di tahun yang sama juga merupakan sebuah epik sejarah yang sangat baik. Dilatarbelakangi peristiwa gagalnya perjanjian Linggarjati, adegan-adegan perangnya yang seru digarap secara kolosal melibatkan banyak figuran serta detil-detil rapi.

Karya monumental Arifin C. Noer, ‘Serangan Fajar’, juga produksi PPFN, masih sangat diingat sampai sekarang. Filmnya boleh saja menyempalkan propaganda pemerintahan Soeharto (dalam film ini diperankan Antonius Yacobus), tapi plot yang dibangun dari kacamata bocah kecil Temon (Dani Marsuni, mendapat penghargaan khusus FFI 1982 untuk pemeran anak-anak) membuat penelusuran latar sejarah dari Yogyakarta ke Salatiga, Semarang jadi luarbiasa memikat dibalik penggarapan kolosalnya. Jauh sebelum ‘Empire Of The Sun’, kita sudah punya sebuah epik sejarah dengan pendekatan serupa. ‘Serangan Fajar’ memenangkan 6 Piala Citra di FFI 1982 untuk film, sutradara, cerita, artistik, musik, dan pemeran pembantu wanita.

Berlanjut ke ‘Djakarta 1966’, masih dari PPFN, yang sayangnya kurang menarik perhatian masyarakat. Mengangkat proses sejarah lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dengan karakter Soekarno dan Soeharto yang diperankan Umar Kayam dan Amoroso Katamsi, unofficial prequel-nya, ‘Pengkhianatan G30S PKI’ di tahun yang sama, tetap dengan cast Soekarno dan Soeharto yang sama dan penyutradaraan Arifin C. Noer, menjadi sebuah epik sejarah yang sangat fenomenal, satu pencapaian terbaik dalam sinema kita, meskipun lagi-lagi ditunggangi propaganda.

Lagi, di tahun yang sama ada dua biopik pahlawan nasional. Yang pertama, ‘R.A. Kartini’ karya Sjuman Djaja. Di tangan Sjuman, Jenny Rachman yang memerankan Kartini serta barisan aktor pendukung terkenal, pendekatan romantik dalam biopik ini muncul dengan solid bersama detil-detil penggarapan cukup luarbiasa. Dalam FFI 1983, ‘R.A. Kartini’ meraih Piala Citra untuk fotografi, musik dan pemeran pembantu wanita terbaik. Biopik kedua adalah ‘Tapak-Tapak Kaki Wolter Mongonsidi’ (Franky Rorimpandey) yang dibintangi Roy Marten.

Bersama tiga film produksi PPFN  dan dua biopik tadi, tahun 1982 juga mencatat dua film epik sejarah dengan pendekatan lebih komersil, tapi bukan berarti jelek dari segi kualitas. ‘Lebak Membara’ arahan Imam Tantowi yang berlatar penjajahan Jepang di beberapa kategori termasuk skripnya mendapat nominasi FFI, namun ‘Pasukan Berani Mati’ dari sutradara yang sama seakan mengulang banyak elemen dari ‘Pedjuang’-nya Usmar Ismail ke dalam sebuah tontonan epik berdaya jual sangat tinggi dibalik judul yang benar-benar catchy itu. Sekilas film ini terlihat sangat komikal, tapi bukan saja eksplorasi kultural dari masing-masing karakter dalam ensemble cast juaranya tampil dengan detil cukup dalam, adegan perangnya juga tertata sangat baik. ‘Pasukan Berani Mati’ merupakan film terlaris di tahunnya.

Masih ada pula ‘Pak Sakerah’ (BZ Kadaryono) yang diangkat dari ludruk terkenal masa itu, ‘Si Jagur’ (Fritz G. Schadt) yang membangun fantasi kisah bajak laut dibalik penjajahan Belanda, ‘Tongkat Sakti’ (Buce Malawau), juga berlatar penjajahan Belanda serta tiga legenda dengan latar sejarah yang cukup kental. ‘Roro Mendut’ (Ami Priyono), dan dua versi dari Sangkuriang yang bersaing ketat ; satunya karya Sisworo Gautama Putra yang dibintangi Suzanna – Clift Sangra dan satunya lagi dari Pitrajaya Burnama, dibintangi Marissa Haque dan Alan Nuari.

Trend legenda berlatar sejarah ini masih berlanjut ke tahun 1983 dibuka dengan ‘Banteng Mataram’, ‘Arya Penangsang’ dan ‘Jaka Tingkir’ (ketiganya oleh sutradara Bay Isbahi), ‘Damarwulan dan Minakjinggo’ (Lilik Sudjio) yang berlatar Majapahit, ‘Jaka Geledek’ (Fritz G. Schadt) ; adaptasi komik Djair yang berlatar Perang Diponegoro, ‘Jayaprana’ (BZ Kadaryono), ‘Ken Arok – Ken Dedes’ (Djun Saptohadi), ‘Lara Jonggrang’ (Jimmy Atmadja), versi baru ‘Lutung Kasarung’ (Pitrajaya Burnama), ‘Pandawa Lima’ (Lukman Hakim Nain), satu yang dibalut dengan komedi, ‘Musang Berjanggut’ (Pitrajaya Burnama) dengan all star cast-nya, serta yang berbau relijius dan belakangan melahirkan trend berbeda, ‘Sunan Kalijaga’ (Sofyan Sharna).

Bersama trend epik legenda ini, juga ada tiga film berlatar ‘jugun ianfu’ (military comfort women) ; ‘Budak Nafsu’ (Sjuman Djaja), ‘Kadarwati’ (Sophan Sophiaan) dan yang lebih berbau komersil, ‘Kamp Tawanan Wanita’ (Jopi Burnama). Terakhir adalah kisah cinta berlatar sejarah tanam paksa, ‘Johanna’ (Wim Umboh).

Arusnya kemudian berhenti di tahun 1984 dan kembali secara perlahan di tahun 1985 dengan ‘Film dan Peristiwa’ (Usman Effendy) dari PPFN. Mengangkat sejarah Berita Film Indonesia (BFI) yang jadi cikal bakal PPFN dan menggelar sejarah panjang Indonesia dari Proklamasi Kemerdekaan ke Agresi Militer Belanda, ‘Film dan Peristiwa’ yang juga dikenal dengan judul ‘Detik-Detik Proklamasi’ sayangnya tak didistribusikan secara meluas di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Mungkin karena hampir tak memiliki nama yang dikenal dalam deretan cast-nya.

Inem Film yang kebanyakan produksinya makin melenceng dari segi kualitas juga masih memproduksi kisah-kisah legenda berlatar sejarah namun sayangnya tak cukup layak untuk dimasukkan ke genre epik, salah satunya karena skala produksi yang asal jadi saja. ‘Komando Samber Nyawa’ dari sutradara Eddy G. Baker pun gagal mengulang kualitas ‘Pasukan Berani Mati’ dan berhenti lebih sekedar sebuah film perang ketimbang epik sejarah. Hanya trend legenda reliji tentang kisah para Sunan yang berkembang di tahun ini, itupun tak semuanya punya kualitas sama. ‘Sembilan Wali’ (Djun Saptohadi) dan sekuel Sunan Kalijaga, ‘Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar’ (Sofyan Sharna) masih cukup baik, namun ‘Sunan Gunung Jati’ (Alim Bachtiar) sayangnya tak begitu.

Di tahun 1986, untungnya ada dua epik sejarah yang sangat monumental. ‘Naga Bonar’ (MT Risyaf) yang jadi begitu menarik dengan balutan komedi dari skrip Asrul Sani, dan ‘Tjoet Nja’ Dhien’ (Eros Djarot) yang bukan saja jadi salah satu epik sejarah terbaik yang pernah diproduksi, tapi juga memenangkan 8 Piala Citra FFI 1988 (film, sutradara, skenario, pemeran utama wanita, cerita, musik, fotografi dan artistik)  sekaligus menjadi film terlaris di tahunnya. Sebuah pencapaian gemilang yang jarang-jarang terjadi dalam sejarah film kita. PPFN masih memproduksi ‘Operasi Trisula (Penumpasan Sisa-Sisa PKI Blitar)’  (BZ Kadaryono) yang sayangnya berkualitas jauh sekali dibawah ‘Pengkhianatan G30S PKI’.

Sementara 1987 hanya punya satu film yang mendekati, yang sayangnya terkesan aji mumpung merombak legenda klasik luar ‘Samson dan Delilah’ ke fantasi berlatar sejarah dengan Suzanna sebagai jualan utamanya. Skala produksinya cukup lumayan, tapi tak cukup baik untuk disebut sebuah epik sejarah.

‘Gema Kampus 66’ (Nico Pelamonia) di tahun 1988 cukup berusaha menghidupkan kembali peristiwa bersejarah demonstrasi tahun 1966 di Bandung, namun secara keseluruhan  lebih berupa melodrama cinta. Dengan pendekatan yang tak jauh berbeda, ‘Irisan-Irisan Hati’ (Djun Saptohadi) yang menampilkan aktor-aktor Malaysia dan mengangkat sejarah konfrontasi Indonesia – Malaysia jauh lebih baik walaupun belum mencapai kualitas sebagai sebuah epik. Ada juga ‘Noesa Penida’ (Galeb Husein) yang lebih layak dibalik romantisasinya.

Balutan sejarah dalam legenda ‘Prabu Siliwangi’ (Sofyan Sharna) dan ‘Pendekar Ksatria’ (Jopi Burnama) sayangnya tak jauh beda dari produksi-produksi Inem Film belakangan, namun franchise ‘Saur Sepuh’ yang diangkat dari sandiwara radio fenomenal cukup layak dianggap sebagai epik sejarah. Meski tema fantasinya juga kuat, skala produksinya yang cukup kolosal tak digarap secara sembarangan, paling tidak untuk ukuran film Indonesia di zaman itu. Lima sekuelnya hingga tahun 1992 tetap bisa mempertahankan kualitas dengan beberapa diantaranya tetap menjadi film terlaris dan juga meraih Piala Citra dalam kategori teknis. Pengikutnya banyak, dari ‘Tutur Tinular’, ‘Babad Tanah Leluhur’ hingga ‘Misteri Dari Gunung Merapi’ tapi tak ada yang bisa menyaingi kualitasnya secara keseluruhan.

1990 – 2000

Era 1990 – 2000 yang hampir separuhnya ditandai dengan mati surinya film Indonesia hanya menyisakan beberapa film epik sejarah yang masih bisa dianggap baik. Di tahun 1990 ada ‘Soerabaia 45’ (Imam Tantowi) yang mengangkat peristiwa 10 November Surabaya. Imam Tantowi meraih Piala Citra FFI 1991 sebagai Sutradara Terbaik, di 1991 ada ‘Langit Kembali Biru’ (Dimas Haring) yang mengangkat konflik integrasi Timor Timur dengan pendekatan romantis, kemudian ‘Oeroeg’ (Hans Hylkema), sebuah produksi joint venture dengan Belanda, Belgia dan Jerman di tahun 1992.

Setelah bergelut dengan banyak film-film asal jadi, sebagian besar nyaris seperti pornografi dari 1993 setelahnya, baru di tahun 1997 sutradara Chaerul Umam mencoba melawan arus dengan karya ambisiusnya, ‘Fatahillah’ yang digarap secara kolosal dengan biaya 3M. Sayangnya, ‘Fatahillah’ yang hanya beredar secara terbatas gagal menjadi lokomotif kebangkitan film nasional seperti yang dicanangkan para pembuatnya dari Pemda DKI dan GPBSI.

2000 – Sekarang

Setelah melewati masa mati suri perfilman Indonesia dan kebangkitannya secara perlahan, baru di tahun 2001 ‘Ca Bau Kan’ karya Nia Dinata kembali mencoba pendekatan ini dengan kisah cinta klasiknya. Belum sepenuhnya bisa disebut epik sejarah, tapi skala produksi untuk menghadirkan set-nya bisa dibilang cukup baik. Masalah bujet mungkin selanjutnya membuat para produser menjauhi genre ini di saat film kita mulai bangkit, walaupun ada ‘Singa Karawang Bekasi’ (Nurul M. Berry) di tahun 2003 yang beredar terbatas hanya di Jakarta – Bekasi dan Jawa Barat, itupun dengan kualitas seadanya.

Biopik ‘Gie’ (Riri Riza) di tahun 2004 adalah salah satu yang berhasil sebagai epik sejarah dengan penggarapan sangat layak, dan jauh setelah itu, baru di tahun 2009 ada ‘Merah Putih’ (Yadi Sugandi) yang menjadi awal dari trilogi-nya, diikuti biopik K.H. Ahmad Dahlan karya Hanung Bramantyo, ‘Sang Pencerah’ (2010).

Terakhir, kita punya ‘Sang Kiai’ dari Rako Prijanto, tentang biopik K.H. Hasyim Asyari, salah satu pendiri Nadhatul Ulama, dan yang sebentar lagi bakal tayang, ‘Soekarno’ versi Hanung Bramantyo yang sangat ditunggu atas kontroversinya. Secara kualitas, meskipun secara sinematis teknik yang ada sekarang sudah jauh lebih memadai, mungkin belum ada yang benar-benar bisa menyaingi film-film epik sejarah di era kejayaannya dulu. Selalu ada yang sisi yang kurang di dalamnya, terutama dari segi detil dalam keseluruhan produksinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY