Film, Kritik Dan Logika

Film, Kritik Dan Logika

2372
SHARE

Oleh: Suluh Pamuji

Ada dua jenis kritik film: kritik jurnalistik dan kritik akademis. Yang pertama muncul di koran harian. Yang kedua di jurnal ilmiah. Yang pertama biasa dikerjakan oleh wartawan di suatu surat kabar. Yang kedua oleh sarjana/akademisi. Keduanya sama-sama punya peran di ranah kepenontonan. Untuk menyingkatnya, kita kutip saja klise lama: masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Saya tidak hendak berfokus pada kategorisasi itu. Walaupun pada era digital ini, relevansi dari kategorisasi itu perlu ulang. Dalam esai ini, saya lebih tertarik untuk mengurai esensi dari kritik secara umum. Artinya, kritik dalam kategorisasi dan ikhwal apapun. Yang dalam konteks kita adalah kritk film.

Berangkat dari hiruk pikuk kebebasan berpendapat, kritik—beserta sifatnya: kritis—berbaur dengan keluh kesah atas keadaan, terlebih di sosial media. Misalnya: Facebook dan Twitter. Hingga pada suatu malam, dalam obrolan via Facebook, kawan saya—sebut saja namanya Otong—bertanya: “Kritik itu dasarnya apa sih? Logika atau keluh kesah?” Pertanyaan itu terlontar tatkala si kawan merasa bahwa kritik dewasa ini lebih tampak sebagai keluh kesah, ketimbang analisis logis. Sebagaimana langit mendung yang kemudian meniscayakan keluhan: “Duh…! Bentar lagi mau hujan”.

Dalam konteks film Indonesia, keluhan serupa juga terjadi. “Baim Wong meranin Soekarno. Duh…! Bentar lagi Indonesia bubar.” Demikianlah problem kritik—maaf, maksud saya keluh kesah—yang coba saya tangkap dari pertanyaan retoris dari kawan Otong. Keluh kesah macam itu boleh saja. Namun jika itu dianggap syahih sebagai kritik. Saya menolaknya. Kritik mestinya konstruktif. Ia harus punya dasar, urutan-urutan dan pembuktian logis. Itu setidaknya bagi saya—sebagaimana tersirat pada pertanyaan retoris dari kawan Otong di muka—kritik dasarnya adalah logika, bukan keluh kesah. Kenapa demikian? Untuk menjawabnya, kita perlu njlimet sejenak dengan pertanyaan: “Apa itu kritik?”

Aspek yang paling bisa dipastikan dari terma “kritik” adalah aspek etimologisnya. Kritik merupakan kata benda yang kerap diasosiakan dengan kata sifat: kritis. Kritik berakar dari bahasa Latin criticus dan Yunani kritikós. Keduanya memiliki arti: ketrampilan menilai. Saya pribadi lebih suka mengartikan kritik sebagai upaya untuk memberikan nilai. Memberikan nilai terhadap  apa? Terhadap objek tertentu. Misalnya: film. Dengan demikian, jika kritik itu adalah kritik film, berarti kritik film adalah upaya untuk memberikan nilai pada film. Bisa satu film, bisa banyak film. Menempatkan banyak film sebagai objek kritik tentu saja lebih ribet. Ini biasanya dilakukan oleh kritikus film untuk memperoleh panorama filmik yang lebih luas. Yang jelas intinya, dalam upaya menilai (baca: kritik) berarti ada penilai dan sesuatu yang dinilai.

Dalam KBBI, kritik diartikan sebagai ‘kecaman’—atau sekedar tanggapan yang kadang-kadang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dls. Walaupun diurai dengan bahasa lain. Kita punya arti leksikal dari kritik yang praktisnya adalah menilai. Karenanya kritik akan selalu berurusan dengan kategori nilai, seperti: benar, salah, baik, buruk, elok, jelek, bajik, durjana dls. Selanjutnya jika kita tengok posisi kritik dalam konteks modernitas. Kritik pada dasarnya mengemuka sebagai cara pandang manusia modern. Jelasnya ketika manusia memaksimalkan rasio/akal-budinya untuk menggapai pengetahuan yang lebih terang. Dengan demikian berarti, kritik berkait erat dengan rasionalitas. Atau meminjam ungkapan Martin Suryajaya: “kritik sebagai saudara kandung rasionalitas”.

Dalam konteks filsafat, terma ‘kritik’ secara khusus dipakai Imanuel Kant dalam triologi Critique-nya: Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, Critique of Judment. Di situ Kant mengesensialkan kritik menjadi kritisisme. Menurut Kant, “praktik kritisisme tidak hanya melibatkan kekuasaan lembaga-lembaga agama, politik, tapi juga nalar itu sendiri”. Kant hendak mengarahkan kritik pertama-tama pada nalar, spesifiknya: nalar murni. Jadi ketika nalar murni sebagai sasaran pertama kritik Kant, kemudian kita tahu kritik dikonstruksi oleh nalar. Maka dalam konteks Kantian, kritik kemudian berfungsi sebagai pemeriksa penilaian-penilaian dan klaim-klaim yang semata untuk menetapkan kesyaihannya sendiri. Sederhananya, dalam trilogi itu Kant hendak menunjukan bahwa sebuah kritik atas objek kritik tertentu bukan berarti bebas masalah. Atau dalam konteks kita, bisa diilustrasikan ulang bahwa sebuah kritik untuk film A dari kritikus B pada dasarnya terbuka untuk dikritik.

Sampai sini, kita cukup tahu bahwa sebuah kritik film pertama-tama dimungkinkan karena adanya objek kritik bernama film. Selanjutnya, sebuah uraian kritis tentang film dimungkinkan karena adanya perangkat untuk mengoperasikan kritik. Perangkat itu bagi saya adalah nalar. Yang dalam konteks ilmiah, ilmu tentang nalar disebut logika. Demikianlah logika sebagai dasar kritik yang pada tataran praktisnya berlaku sebagai perangkat kritik. Logika perlu dioperasikan untuk melampaui keluh kesah. Sedemikian rupa sehingga kritik film kita, baik itu yang masuk kategori kritik jurnalistik, kritik akademis ataupun kritik blog—dalam era digital, bisa membersihkan diri dari keluh kesah. Alias eksplanasi kritik atau paparan dari hasil penilaian yang masih sebatas rasa-rasanya: rasa-rasanya aktor dalam film A bermain kurang baik; rasa-rasanya narasi sejarah B dalam film C kurang riset; rasa-rasanya filmaker kita masih sebatas tukang; atau rasa-rasanya penulis esai ini anti-perasaan; dan seterusnya… dan seterusnya..

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY