Film Mencari Hilal dan Guru Bangsa Tjokroaminoto Di Tokyo International Film Festival...

Film Mencari Hilal dan Guru Bangsa Tjokroaminoto Di Tokyo International Film Festival 2015

2174
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Selagi film-film kita berjuang mengumpulkan penontonnya di negeri sendiri, prestasi-prestasi dalam membawa film-film itu ke festival-festival internasional justru semakin meluas.

‘Mencari Hilal’ karya Ismail Basbeth dan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ karya Garin Nugroho ada di lineup Tokyo International Film Festival edisi ke-28 tahun ini. Sebagai salah satu perayaan film internasional terbesar di Asia, mereka memang bukan baru sekali ini menayangkan film-film Indonesia. Beberapa diantaranya malah ikut berkompetisi dalam berbagai segmen yang terus mengalami regenerasi dan diversifikasi dalam festivalnya.

Salah satu scene dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto
Salah satu scene dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto karya Garin Nugroho

Di edisi ke-24-nya di tahun 2011, ada ‘The Mirror Never Lies’ dari Kamila Andini yang berhasil meraih penghargaan Toyota Earth Grand Prix dan Special Mention dalam kategori Winds of Asia – Middle East. Tahun berikutnya, ‘Atambua 39oC’ besutan Riri Riza berhasil masuk ke dalam kategori Kompetisi Utama berikut segmen spesial ‘Indonesian Express’ yang berfokus ke Garin Nugroho; Edwin dan Riri dengan pemutaran 6 film mereka; ‘Soegija’, ‘Mata Tertutup’, ‘Postcards from The Zoo’, ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’, ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Sang Pemimpi’.

‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’ dari Mouly Surya menyambung tradisi ini di tahun berikutnya dalam segmen non-kompetisi ‘World Focus’, diikuti ‘Selamat Pagi, Malam’ karya Lucky Kuswandi di tahun berikutnya sebagai film Indonesia pertama yang berkompetisi di segmen ‘Asian Future’ yang baru dibuka setahun sebelumnya.

‘Asian Future Sections’ ini mereka gagas di tahun 2013 untuk menunjukkan dukungannya terhadap karya filmmaker-filmmaker muda yang tengah berkembang dari Asia. Melebarkannya ke hitungan tiga film dari feature pertama atau kedua di tahun sebelumnya, para pesertanya akan berkompetisi memperebutkan ‘Best Asian Future Film Award’ sekaligus ‘The Spirit of Asia Award’ yang baru dianugerahkan tahun lalu lewat kerjasama mereka dengan Japan Foundation. Untuk tahun ini, segmennya akan dinilai tiga juri internasional; Jacob Wong (pegiat festival film Hong Kong), Olivier Père (kritikus film Perancis) dan Tatsushi Omori (sutradara Jepang).

Menurut Kenji Ishizaka, Programming Director kategori ini, ada beberapa karakteristik penting dari proses pemilihannya. Selain sebagian besar film ada di status world/international premiere-nya, untuk tahun ini, ada 5 dari 10 film yang disutradarai oleh sineas wanita. Dan saat generasi sineas-sineas baru ini berkembang dibalik latar-latar berbeda dari negaranya, ada variasi konten yang juga terlihat dari karya-karya itu. Selagi film-film dari kawasan Asia Timur masih sangat diwarnai love story, Selatan dan Timur Tengah lebih suka bicara tentang tema-tema sosial.

Scene film Mencari Hilal, Karya Ismail basbeth
Scene film Mencari Hilal, Karya Ismail basbeth

‘Mencari Hilal’ (‘The Crescent Moon’; international title) yang merupakan film panjang kedua sutradara Ismail Basbeth setelah ‘Another Trip to the Moon’ akan berkompetisi dalam kategori Asian Future bersama 9 film lainnya; ‘The Actor’ (Satoko Yokohama; Jepang), ‘Kaash’ (Ishaan Nair; India), ‘The Island Funeral’ (Pimpaka Towira; Thailand), ‘The Kids’ (Sunny Yu; Taiwan), ‘Lazy Hazy Crazy’ (Luk Yee-sum, Hong Kong), ‘Shoot Me in the Heart’ (Mun Che-yong; Korea), ‘A Simple Goodbye’ (Degena Yun; China), ‘Merdiven Baba’ (Hasan Tolga Pulat; Turki), dan ‘Young Love Lost’ (Xiang Guoqiang; China).

Sementara ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ (‘The Hijra’; international title) karya Garin Nugroho, juga dalam treatment International Premiere, akan mengisi segmen World Focus bersama film-film lainnya dengan kriteria karya sutradara ternama yang sudah mendapat pengakuan internasional lewat berbagai festival – namun belum dirilis di Jepang. Lebih dari separuh film-film yang ditayangkan dalam segmen ini akan dirilis di Jepang nantinya.

Ada catatan spesial dari terpilihnya baik ‘Mencari Hilal’ dan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ yaitu bahwa terlepas dari jumlah penonton yang masih sangat tak maksimal di sinema kita, keduanya memang merupakan dua film Indonesia yang sangat menonjol dengan status critically acclaimed di tahun ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY