Film Nasional & Distribusinya

Film Nasional & Distribusinya

1294
SHARE

Sebuah film yang diproduksi, tentunya adalah sebuah ekspresi kesenian dan juga budaya yang melatarbelakanginya, baik latar belakang budaya dalam cerita film, maupun si pembuatnya. Dan selalu, latar belakang budaya ini menjadi pesan penting yang ingin disampaikan ke penonton yang menyaksikan film tersebut. Dan sebagai ekspresi komunikasi, tentunya film juga memiliki pesan yang ingin disampaikan dan pasti ada nilai edukatif di dalamnya.

Kita mahfum, bagaimana sebuah film yang memiliki nilai positif dan bisa menjadi alat edukasi itu bisa termaknai dengan baik oleh penontonnya dan bisa mempengaruhi pola budaya, itu sangat tergantung pada bagaimana film tersebut bisa ditonton oleh khalayak, sebanyak-banyaknya. Dan situasi itu sangat tergantung pula pada peran distribusi yang merata. Ya, merata, dalam arti semakin banyak wilayah yang bisa terjangkau oleh film tersebut dan diputar dalam ruang-ruang pertunjukkan sebanyak-banyaknya.

Saat ini, di mana era kejayaan distribusi film nasional sudah pernah dilewati, merupakan masa suram distribusi film nasional. Bagaimana jumlah bioskop dan ruang-ruang pertunjukkan film nasional semakin habis dan menyusut. Bagaimana sebaran bioskop dan ruang-ruang pertujukkan hanya bermotifkan hasrat komersial dan mencari keuntungan belaka. Bagaimana hal tersebut hanya terpusat di kota-kota besar saja. Ini menandakan bahwa film nasional seolah dipaksa untuk “memotong kakinya sendiri” dengan tidak tersedianya ruang-ruang pertunjukkan itu.

Bayangkan saja, sebuah bangsa dengan 240 juta penduduknya, memiliki film nasional yang dianggap “Box Office” hanya karena ditonton oleh 4 juta penonton, atau hanya 1,67% dari jumlah penduduknya. Semakin miris ketika perolehan penonton dengan jumlah sebesar itupun hanya mampu diraih oleh satu film nasional selama hampir satu dasawarsa. Korea Selatan mampu mendorong film nasionalnya ditonton hingga 10% penduduknya. Untuk kita, tak perlu muluk, cukup 5% saja, itu sudah teramat bagus dan membahagiakan.

Namun, dengan diam dan hanya menerima situasi ini juga tidak akan memberikan perubahan apa-apa bagi film nasional. Membangun inisiatif positif dan aktifitas berkelanjutan yang hanya ada dalam pusaran dan lingkungan sendiri dan “menyendiri”, juga akan sia-sia. Sudah saatnya semua bersuara bersama, berinisiatif dan melaksanakan inisiatifnya bersama, serta beraktifitas pun bersama. Sehingga amplifikasi serta efek dari semua itu, bisa dirasakan oleh masyarakat secara umum dan bisa menjadi alat penekan bagi para pengambil kebijakan untuk segera membuat kebijakan yang berpihak pada perfilman nasional dan segera pula memberikan solusi atas situasi mati surinya distribusi film nasional.

Mengembalikan ruang-ruang pertunjukkan film ke dalam kehidupan masyarakat, dengan jumlah yang minimal mendekati jumlah pada tahun 1980-an, sekitar 4000 bioskop, dengan tidak hanya bergantung pada swasta saja, namun juga memberikan solusi yang sebijak-bijaknya agar swasta pun tidak berjalan sendiri, karena mereka tidak akan sanggup melakukan pemerataan distribusi film-film nasional ke seluruh wilayah Indonesia. Ya, 240 juta penduduk Indonesia, merupakan pasar besar bagi film nasional dan jangan diam saja, ketika film-film impor mendominasi pasar film Indonesia, hanya karena kemalasan berpikir dan keengganan bertindak. Karena bicara tentang film, itu bicara tentang budaya. Bicara tentang film nasional, itu bicara tentang budaya nasional. Dan masa depan kita, bergantung pada budaya nasional yang kuat dan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY