Film Scifi Dystopia Turki Berjudul ‘Grain’ Jawara Tokyo Grand Prix Di Tokyo...

Film Scifi Dystopia Turki Berjudul ‘Grain’ Jawara Tokyo Grand Prix Di Tokyo International Film Festival Ke-30

216
SHARE
30th TIFF Award Winners (©2017 tiff-jp)

Oleh: Daniel Irawan

Di hari terakhir penyelenggaraan Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) ke-30, 3 November 2017, bersama seremoni penutupan festival, TIFF mengumumkan para pemenang penghargaannya. Film fiksi ilmiah distopia ‘Grain’ yang merupakan produksi bersama Turki/Jerman/Perancis/Swedia/Qatar dan disutradarai oleh sineas Turki Semih Kaplanoğlu sebagai debut film berbahasa Inggris-nya yang pertama berhasil memenangkan penghargaan tertinggi Tokyo Grand Prix/The Governor of Tokyo Award.

(@2017 tiff-jp)

Diperankan oleh Jean-Marc Barr, Ermin Bravo, Lubna Azabal dan Gregoriy Dobrygin, Grain merupakan film fiksi ilmiah/post-apocalyptic sangat tak biasa yang diinspirasi surah Qur’an. Plot tentang seorang profesor yang menempuh perjalanan untuk mencari gandum demi menyelamatkan umat manusia saat dunia masa depan hancur oleh peperangan akibat kekurangan makanan itu dinilai mampu menyentuh banyak isu-isu kontemporer dunia sekarang termasuk soal pengungsi dari negara-negara yang tengah mengalami krisis.

Sementara penghargaan spesial dewan juri, Special Jury Prize, diraih oleh Crater (Il Cratere), drama Italia dengan tema yang sangat membumi soal seorang ayah yang berjuang sebagai penjual mainan di jalanan Napoli demi anak perempuannya yang memiliki bakat menyanyi. Crater disutradarai oleh Silvia Luzi dan Luca Bellino, sineas yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara dokumenter.

(@2017 tiff-jp)

Meraih penghargaan Sutradara Terbaik, sineas independen Malaysia Edmund Yeo juga mengangkat tema pengungsi Rohingya sebagai salah satu subplot dalam film berjudul unik AQÉRAT (We the Dead). Selain film ini, Edmund juga membawa filmnya yang lain, dokumenter Yasmin-san di segmen Crosscut Asia TIFF tahun ini.

Di departemen akting, dua peraih penghargaan Best Actress dan Best Actor di TIFF ke-30 dianugerahkan kepada Adeline D’Hermy dari film Perancis Maryline; film karya sutradara Guillaume Gallienne tentang impian seorang aktris penuh aspirasi yang harus berhadapan dengan sutradara cerewet, dan Duan Yihong dari film noir China karya sutradara Dong Yue; The Looming Storm. The Looming Storm juga sekaligus meraih penghargaan untuk Best Artistic Contribution.

Dua penghargaan terakhir dari segmen kompetisi utama TIFF tahun ini adalah Best Screenplay Award yang dipersembahkan oleh jaringan TV pay-per-view WOWOW dan TIFF Audience Award yang diperoleh dari voting audiens. Best Screenplay Award jatuh pada film Finlandia karya sutradara/penulis Teemu Nikki, Euthanizer (Armomurhaaja) yang mengangkat kisah seorang mekanik mobil yang diam-diam terlibat dalam aktivitas euthanasia pada hewan-hewan peliharaan, sementara TIFF Audience Award dimenangkan oleh sebuah romcom soal unrequited love karya sutradara Akiko Ooku, Tremble All You Want.

Di segmen kompetisi pendamping Asian Future Award, pemenang film terbaik (Best Asian Future Film Award) adalah film Jepang berdasarkan kisah nyata keluarga Burma yang disutradarai Akio Fujimoto, Passage of Life. Passage of Life juga memenangkan penghargaan The Spirit of Asia Award yang dipersembahkan oleh The Japan Foundation Asia Center yang sudah mendukung penyelenggaraan dan program-program TIFF selama 4 tahun terakhir. Masih ada penghargaan Asian Future Special Mention yang diberikan pada film China berbahasa Mongolia, Old Beast (Lao Shou), drama komedi karya sutradara Zhou Ziyang.

Ryuichi Sakamoto (@2017 tiff-jp)

Segmen Japanese Cinema Splash yang masih terus dipertahankan sebagai salah satu sasaran utama TIFF untuk memperkenalkan talenta-talenta baru sinema independen mereka baik ke industri sinema Jepang maupun dunia internasional untuk tahun ini memilih Of Love and Law karya sutradara Hikaru Toda sebagai pemenang Best Picture Award di segmen-nya. Sudah banyak film-film dari segmen kompetisi ini yang bukan saja meraih resepsi meriah dari para kritikus, tapi juga terbukti bisa berhasil di perolehan box office Jepang di tahun-tahun sebelumnya.

Dua lagi penghargaan khusus di TIFF adalah Samurai Award yang dianugerahkan untuk talenta-talenta veteran baik filmmaker maupun kreator-kreator di bidang lain yang masih tetap konsisten berkarya untuk mengukir prestasi sekaligus jalan penghubung ke generasi masa kini, juga sebuah anugerah baru TIFF bernama Tokyo Gemstone Award yang diperuntukkan bagi talenta akting, aktor maupun aktris yang dianggap bersinar dalam film-film peserta TIFF.

Menyambung tahun-tahun sebelumnya, di mana Samurai Award sudah diberikan kepada Takeshi Kitano dan Tim Burton (2014), Yoji Yamada dan John Woo (2015), serta Kiyoshi Kurosawa dan Martin Scorsese (2016), penerimanya tahun ini adalah musisi/komposer/aktor Ryuichi Sakamoto. Film dokumenter Ryuichi Sakamoto: CODA, tentang perjalanan karirnya yang dikerjakan oleh sutradara Stephen Nomura Schible ikut ditayangkan di TIFF di segmen Special Screening tahun ini.

Menerima Samurai Award di hari ke-9 TIFF, 2 November lalu dari festival director baru TIFF Takeo Hisamatsu, Sakamoto bergurau soal ukiran pedang Katana di pialanya. Bagi Sakamoto, pedang ini selalu mengingatkan dia akan salah satu peran legendarisnya di film drama perang Merry Christmas, Mr. Lawrence karya Nagisa Oshima yang juga dibintangi Tom Conti dan David Bowie. Sakamoto juga dikenal lewat scoring film-film seperti The Last Emperor, The Sheltering Sky dan The Revenant dan sudah pernah meraih Oscar, Grammy, BAFTA dan Golden Globe untuk komposisi-komposisi musik filmnya.

30th TIFF Award Winners (©2017 tiff-jp)

Terakhir, penerima anugerah baru TIFF Tokyo Gemstone Award di tahun pertamanya adalah 4 aktris; Mayu Matsuoka dari Tremble All You Want (Competition), Shizuka Ishibashi dari The Tokyo Night Sky is Always the Densest Shade of Blue (Japan Now), Adeline D’Hermy dari Crater (Competition) dan Daphne Low, aktris Malaysia dari AQÉRAT (We The Dead) (Competition).

Seperti yang disampaikan Takeo Hisamatsu, festival director TIFF yang memulai jabatan barunya hingga beberapa tahun ke depan, di perayaan ke-30 festivalnya, TIFF tetap akan menggagas pembaharuan serta memperkaya lagi visi untuk penyelenggaraan tahun-tahun berikutnya dalam keseimbangan antara film sebagai seni dan hiburan, namun tak akan meninggalkan pencapaian-pencapaian baik yang sudah terlaksana di tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap TIFF akan terus bisa berkontribusi untuk memperkenalkan talenta-talenta Jepang, Asia dan juga dunia dalam kontinuitas penyelenggaraan dan eksistensinya di masa mendatang.

Bersama seremoni penutup TIFF tahun ini, dokumenter An Inconvenient Sequel: Truth to Power karya Bonni Cohen dan Jon Shenk yang berisi kelangsungan misi mantan Wapres AS Al Gore melawan isu perubahan iklim ditayangkan sebagai film penutup (closing film) TIFF ke-20.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY