Forum Lenteng

Forum Lenteng

2208
SHARE

Saat ini Forum Lenteng adalah satu dari sekian komunitas yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi mengamati, mengembangkan dan mengkaji isu-isu sosial dan budaya masyarakat.  Komitmen Forum Lenteng ini jelas terlihat dari salah kutipan sepenggal text yang disampaikan oleh salah satu pendiri Forum Lenteng yaitu Hafiz Rancajale “Filem ini didedikasikan untuk sinema Indonesia yang lebih baik, seluruh penggerak komunitas filem, dan aktivitas  gerakan sosial di Indonesia. Sinema adalah pengetahuan, bukan hanya barang dagangan”. Kutipan tersebut dibacakan ketika film Dongeng Rangkas, salah satu film dokumenter panjang yang diproduksi Forum Lenteng, meraih penghargaan internasional di CHP:DOX 2011.

Forum Lenteng adalah Organisasi nirlaba egaliter sebagai sarana pengembangan studi sosial dan budaya. Forum Lenteng berdiri sejak tahun 2003 yang didirikan oleh mahasiswa (ilmu komunikasi/jurnalistik), pekerja seni, periset dan pengamat kebudayaan. Komunitas ini didirikan guna menjadi alat pengkajian berbagai permasalahan budaya dalam masyarakat, guna mendukung dan memperluas peluang bagi terlaksananya pemberdayaan studi sosial dan budaya Indonesia. Forum Lenteng bekerja dengan merangkum serta mendata aspek-aspek sosial dan budaya yang mencakup kesejarahan dan kekinian di dalam kerangka kajian yang sejalan dengan perkembangan jaman dengan mengadakan pendekatan solusif bagi keberagaman permasalahan sosial dan budaya di Indonesia serta dunia internasional. Salah satu medium yang digunakan Forum Lenteng adalah medium audio visual (film dan video).

Saat ini terdapat 4 program utama yang sedang dijalankan oleh Forum Lenteng; Akumassa, Senin Sinema Dunia, Doc Files dan Arkipel. Akumassa adalah program pemberdayaan dan pengembangan komunitas dalam bentuk lokakarya (workshop) yang difasilitasi oleh Forum Lenteng. Secara mendasar, program akumassa adalah tentang penggunaan medium video, teks dan media online di komunitas-komunitas pekerja kreatif muda (mahasiswa, seniman muda, pelaku budaya lokal) di Indonesia guna mendorong kemandirian dalam masyarakat.

Senin Sinema Dunia adalah program menonton sinema-sinema dunia dengan subteks ber-Bahasa Indonesia diselingi obrol santai tiap senin malam di perpustakaan Forum Lenteng. Sedangkan Doc-Files adalah program menonton dan ruang untuk membicarakan karya-karya dokumenter lintas media yang diadakan setiap Kamis malam di Forum Lenteng.

Arkipel adalah festival film dokumenter dan eksperimental bertaraf internasional, untuk pertama kalinya yang diadakan oleh Forum Lenteng. Festival ini diadakan di Jakarta dari tanggal 24 Agustus hingga 30 Agustus 2013.  Festival ini adalah ruang terbuka untuk diskursus sinema dan media secara umum, khususnya genre dokumenter dan filem eksperimental.

Seperti  yang telah disinggung di atas bahwa Forum Lenteng memproduksi film panjang dokumenter. Selama berdiri sejak tahun 2003, Forum Lenteng telah memproduksi dua buah film dokumenter panjang yaitu Dongeng Rangkas produksi 2011 dan Naga Yang Berjalan di Atas Air produksi 2012.

Film Dongeng Rangkas adalah sebuah dokumenter panjang yang berkisah tentang dua pemuda yang hidup paska Reformasi 1998. Iron dan Kiwong adalah dua pemuda yang memilih hidup sebagai Pedagang Tahu, sementara mimpi-mimpinya tetap dipegang teguh. Kiwong bermimpi menjadi pemuda yang lebih baik, yang menjadikan keluarga hidup lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan Iron, percaya musik adalah anugerah dari Tuhan, dan ia ingin terus mengembangkan fantasi musiknya di jalur Underground.

Film ini adalah produksi Forum Lenteng yang bekerjasama dengan Komunitas Saidjah Forum, Lebak. Kerja produksi dokumenter ini merupakan bagian dari peningkatan kapasitas komunitas akumassa yang diprakarsai oleh Forum Lenteng. Kerja-kerja dalam program akumassa adalah melakukan pendidikan media kepada komunitas dalam rangka membangun kesadaran “media” kepada masyarakat sebagai bagian dari pengembangan diri dan masyarakat sekitar. Film ini juga didukung oleh the Ford Foundation.

Dongeng Rangkas meraih penghargaan film dokumenter terbaik dari perhelatan festival film dokumenter CHP:DOX yang diadakan di Copenhagen, Denmark, 2011.  Dongeng Rangkas dipilih menjadi yang terbaik dengan alasan bahwa film ini mengangkat isu yang berani, dengan treatment yang subtil, halus dan cermat. Ritme film yang apik, dan yang paling penting adalah bahwa film ini berhasil memberikan contoh sebuah kerja kolaboratif yang baik dalam dokumenter. Film ini adalah hasil kolaborasi 4 sutradara yaitu Andang Kelana, Badrul “Rob” Munir, Fuad Fauji, Hafiz & Syaiful Anwar. Dongeng Rangkas juga diputar pada DMZ Korean International Documentary Festival yang ketiga tahun 2011.

Naga Yang Berjalan Di Atas Air adalah sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Forum Lenteng bekerjasama dengan Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan, dalam program Monitoring – Upgrading, akumassa. Film ini disutradari oleh Otty Widasari dengan ide cerita oleh Renal Rinoza Kasturi. Film ini adalah produksi dokumenter panjang Forum Lenteng ke-2 setelah Dongeng Rangkas yang diproduksi pada 2011, bekerjasama dengan Saidjah Forum, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Film ini berkisah tentang cerita kecil dari perbatasan kota Tangerang dan Kabupaten Bogor, di mana hiduplah Kang Sui Liong, sang penjaga kuil, bersama istri dan anak-anaknya.Zaman berganti. Kang Sui Liong menjadi saksi kejayaan kaum Cina Benteng yang hidup dari hilir di Tangerang ke hulu di Bogor, hingga proses asimilasi menghitamkan kulit mereka.Di kala hari telah senja, Kang Sui Liong duduk termangu di persimpangan jalan, bertanya pada dirinya sendiri, akan di bawa ke mana tradisi warisan leluhur ini kelak.

Film Naga Yang Berjalan Diatas Air merupakan sebuah film dokumenter panjang yang kami produksi sebagai bagian dari proses perekaman kronik sejarah sosio-kultural yang ada di Kota Tangerang Selatan. Film ini bercerita tentang kisah seorang penjaga klenteng yang bernama Kang Sui Liong di mana ia hidup selama puluhan tahun di daerah Babakan Pocis, Tangerang Selatan bersama anak istri dan orang-orang sekitarnya. Setiap harinya ia bertemu dengan berbagai macam kalangan baik jemaah klenteng maupun orang-orang yang ingin bersilaturahmi. Film ini berusaha untuk menyampaikan informasi dan sebagai sarana untuk menyembatani kesepahaman bersama akan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Perpaduan sistem religi dan budaya mendapatkan corak akulturatif dan kaya akan ornamentasi. Perpaduan inilah yang menghidupi klenteng dengan latar kultural berdasarkan perpaduan ketiga unsur yakni Betawi, Sunda dan Tionghoa yang lebur secara bersamaan dalam penggalan waktu.

Selain itu, Forum Lenteng juga membangun sebuah wadah untuk berdiskusi, beradu gagasan dan bertukar pikiran seputar sinema dari sisi akademis atau praktis. Dalam Junral Footage ini, banyak artikel-artikel yang dibuat sebagai opini dari para praktisi dan akademisi terkait dunia sinema dan seni secara umum, yang memang bertujuan untuk terus memberikan pencerahan, analisis dan bertukar gagasan untuk kemajuan dunia sinema dan seni secara umum di Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY