G30S/PKI: Kolosal Sejarah Mumpuni, Proganda Kekuasaan

G30S/PKI: Kolosal Sejarah Mumpuni, Proganda Kekuasaan

1882
SHARE

Pengkhianatan G30S/PKI sebuah film dokumenter drama propaganda Indonesia tahun 1984. Film ini dibuat berdasarkan pada intepretsi sejarah versi resmi menurut pemerintah Orde Baru. Film ini menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa tersebut. Dalam kala kekacauan ekonomi, enam jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI dan TNI Angkatan Udara. Film ini dianggap cukup kontroversial, khususnya dari sisi alur cerita. Letak kontroversinya adalah karena alur cerita yang digunakan dianggap alur cerita dari perspektif sejarah penguasa saat itu.

Meski film G 30 S/PKI adalah film proyek pemerintah, namun dalam penggarapannya begitu serius. Bahkan dari para pemeran yang bermain dalam film itu terdapat tokoh intelektual yang ikut serta di dalamnya. Sebut saja Umar Kayam yang memerankan tokoh Soekarno dan Syubah Asa yang berperan sebagai Dipa Nusantara Aidit, Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia.

Film Pengkhianatan G30S/PKI ini bisa dianggap meraih sukses secara komersil maupun kritis. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia 1984 dan saat itu digunakan sebagai kendaraan propaganda oleh pemerintah Orde Baru selama tiga belas tahun, di mana pemerintahan Soeharto memerintahkan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu (TVRI) untuk menayangkan film ini setiap tahun pada tanggal 30 September malam.

Film ini juga diperintahkan menjadi tontonan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia, walaupun memperlihatkan adegan-adegan yang penuh kekerasan berlebihan. Pada saat stasiun-stasiun televisi swasta bermunculan, mereka juga dikenai kewajiban yang sama. Namun aturan ini juga hilang seiring pengehentian penayangan film ini di TVRI. Pemerintah, lewat Menteri Penerangan Yunus Yosfiah (kala itu) mengeluarkan keputusan untuk menghentikan pemutaran dan peredaran film tersebut.

Tinjauan Sinematik

Sebagai sebuah film yang base on true story, film ini dianggap cukup baik dari sisi sinematografi, emosional, dan kualitas yang hampir semuanya ada di dalam film tersebut. Proses produksi yang dijalankan selama dua tahun dan menggunakan sekitar 100 figuran, memperlihatkan bagaimana film ini dibuat sedemikian detail.

Film ini memang kaya dengan detail, seperti latarnya yang berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Tapi, di samping beberapa fakta yang terkait dengan penggambaran kejadian yang dianggap sebagai sebuah gerakan pengkhianatan, film ini juga menggambarkan kerawanan ekonomi masa itu lewat penggambaran tentang antre dan kemiskinan.

Dalam film ini, kerawanan politik saat itu juga dilukiskan dengan detail dan tidak melulu menampilkan Jakarta sebagai daerah Pusat kejadian, tapi juga kejadian di daerah di luar Jakarta. Misalnya penggambaran melalui adegan serangan PKI ke sebuah masjid di Jawa Timur, guntingan koran, berita radio, dan komentar-komentar tajam. Poster dan tulisan-tulisan graffiti tentang pandangan politik dan manifesto-manifesto pemikiran yang digambarkan banyak bertebaran di tembok dan atap rumah.

Sebagian orang menilai, sebetulnya dari sisi kualitas sebuah film, Pengkhianatan G30S/PKI ini disayangkan saat terhenti ditayangkan dan Rabu, 30 September 1998 adalah hari terakhir pemutaran film tersebut. Karena justru dari sisi ini, kita bisa menyaksikan sebuah film yang dibuat dengan sangat detil, apik dan serius. Terjaga kualitas sinematografisnya, mampu membangun ketegangan dari alur ceritanya, dan benar-benar bisa membawa emosi siapapun yang menontonnya. “Kekuatan film luar biasa, banyak orang menerima film Pengkhianatan G30S/PKI sebagai representasi kenyataan,” ujar sejarahwan Hilman Farid seperti dikutip dari Tempo.

Tidak seperti sekarang, proses pembuatan film menjadi sangat instan, dengan proses syuting yang hanya seminggu misalnya, dan kurang menjaga kualitas dari berbagai sisi. Yang pada akhirnya, kebanyakan proses pembuatan film hanya mengandalkan nama besar pemainnya dan kelebihan fisik semata.

Bagi Hanung Bramantyo, sutradara film, bagian yang paling diingat dalam film ini adalah adegan diskusi. “Shot big close-up mulut-mulut sedang diskusi atau menghisap rokok, sangat menohok. Bayangkan saja, di layar besar semua gelap. Hanya mulut yang tampak. It’s brilliant,” ujarnya seperti dikutip dari Tempo. Menurut Hanung, terlepas film itu disebut propaganda, secara sinematik film Pengkhianatan G30S/PKI rapi, detail, dan nyata. “Saya sempat mengira itu bukan film. Tapi real!”

Lain lagi di mata sutradara film Monty Tiwa. Adegan yang teringat adalah kala putri D.I. Pandjaitan histeris saat ayahnya ditembak. Kemudian, ia mencoreng dengan darah sang ayah. “Karena (efel) dramatis yang tinggi dan shot yang belum pernah saya lihat dalam film Indonesia. Membuat campuran emosi, ngeri, sedih, marah nyampur jadi satu,” kata Monty.

Fi13432337161491543673lm & Propaganda

Meski dinilai sebagai film sejarah, film ini dianggap tidak mewakili keseluruhan pendapat tentang alur cerita dan fakta sejarah yang sebenarnya. Film ini juga menampilkan pergantian rezim pemerintahan Indonesia dari Presiden Soekarno ke Soeharto menurut versi pemerintahan Orde Baru. Film ini menggambarkan gerakan G30S/PKI sebagai gerakan yang kejam.

Pada tahun 2012 para korban tragedi kemanusiaan 1965 menyatakan film Pengkhianatan G30S/PKI adalah bentuk pembohongan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru atas kehendak Soeharto. Film tersebut dinilai sebagai bentuk propaganda yang memutarbalikkan fakta di balik tragedi kemanusiaan 1965 yang menurut penyelidikan Komnas HAM termasuk dalam kategori pelanggaran HAM berat.

Menurut Hilmar Farid, film tersebut telah berhasil membuat generasi muda mengira apa yang terjadi di masa lalu seperti yang ada di film. “Jangankan film sejarah, kadang sinetron yang ditonton itu dipercaya benar adanya,” ujar peneliti dari Indonesia Institute of Social History ini. Pada kasus film Pengkhianatan G30S/PKI, ia menguraikan, ada campur tangan kepentingan politik. Intervensi itu mengeksploitasi ketidaktahuan atau kesalahpahaman untuk mendapatkan apa yang diinginkan. “Film menjadi sarana yang efektif untuk kepentingan semacam itu,” ujar Hilmar.

Namun memang, sebagai sebuah alat komunikasi dan sekaligus propaganda, film tersebut menjadi sedikit menakutkan karena bisa berfungsi menjadi pencuci otak yang bisa jadi bertujuan untuk mengaburkan dan membelokkan fakta sejarah yang sebenarnya dan hanya memperkuat hegemoni satu perspektif sejarah saja demi kepentingan kekuasaan saat itu. Bagaimanapun, film menjadi cara yang ampuh untuk menyebarluaskan dan memasukkan ide, gagasan, dan ideologi.

Analisa yang lebih dalam dibahas dalam buku, ‘Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia’, karya Katherine E McGregor. Di sana, film Pengkhianatan G30S/PKI adalah salah satu cara Orde Baru dalam menggambarkan usaha kudeta oleh PKI. Tafsir peristiwa yang digunakan Orde Baru dalam film itu adalah salah satu upaya meyakinkan masyarakat, kudeta itu dilakukan oleh komunis dan bukan pihak militer. Peristiwa itu dijadikan alasan oleh Orde Baru untuk membenarkan tindakannya untuk berkuasa.

Dalam Buku itu Katherine E. McGregor mengakui, dia ingin mengungkapkan peran Orde Baru dengan militernya dalam menggambarkan masa lalu Indonesia. Salah satunya dengan media visual, yang didukung oleh buku-buku pelajaran, monumen-monumen, film, hingga diorama yang di pajang dalam museum. Dalam analisa Katherine, pembuatan dan pemaknaan sejarah baru oleh Orde Baru melalui media visual dan film sangat efektif. Hal itu terkait dengan jumlah pendudukIndonesia pada saat itu masih memiliki tingkat buta huruf yang tinggi, maka dengan pembuatan sejarah melalui media visual diharapkan bisa menjangkau seluruh Indonesia.

Analisa itu muncul setelah Katherine membaca dokumen dari Departemen Pertahanan dan Keamanan Pusat sejarah Angkatan Bersenjata Indonesia dalam merancang semua itu. Katherine mengutip Nugroho Notosutanto dalam dokumen itu, “Di dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana kebiasaan membaca pun masih sedang berkembang, kiranya historio-visual isasi masih agak efektif bagi pengungkapan identitas ABRI.”

Tidak mengherankan kelanggengan Orde Baru berkuasa dijaga dengan strategi yang rapi. Pengaruh kekuasaan sudah dijaga dengan doktrin yang sudah ditanamkan dalam melalui buku pelajaran, film, museum, monumen, hingga rancangan diorama yang begitu detail. Meski begitu, tidak jarang menggunakan kekerasan.

Film sebagai representasi realitas, tidak sekedar memindah realitas ke layar akan tetapi dibentuk oleh kode-kode dan konvensi ideologi maupun budaya pembuatnya. Oleh karena itu, film merupakan arketipe awal media massa modern, memiliki potensi untuk ditunggangi rezim polik dan media propaganda. Konstruksi propaganda dalam film dibangun oleh penyusunan tanda dan kata maupun tanda-tanda dalam teks film yang membentuk suatu tehnik propaganda untuk mempengaruhi opini publik sesuai dengan yang diinginkan Propagandis.

Karena itu menjadi sangat bijak untuk terus membangun pemikiran kreatif dalam proses pembuatan film dengan tanpa melupakan sisi edukasi yang dapat didistribusikan sebagai pesan dalam setiap film yang dibuat oleh para pembuatnya. Untuk itu, setiap insan perfilman, khususnya para pembuat film haruslah memahami bahwa film menjadi alat yang efektif bagi para mereka untuk berkontribusi positif bagi Negara, masyarakat dan peradabannya, bukan justru memperparah dengan film-film yang justru menyebarkan pesan yang mendegradasi nilai-nilai positif yang terdapat di dalam setiap sendi kehidupan masyarakat.

Sang Sutradara dan Prestasi

Film ini disutradari oleh Arifin C Noer, seorang sutradara besar sejak masanya hingga kini. Film-filmnya kebanyakan laris dan meraih penghargaan. Khusus film Pengkhianatan G30S/PKI ini, ditayangkan sejak tahun 1984 hingga 1998 di TVRI. Karena film ini, Arifin di ganjar penghargaan Piala Citra untuk Penulis Skenario Terbaik pada 1985. Dengan biaya sekitar Rp. 800 juta di tahun 1984, film ini menjadi film pertama yang mencapai penonton sebanyak 699.282 orang di tahun 1984. Rekor ini bertahan sampai tahun 1995.

Film ini memang bukan film kolosal yang pertama bagi Arifin C Noer, namun dia sendiri mengakui bahwa mengurus dan menata casting yang begitu besar memang ukan pekerjaan yang mudah dan sebentar.  Untuk membuat film itu, Arifin mengeluarkan usaha yang sangat besar dengan membaca sebanyak mungkin tentang peristiwa tersebut, mewawancarai saksi sejarah, dan berusaha mencari properti asli. Arifin sebetulnya memimikan bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI bisa menjadi sebuah film pendidikan dan renungan tanpa pesan kebencian bagi setiap orang yang menontonnya.

Memang, Arifin C Noer dikenal sebagai seniman multitalenta. Sejak SMP dia menggeluti teater dan puisi. Ia mulai menyentuh kamera ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu pada 1976. Film perdananya, Suci Sang Primadona (1977), melahirkan pendatang baru, Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1978. Arifin C Noer meninggal pada 28 Mei 1995 di usia 54 tahun.

Pada 1984, Arifin C. Noer meraih penghargaan Piala Citra untuk skenario terbaik film ini. Di perhelatan yang sama, Arifin juga masuk unggulan untuk kategori penyutradaraan film terbaik. Amoroso Katamsi menjadi kandidat pemeran utama pria terbaik.

Yang juga kecipratan adalah Embie C. Noer yang diunggulkan dalam kategori tata musik terbaik, Hasan Basri untuk kategori tata kamera terbaik, dan Farraz Effendy yang masuk nominasi kategori tata artistik terbaik. Meski akhirnya, hanya Arifin yang berhasil menggondol pulang Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik. Pada 1985, masih di Festival Film Indonesia, film Pengkhianatan G30S/PKI mendapat penghargaan Piala Antemas untuk kategori film unggulan terlaris 1984-1985.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY