Garin Nugroho Tentang JAFF ke-10: Melawan Dengan Sederhana

Garin Nugroho Tentang JAFF ke-10: Melawan Dengan Sederhana

1506
SHARE

Sepuluh tahun lalu, festival film internasional di Indonesia hanya berfokus pada film Amerika dan Eropa. Ini melahirkan semacam kegelisahan untuk membuat festival film internasional yang fokus pada Asia. Jalan pertama adalah mencari dukungan dari kurator dan tokoh yang dalam sejarah kerjanya mampu menghidupkan film Asia dan mempunyai kedekatan dengan film Indonesia, maka tidak ada banyak pilihan kecuali Phillip Cheah.

Jalan selanjutnya adalah memilih kota penyelenggaraan. Setelah beberapa pilihan terlintas dan lewat diskusi pendek dengan Phillip, terpilihlah kemudian kota Jogja. Pilihan ini, tentu saja, lewat beberapa pertimbangan, yakni: daya hidup komunitas film di Jogja, daya hidup dialog dan penciptaan budaya, daya hidup volunteer, daya hidup dukungan masyarakat. Yang paling penting juga adalah persyaratan sebuah kota untuk terus melakukan perlawanan-perlawanan dalam berbagai perspektif budaya, meski dalam situasi dan kondisi paling minimal sekali pun.

Progres kerja selanjutnya adalah memilih tim. Mereka adalah aktivis film, baik pencipta, kritikus sekaligus periset ataupun organisator di Jogja dengan usia-usia muda. Maka tersebutlah nama-nama: Budi Irawanto, Ifa Isfansyah, Yosep Anggi Noen, Ajish Dibyo,  Dyna Herlina, dan Ismail Basbeth.

Kenyataan mencatat, JAFF dilahirkan untuk melakukan perlawanan. Perlawanan pertama adalah melawan situasi kritis dan krisis akibat bencana merapi dan gempa. Saat itu, salah satu sponsor menelpon saya, menanyakan apakah festival akan berlangsung ketika ketakutan terhadap bencana masih terasa. Hampir tidak ada aktivitas budaya dan ekonomi besar di Jogja dan seluruh sponsor tidak berani melakukan aktivitas publik.

Saat itu, saya sedikit ragu, namun saya menjawab bahwa harus tetap dilaksanakan karena festival bukanlah sekedar pesta, tetapi daya hidup pikiran, gagasan dan cara bereaksi terhadap zaman. Maka, berjalannya JAFF terasa memberi kepercayaan pada masyarakat untuk melawan krisis. Haruslah dicatat, saya sesungguhnya merasa takut ketika pemutaran film pertama dalam gedung, khawatir terjadi bencana dan membahayakan keselamatan penonton.

Perlawanan kedua adalah  bekerja atas dasar keterbatasan, yang justru melahirkan  beragam cerita. Saat itu kantor masih di rumah dan tanpa telepon, maka siklus rapat JAFF selalu lucu. Setiap kali selesai rapat, kantor akan kosong karena semua staf pergi ke warung internet untuk melakukan komunikasi ke beragam negara.

Perlawanan ketiga, JAFF mampu menghidupkan dua momen (momen apresiasi dan daya dorong momen kreasi) yakni lewat menghidupkan dan mendiskusikan karya-karya yang tidak mainstream bahkan juga tidak popular di pasar video sekali pun. Di sisi lain, menghidupkan dialog industri film dengan karya-karya independen.  Saya sendiri tidak pernah menyangka bahwa staf JAFF akan menjadi pembuat film. Bahkan, sungguh mengagumkan, karya-karya film pendek yang tidak mainstream menjadi primadona festival film ini hingga sekarang. Alhasil, JAFF menjadi semacam kampus terbuka film-film Asia dengan beragam perspektifnya, tidak saja lewat pemutaran film, namun lokakarya, diskusi dan penerbitan buku.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Tidak bisa dipungkiri, daya hidup komunitas di berbagai wilayah Indonesia dengam film pendeknya senantiasa menjadi perlawanan terus-menerus yang menghidupkan JAFF. Di sisi lain, muncul kenyataan bertumbuhnya arus deras pembuat film Jogja dalam industri film, bahkan Jogja menjadi kota favorit membuat film dan mampu menyediakan beragam fasilitas industri film. Pada peta international, kritikus menyebut JAFF sebagai salah satu dari “25 Coolest Film Festival in the World” dan menjadi salah satu festival yang mampu membuat peta film Asia. Pada aspek ini, lahirnya kurator-kurator dan kajian-kajian film menjadi catatan sendiri yang menarik.

JAFF bukankah festival mewah, bahkan bisa disebut sangat sederhana. Namun perlawanan lewat film dan dialognya menjadikan JAFF sangat berharga untuk terus dihidupkan. JAFF kini dikelola anak-anak muda dengan perspektif baru tentang film indonesia dan Asia. Saya harapkan, JAFF ke-10 ini mampu memberi peta bagi perjalanan baru JAFF untuk tetap menjadi sebuah perlawanan.

Pada ulang tahun kesepuluh ini, saya mengucapkan terima kasih pada seluruh sponsor, pembuat film, komunitas, wartawan hingga individu maupun Pemerintah Daerah yang memberi ruang tumbuh bagi JAFF sejak awal berdirinya.

Garin Nugroho Angkat Kisah Pribadi Menjadi Film Aach Aku Jatuh Cinta (sumber: http://gulalives.com)
Garin Nugroho Angkat Kisah Pribadi Menjadi Film Aach Aku Jatuh Cinta (sumber: http://gulalives.com)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY