Gerak, Ekspresi Figur dan Akting

Gerak, Ekspresi Figur dan Akting

1638
SHARE

Oleh: Kusen Dony Hermansyah

Figur yang dimaksud dalam tulisan ini adalah apa yang dikenal oleh masyarakat dengan tokoh atau karakter.  Mengapa menggunakan kata figur, dikarenakan dalam film tidak selalu dimainkan oleh manusia.   Dengan kata lain figur bisa berupa manusia ataupun sesuatu yang  dimanusiakan  dalam  wujud  yang  fisik  maupun  non  fisik.  Mengapa harus dimanusiakan,  sebab  bagaimanapun  juga  pendekatan realisme  tetaplah  dipegang oleh pembuat  film  agar  mampu  mengontrol  mise  en  scene.  Bahkan  ketika  figur  itu  tidak menyerupai manusia sekalipun. Bila mau diperinci, maka ada beberapa kriteria figur, yaitu:

Jenis Figur

1. Figur Manusia

Figur manusia adalah yang paling banyak digunakan di dalam film apalagi film dokumenter, sebab dengan figur inilah pembuat film dengan mudah mengarahkan  meskipun  secara  sosial–budaya    tidak  mereka  kenal.    Ini  bisa terjadi karena manusia memiliki tindakan common sense dalam kehidupan mereka seperti makan, minum, tidur, jalan, berlari ataupun perasaan seperti marah, sedih, senang, kecewa dan sebagainya.

Figur manusia tidak hanya diwujudkan secara nyata (live action), tetapi juga menggunakan teknik animasi seperti dalam film Pocahontas (1995), The Hunchback of Notre Dame (1996), Sinbad: The Legend of Seven Seas (2003) dan masih banyak yang lainnya.

2. Figur Non-Manusia

Figur non-manusia bisa berwujud binatang, alien, benda–benda, ataupun bentuk–bentuk tertentu.  Film–film yang menggunakan figur binatang seperti Lassie (1994) yang menggunakan figur anjing  ataupun Stuart Little (1999) yang menggunakan figur tikus.  Film–film yang menggunakan figur alien dicontohkan dengan film Avatar (2009) dan District–9  (2009). Film–film yang menggunakan figur benda adalah Herbie Fully Loaded (2005) yang menggunakan mobil VW Kodok, film I-Robot (2004) dan The Terminator (1984) yang menggunakan robot. Film–film yang menggunakan figur boneka adalah Child’s Play (1988) atau Toy Story (1995) dan Nightmare Before Christmast (1993) walaupun menggunakan teknik animasi.

Selain menggunakan hal–hal di atas, figur non–manusia dalam bentuk garis dan bidang juga digunakan, misalnya dalam karya Hans Richter (Rythmus 21) ataupun film–film yang dibuat oleh Norman MacLaren seorang animator, eksperimentalis dari Kanada.  Berbicara tentang animasi, film seperti Fantasia (1940) produksi Walt Disney banyak menggunakan garis, warna bahkan wujud seperti tangga nada sebagai figurnya.

3. Figur Non Fisik

Figur non–fisik umumnya muncul sebagai hantu merupakan wujudnya seperti dalam film Casper (1995) atau figur Sam dalam Ghost (1990) dan Cyrus dalam The Frighteners (1996).  Namun figur non fisik juga muncul dalam film Hollowman (2000) di mana figur Sebastian Caine menjadi sosok yang tidak kasat mata karena sebuah percobaan ilmiah.

Gerak dan Ekspresi Figur

Gerak figur (gestur) berfungsi untuk menunjukkan sebuah tindakan yang dilakukan oleh tokoh, paling sederhana adalah gerak memasukkan makanan ke dalam mulut yang disebut makan, gerak mengayunkan tangan yang terkepal ke arah wajah seseorang yang disebut memukul dan sebagainya.  Contoh tadi adalah gerak yang besar dan lugas, dalam artian hampir setiap penonton bisa memahami.

Namun gerak ada juga gerak yang menunjukkan tanda–tanda tertentu, misalnya meletakkan jari telunjuk di depan bibir yang  berarti menyuruh seseroang diam atau bisa juga menundukkan kepala saat bertemu dengan orang tua yang berarti menghormati.   Terkadang gerak seperti ini juga dibarengi dengan penggunaan properti misalnya seorang lelaki yang berlutut di hadapan perempuan dengan mengajukan setangkai bunga yang berarti tanda cinta.

Bahkan pada adegan tertentu gerak justru menunjukkan sebuah makna tertentu, contohnya pada adegan dokter yang keluar dari kamar oprasi. Saat pintu terbuka terlihat sang dokter mencopot penutup kepala dan maskernya dan membantingnya ke lantai. Segera saja penonton tahu bahwa oprasi yang dijalaninya telah gagal.

Masalah lain adalah bahwa gerak juga bisa dilakukan hanya pada wajah tokoh bahkan saat gerak tersebut sangat sedikit dilakukan, misalnya mengerenyitkan dahi, memicingkan alis, membelalakan mata dan sebagainya. Gerak  ini  disebut  ekspresi,  yang  seringkali  dihubungkan  dengan  suasana  hati tokoh, misalnya dahi yang mengkerut tanda berpikir keras, membelalakan mata tanda terkejut, anggukkan tanda setuju dan sebagainya.  Namun ekspresi juga bisa dibentuk dengan gerakan tertentu dari bagian wajah yang bisa menandakan tokoh tersebut sedang senang, sedih ataupun bingung.

Walaupun gerak figur sangatlah ‘bebas’, tetapi dalam buku Film and the Director, Don Livingston menyatakan bahwa gerak subjek (figur) terbagi atas dua di mana gerak tersebut berhubungan dengan kamera, yaitu walk in (subjek mendekati kamera) dan walk away (subjek manjauhi kamera).

Akting

Akting diadopsi  dari  seni drama (teater) yang masuk ke film sejak dari gambar bergerak ini ada.  Pemahaman awal bahwa film adalah teater yang direkam dengan kamera sehingga kecenderungan action yang berlebihan dianggap wajar. Contohnya dalam film The Birth of a Nation (1915) karya David Wark Griffith atau yang paling jelas dalam film–film dari  gerakan Ekspresionisme Jerman tahun 1920- an, seperti film Das Cabinet des Dr. Caligari (1920) atau Metropolis (1927).

Perubahan mulai ada ketika munculnya suara, sehingga akting yang dilakukan seorang pemain tidak terbatas hanya pada gerak tubuh dan ekspresi wajah saja, namun suara juga diperhitungkan.  Mulai 1930-an metode akting sudah mulai berubah menjadi lebih halus dan tidak telalu berlebihan, namun akhirnya dialog maupun geraknya masih terasa ‘formal’, artinya terasa tidak wajar atau seperti  bukan  keseharian  manusia.  Hal   ini  bisa  dimaklumi   karena  biasanya sutradara masih mengatur blocking posisi dan gerak seperti apa yang dia inginkan. Kita bisa melihat dalam film seperti   Casablanca (1942), The Birds (1963) dan sebagainya.

Sekitar  tahun  1970-an  akting  menjadi  lebih  membumi,  di  mana  aspek realisme (mengacu pada gerak, ekspresi dan cara berbicara sehari–hari) sangatlah ditekankan. Kita bisa lihat pada film Godfather (1972), Taxi Driver (1976), The Deer Hunter   (1978)   dan   lain-lain,   bahkan   hingga   sekarang   metode   akting   yang mendekati keseharian ini dipertahankan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY