Glenn Fredly: Kolektifitas Perlu Untuk Bangkit

Glenn Fredly: Kolektifitas Perlu Untuk Bangkit

944
SHARE

Oleh: Reiza Patters

Kinescope berkesempatan melakukan wawancara dengan Glenn Fredly, seorang musisi berdarah Ambon yang sudah sejak lama berkecimpung dalam dunia musik Indonesia. Tidak hanya berprestasi sebagai penyanyi, namun musisi ini juga sudah banyak meraih sukses sebagai produser.

Artis ini juga bergerak sebagai seorang aktifis sosial yang banyak memperhatikan tentang ketidakadilan, ketidakmerataan dan ketimpangan pembangunan di Indonesia, khususnya  di wilayah Indonesia Timur. Dengan Voice From The East-nya, Glenn beserta rekan-rekannya aktif menyuarakan kenyataan sosial tersebut dalam banyak kesempatan yang dimilikinya, baik pada saat bermusik ataupun kegiatan yang lainnya.

Berikut wawancara dengan Glenn Fredly yang ditemui saat wawancara tentang film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, yang dirinya juga terlibat sebagai Produser.

Bagaimana anda melihat industri musik sekarang ini?

Saya menganggap industri musik saat ini masih menjadi monopoli. Maksudnya, saya melihat bahwa musik chart, hits, dan lain-lain, masih dimainkan oleh kelompok yang itu-itu saja. Maksudnya, seperti label dan sebagainya. Sedangkan saat ini kita sudah masuk pada era di mana teknologi sudah mengubah itu semua. Secara industri, kita tidak kekurangan bakat, tapi secara management, kita masih punya persoalan di situ. Ya, distribusi.

Bagaimana jalan keluarnya agar musisi bisa terus eksis?

Jadi selama ini, persolan musik indonesia adalah dari pelakunya sendiri. Seolah tidak ada kepedulian satu sama lain. Padahal, jika setiap musisi memiliki kepedulian terhadap musisi lainya, yang tujuannya adalah menghidupkan industri musik  Indonesia, ya harus kolektif. Mau gak mau itu harus jadi target kerjasama setiap orang yang berkecimpung dalam dunia musik Indonesia. Caranya adalah, kita membuat jalan, kita rekomendasikan. Bersama-sama.

Itu alasan yang membuat saya membuat musikbagus.com. Di sana tidak hanya sekedar membuat project musik yang berkualitas, tetapi juga ada wawancara musisi, artikel-artikel tentang musik, dan kita ingin membuatnya menjadi interaktif. Ini dibuat karena ke depannya, kita merasa bahwa internet ini adalah masa depan. Jadi ini yang kita maksimalkan.

Konsep besarnya adalah melakukan endorsement bagi musisi. Ini bukan sekedar filantrofi, tapi juga menyangkut bisnis. Tapi, musisi yang kita endorse ini adalah musisi yang memang memiliki dedikasi tinggi terhadap apa yang mereka kerjakan. Mereka juga membangun komunitas dan kemudian kita bantu musisi ini menjadi mapan.

Jadi kita punya standar, punya kualitas dan itu yang kita jaga di sana. Kita jaga, dari artis dan musisi yang terlibat dan kita juga melakukan kurasi. Website ini memang akan menjadi kanal untuk mempertemukan musisi-musisi. Di sana juga akan memberi ruang kepada musisi-musisi yang tak cuma baru, tapi juga senior yang sudah tidak mendapat panggung lagi. Tapi jika mereka masih produktif, kita akan beri ruang untuk berkreasi. Kita wawancara, interview, atau kita endorse untuk bikin album atau single.

Bagaimana pandangan anda terhadap pembajakan?

Kalau kita bicara pembajakan hari ini, apalagi di konstituen kita yang lemah seperti ini, gak usah ngomong pembajakannya, tapi pemberantasannya saja. Mana ada pelaku yang bisa ditangkap sampai hari ini? Kebanyakan hanya pengedarnya saja. Jadi dengan kata lain, dengan era teknologi seperti saat ini, pembajakan itu ada dan sudah sulit untuk bisa dibendung.

Pada dasarnya, saat ini kita lupa, ketika kita membuat suatu produk, kita lupa untuk membuat standar produk tersebut atau kualitas. Seperti film, mkisalnya. Ada standar kualitas gambar bagus, suara enak, dan konsep yang baik. Begitu juga dengan musik. Gw rasa, orang sebelum menghargai suatu karya maka si pembuat karya harus kembali memikirkan kualitas kontennya dulu. Nah, itulah tugas orang-orang disekitarnya, berikut perencanaan pemasarannya seperti apa. Jadi maksud saya, saya merasa, pola lama sudah gak bisa lagi diterapkan dalam setiap standar karya kita. Mesti ada pola baru dan butuh engine baru untuk itu.

Jadi kalau menurut saya, suka tidak suka, globalisasi juga membuka borok-borok kita juga. Jadi hari ini, kita sudah sampai pada segmented era, karena memang arahnya kesana. Republik ini ditentukan sama orang kreatifnya. Jadi orang kreatifnya mau kemana, bangsa ini akan mengikutinya. Sama kaya pemilu, ini semua seperti perangnya orang kreatif. Jadi kalau menurut gw, orang kreatif punya tanggung jawab besar buat membawa bangsa ini ke arah baru yang lebih baik, walaupun memang butuh waktu.

Bagaimana sikap dari musisi Indonesia, apakah hal-hal seperti ini biasa menjadi tema pembicaraan di kalangan mereka?

Ada, tapi kurang masif dan gak semua. Kalau menurut gw, temen-teman musisi ini sudah masuk ke dalam jebakan konsumerisme. Contohnya saja, ketika ajang Anugrah Musik Indonesia, kita bisa lihat pemenang-pemenangnya, itu-itu aja dengan tema yang juga itu-itu aja. Arahnya masih sama seperti sebelum-sebelumnya, belum ada yang baru.

Kita punya jaman keemasan gak di dunia musik Indonesia?

Kalau menurut gw, blueprint-nya sudah ada. Lokananta adalah blueprint yang paling nyata, di mana sebuah negara bisa membiayai sebuah rekaman musik yang baik dan benar. Tapi karena kita sering ganti rezim, maka polanya pun sering ikut berubah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY