Golden Age Sinema Indonesia; The Big Five.

Golden Age Sinema Indonesia; The Big Five.

2663
SHARE

Oleh: Doni Agustan

Film Indonesia memang pernah Berjaya pada tahun-tahun 1970-1980an. Dengan banyaknya perolehan penonton yang menonton film-film Indonesia kala itu, menjadikan banyak bintang film Indonesia yang pada akhirnya dianggap melegenda dengan banyaknya film yang mereka bintangi. Salah satunya adalah yang dinekal dengan The Big Five. Yang dikenal sebagai The Big Five dalam sinema Indonesia adalah Jenny Rachman, Roy Martein, Robby Sugara, Yatie Octavia, dan Doris Callebaut. Kelima bintang ini pada tahun 70an dan 80an adalah magnet yang dijamin mampu melariskan film-film yang mereka bintangi. Produser film pada masa itu berani membayar mahal kelima bintang ini karena mereka percaya pamor dan popularitas bintang-bintang rupawan ini adalah daya tarik utama yang membuat orang berbondong-bondong ke bioskop. Pada masa itu perfilman Indonesia memang sedang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lima bintang ini dibayar mencapai 5 juta rupiah per film, honor yang tergolong sangat besar untuk ukuran tahun itu.

Tentu bukan proses yang mudah bagi kelima bintang ini untuk sampai pada posisi tersebut. Jenny Rachman misalnya, pada masa awal karirnya pernah menjadi figuran dalam film Si Mamad karya Sjuman Djaya. Roy Marten merintis karier sebagai model dan peragawan di kota kelahirannya, Salatiga. Yatie Octavia menjadi peran pendukung dalam film Intan Berduri. (1972). Beruntung bagi Robby Sugara dan Doris Callebaute yang langsung mendapatkan peran utama dalam film debut mereka.

Daya tarik bintang-bintang ini membuat pada produser dan sutradara film pada masa itu ‘berebutan’ menggunakan jasa mereka untuk terlibat dalam film-film yang mereka produksi. Dalam satu tahun saja kelima bintang bisa membintangi lebih dari lima sampai enam film. Jenny Rachman membintangi 13 judul film sepanjang tahun 1977 dan 1978. Pada tahun 1977 saja, Roy Marten membintangi 12 judul film. Robby Sugara membintangi 21 judul film dalam kurun waktu 1976-1978. Doris Callebaute membintangi 24 judul film dalam kurun waktu 3 tahun saja, 1976-1978. Yatie Octavia memiliki rekor yang paling tinggi, dalam kurun waktu hanya 3 tahun saja, 1976-1978, dia terlibat dalam 37 judul film. Tidak salah kemudian, bersama dengan Yenny Rachman, Yatie Octavia yang menikahi aktor Pangky Suwito ini disebut sebagai Queen of  Film Indonesia.

Tetapi dari kelima bintang ini hanya Jenny Rachman yang dianggap mampu menyatukan kuantitas dan kualitas film. Aktris berdarah Tionghoa, Aceh dan Madura ini terbukti terlibat dalam film-film dengan kualitas Festival Film Indonesia (FFI)/Piala Citra. Hanya Jenny dari kelima bintang ini yang pernah mendapatkan Piala Citra untuk hasil kerja kerasnya. Jenny menerima Citra untuk perannya dalam film karya Sjuman Djaya, Kabut Sutra Ungu (1979) dan film Gadis Marathon (1981), karya Chaerul Umam.

Berikut petikan singkat tentang The Big Five dalam sinema Indonesia tersebut:

Jenny Rachman

Jenny lahir 18 Januari 1959. Wanita berdarah Tionghoa, Aceh dan Madura ini mengawali karirnya sebagai bintang iklan, foto model dan peragawati sejak usia 14 tahun. Tahun 1973, Jenny Rachman dicasting oleh sutradara Frank Rorempandey untuk bermain dalam film ItaSi Anak Pungut (1973) mendampingi Mieke Wijaya dan Dicky Zulkarnaen. Setelah bermain di film pertamanya, Yenny kemudian semakin dikenal luas oleh masyarakat. Pada masa awal karirnya, Yenny banyak menerima tawaran main film drama remaja seperti Kugapai Cintamu (1977) dan Pengalaman Pertama (1977).

Di akhir era 70an, Yenny Rachman mulai bermain di film-film ‘serius’, seperti November 1828, garapan Teguh Karya, dan Binalnya Anak Muda (1978) yang memberikan nominasi Piala Citra pertama untuk pemeran utama wanita. Yenny Rachman kemudian bermain di film Kabut Sutera Ungu, film adaptasi novel Ike Soepomo, yang digarap oleh sutradara  Sjuman Djaya. Dia meraih Piala Citra pertamanya di FFI 1980, dan penghargaan Best Actress di Festival Film Asia Pasifik. Gadis Marathon (1981) karya Chaerul Umam kembali mengantarkannya meraih Piala Citranya yang keduanya, pada saat ini Jenny mengalahkan Lenny Marlina, Ita Mustafa, Suzanna, dan Tanti Josepha.

Setelah meraih Piala Citra kedua, Jenny bermain sebagai RA Kartini, karya Sjuman Djaya RA Kartini (1982), bermain bagus sebagai Jugun Ianfu dalam Budak Nafsu (Fatima) (1983) yang juga adalah karya Sjuman Djaya dan tampil mengesankan dalam film Teguh Karya, Doea Tanda Mata(1984). Kedua film ini memberikan nominasi Piala Citra untuk aktris terbaik. Jenny Rachman bisa dikatakan sebagai salah satu aktris yang memadukan mutu dan komersil. Dia bisa menjadi magnet layar perak yang menghasilkan box office bagi film-filmnya, sekaligus memiliki akting prima yang mendapat apresiasi dari kritikus dan pengamat film. Karena itulah, Jenny Rachman diberi gelar “The Queen of Indonesian Cinema” oleh kalangan industri film Indonesia.

Setelah membintangi film Hatiku Bukan Pualam di tahun 1985, Jenny Rachman vakum dari dunia akting. Sempat bermain sebuah drama lepas televisi di tahun 1994, kemudian kembali menghilang. Tahun 2011, setelah vakum puluhan tahun, Jenny Rachman kembali tampil di depan layar dengan bermain film Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hanny R. Saputra. Jenny juga menjadi associate producer untuk film karya Aditya Gumay, Emak Ingin Naik Haji (2010).

Roy Marten

Setelah menang pada ajang King Boutique Jawa Tengah, Wicaksono Abdul Salam memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Aktor kelabiran Salatiga, 1 Maret 1952 ini kemudian menganti namanya menjadi Roy Salam yang kemudian diganti lagi menjadi nama tenarnya hingga saat ini, Roy Marten. Roy merupakan anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Abdul Salam dan Nora. Selain Roy, dua saudara prianya yaitu Rudy Salam dan Chris Salam juga terjun ke dunia akting. Tahun 1977 pula tercatat sebagai tahun paling produktifnya Roy Menbintangi 12 film, termasuk dua film yang terkenal hingga saat ini yaitu  Badai Pasti Berlalu, karya Teguh Karya dan Kugapai Cintamu, karya Wim Umboh. Setelah industri film nasional mati suri, Roy beralih ke layar kaca dan membintangi beberapa sinetron, antara lain Bella Vista I, II, dan III serta Kupu-Kupu Kertas dan Hanya Kamu.

Tahun 2007 Roy kembali ke layar lebar membintangi Mengejar Mas-Mas, karya Rudy Soejarwo. Aktor yang pernah dua kali terlibat kasus narkoba ini masih aktif hingga saat ini. Untuk tahun 2012 saja, Roy membintangi empat film, Misteri Pasar Kaget, Sampai Ujung Dunia, Dilemma dan Jakarta Hati.

Sepanjang karirnya sebagai aktor, Roy hanya sekali menerima nominasi aktor terbaik FFI, yaitu untuk film Tapak – Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1983). Roy menerima Piala Djamaluddin Malik untuk perannya dalam film Sesuatu Yang Indah (1976) dan beri gelar Pemain Muda Penuh Harapan. Roy juga meraih penghargaan dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda untuk film Roda Roda Gila (1977).

Robby Sugara

Robby terkenal sebagai Pria Brisk pada tahun 70 an. Robby lahir di Malang pada tahun 1954 dengan nama Robert Kaihena, yang berdarah Ambon Jawa dan Belanda. Sebelum terjun ke dunia film, Robby sempat bekerja sebagai pengurus restoran. Tahun 1975, Ali Shahab menemukannya dan memberinya peran utama dalam film Rahasia Perawan. Setelah membintangi film Ke Ujung Dunia (1983), Robby menghilang dari dunia film. Robby kembali berakting setelah Ali Shahab kembali mengajaknya terlibat dari sinetron Nyai Dasima (1995). Melalui pernikahannya dengan Bertha Suwegas, aktor yang saat ini kembali aktif main dalam beberapa produksi sinetron ini dikaruniai 7 orang anak.

Yatie Octavia

Yatie Octavia lahir di Jakarta, 20 Oktober 1954. Filmnya yang paling menghebohkan adalah debutnya sebagai Intan dalam Intan Perawan Kubu (1973) dan film Rahasia Perkawinan (1978) karena dia tampil botak plontos. Yatie yang hanya mengecap bangku sekolah hingga kelas II SMA ini, bergabung dengan Pyrus Group sebagai foto model. Sama halnya seperti Roy Marten, Yatie masih aktif hingga saat ini, terlibat dalam banyak produksi sinetron.

Pernikahannya yang adem ayem dengan pesinetron Pangky Suwito, justru dihebohkan dengan berita kawin cerai dan rebutan hak asuh anak antara anak dan menantunya. Berita ini sempat menjadi headline berita surat kabar dan televisi beberapa tahun yang lalu.

Doris Callebaute

Doris Callebaute lahir di Jakarta, 22 Desember 1952. Namanya tiba-tiba saja populer setelah membintangi Inem Pelayan Seksi (1976) karya Nyak Abas Acup. Selama karirnya sebagai aktris, Doris pernah menggunakan nama Doris Trissyanthy untuk film pertamanya Embun Pagi (1976), dia juga pernah menggunakan nama Doris Aprodita.

Kesuksesan film dan perannya sebagai Inem, membuat Doris melanjutkan dalam dua sekuelnya Inem Pelayan Seksi II dan Inem Pelayan Seksi III yang keduanya dirilis tahun 1977. Pada tahun yang sama juga, Doris melanjutkan perannya sebagai Inem dalam Inem Nyonya Besar karya Mochtar Soemodimedjo. Selain itu kesuksesan Inem Pelayan Seksi juga membuat Doris menjadi rebut pada pembuat film, sepanjang tahun 1977, Doris membintangi 15 judul film, tahun paling produktif sepanjang karirnya. Setelah membintangi film Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota (1981), Doris berhenti main film. Sama halnya seperti Roy Marten dan Yatie Octavia, saat ini Doris terlibat dalam beberapa produksi sinetron, walaupun tidak seaktif Roy dan Yatie.

Doris mengaku pernah bekerja sebagai pramuria dan juga menjadi guru sekolah taman kanak-kanak. Pada tahun 1978, Doris membuat rumah produksi sendiri dengan nama PT. Doristi Film.

Namun, seiring waktu dan usia, menjelang pertengahan tahun 80an, kebintangan The Big Five ini mulai redup. Selain usia yang sudah tidak muda lagi, banyak bermunculan bintang-bintang baru dengan wajah yang lebih fresh. Akhir 80an kita mulai mengenal Meriam Bellina, Rano Karno, Dedi Mizwar, Paramitha Rusady, dan Onky Alexander. Tetapi kemudian pamor bintang-bintang di era awal 90an ini tidak mampu mengimbangi kesuksesan luar biasa yang pernah diraih oleh bintang The Big Five di atas.

Setelah itu film Indonesia mati suri dan bangkit lagi pada tahun 2000an. Bintang-bintang muda pendatang baru bermunculan. Film Ada Apa Dengan Cinta (2002) meledak di pasaran. Pasangan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo pada waktu itu diprediksi akan menjadi bintang masa depan film Indonesia. Nicho dan Dian disebut-sebut berhonor sangat tinggi, tetapi belum mampu menjadi magnet untuk membuat film laris manis bak kacang goreng seperti film era 70an dan 80an. Sampai saat ini belum ada lagi pamor bintang film Indonesia yang bisa secemerlang Jenny, Roy, Robby, Yatie dan Doris.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY