Homegrown YK Vol. 2: Membangun “Investasi Sosial”

Homegrown YK Vol. 2: Membangun “Investasi Sosial”

1365
SHARE

Oleh: Komang Adhyatma

IMG_0732
Pintu masuk venue (photo by: Bimo Dwi Putranto)

Gelaran micro gig triwulan, Homegrown YK telah memasuki edisi yang kedua dan telah digelar pada hari Jumat, 2 Oktober 2015 yang lalu di rooftop Galeria Mall, Yogyakarta. Ada banyak hal yang berbeda di Homegrown YK edisi ini dibanding edisi perdananya 4 bulan silam. Selain menggunakan venue di atap sebuah mall dan hal ini masih cukup asing untuk menggelar sebuah pertunjukan musik di Yogyakarta.

Pada Homegrown YK kali ini, tidak menggunakan tema seperti halnya edisi perdana yang mengangkat tema “Tribute to Joy Division”. Meskipun tidak memberikan tema acara, pada Homegrown YK edisi kedua ini kami mengangkat dan memperkenalkan sebuah issue: ”This isn’t just a simple MicroGigs, it also means another way of building social investments.”

Acara ini mendatangkan band tamu dari kota Bandung, yaitu Poylester Embassy dan Diocreatura dengan disandingkan bersama band asal Yogyakarta yaitu Nervous, KAVVAH dan juga DJ Satio yang menggantikan DJ Ones. Dengan didukung penuh oleh VAST, sebuah brand streetwear asal Yogyakarta yang memadukan unsur unsur Vision, Attitude, Sound, dan Theory, Homegrown YK edisi kali ini berlangsung meriah. Sekitar 300 penonton memadati rooftop Galeria Mall, Yogyakarta sejak pukul 7 malam. Penonton yang datang pun penampilannya sedikit berbeda dibanding dengan gig yang biasa digelar di kota ini, karena rata-rata tampil dengan style mereka masing-masing yang masih memperhatikan nilai-nilai fashion.

KAVVAH
Penampilan Band KAVVAH (Photo by: Bimo Dwi Putranto)

Acara dibuka sekitar pukul 7 malam dengan penampilan band pendatang baru asal Yogyakarta, KAVVAH. Meskipun sang vokalis sedang mengalami gangguan tenggorokan, KAVVAH dapat tampil cukup baik pada malam hari itu. Selanjutnya band pendatang baru asal kota Bandung, Diocreatura yang digawangi oleh Ekki Darmawan yang juga member dari band Polyester Embassy dan juga Rock n Roll Mafia ini cukup mencuri perhatian para penonton. Meskipun ini adalah penampilan perdana mereka di Yogyakarta, Diocreatura tampil dengan baik dan memuaskan para penonton yang memadatai rooftop Galeria Mall.

Band DIOCREATURA (photo by: Bimo Dwi Putranto)
Band DIOCREATURA (photo by: Bimo Dwi Putranto)

NERVOUS, band indie rock asal Yogyakarta yang telah lama vakum tentu menjadi perhatian khusus para penonton yang datang, meskipun menggunakan additional guitarist, NERVOUS tidak Nampak kaku tampil meskipun ini adalah kali perdana penampilan mereka setelah vakum kurang lebih selama 4 tahun.

NERVOUS Band (Photo by: Bimo Dwi Putranto)
NERVOUS Band (Photo by: Bimo Dwi Putranto)

Band yang ditunggu-tunggu akhirnya tampil yaitu Poylester Embassy. Band asal Bandung yang satu ini mampu membuat penonton yang memadati venue bergerak dengan sangat antusias hingga memenuhi bibir panggung. DJ Satio yang memutarkan musik sidestream era 80-90an tentu menjadi hiburan lain yang menjadi penutup Homegrown YK edisi kedua kali ini.

Selain menyajikan pertunjukan musik di atas atap gedung dengan dihiasi oleh city lights line, Homegrown YK kali ini juga menyajikan beberapa booth di venue, seperti booth dari Canting Restaurant, Booth dari VAST, booth dari KANS, booth Jogja Records Store dan juga booth dari Monsterstress Records. Banyak ditemui wajah-wajah baru yang datang ke acara ini.

Penampilan band POLYESTER EMBASSY asal Bandung (photo by: Bimo Dwi Putranto)
Penampilan band POLYESTER EMBASSY asal Bandung (photo by: Bimo Dwi Putranto)

Selain itu, terlihat para penonton saling berinteraksi satu dengan yang lain, tidak hanyak terfokus pada pertunjukan musik dan pulang begitu saja setelah menonton apa yang ingin mereka tonton. Penononton tetap bertahan di venue, ada yang menonton pertunjukan musik, ada yang bersosialisasi satu dengan yang lain dan ada yang memanfaatkan photo booth untuk berfoto dengan teman-teman dekat mereka dan diposting di media sosial.

Karena dalam sebuah MicroGigs yang akrab dan intim, saya, anda dan kalian semua terlibat didalamnya sebagai stokeholder dari mulai panitia penyelenggara, audience, sponsor, media partner dan para performer. Tentu hal ini menjadi suatu pemandangan yang menarik ketika sebuah gigs telah menjadi lebih luas lagi maknanya, karena adanya “investasi sosial” di dalamnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY