Indonesia Bergerak: Sebuah Puisi

Indonesia Bergerak: Sebuah Puisi

407
SHARE

Oleh: Chalid Muhammad

Bung, kau dengar suara kebencian itu? Menggelegar, membahana di seantero negeri. Tak ada lagi ruang menyemai cinta. Diganti marah dan cerca.

Bung, parade kebencian ini telah mewabah. Disudut kampung, di pusat kota, di ruang rapat, di kantor, di media sosial, di ruang publik, kebencian diproduksi.

Mereka berlomba jadi pembenci sejati. Mencerca, memaki, menghina, mencela, jadi menu sehari.

5-1-chalid-muhammadDiksi yang tak dijumpai dalam teks lampau kini jadi lazim. Ingin jadi paling beradab dengan cara biadab. Menghina dengan laku yang dina.

Cerdik pandai hilang akal budi. Kaum terdidik menjadi penghardik. Pejabat publik lomba memaki.

Bung, murka pada kuasa pendusta bukan dosa. Benci pada perampok negeri sikap terpuji. Marah pada sang khianat rakyat sikap terhormat. Tapi tidak untuk sesama rakyat.

Bung, para penganjur kebajikan banyak yang bungkam, padahal negeri hampir karam. Indonesia sedang ditubir jurang.

Bung, mungkinkah ini fase yang harus dilalui tuk jadi negeri terpuji? atau bubar akan terjadi.

Bung, kini saatnya bertindak selamatkan rakyat. Ganti benci dengan cinta. Ganti hardik dengan didik. Ganti marah dengan ramah. Ganti murka dengan suka. Tapi tidak pada kuasa pendusta. Penggusur orang papah dan penjarah harta negara.

Bung, mari kita tebar salam dengan senyuman. Kita rajut yang koyak, dan himpun yg berserak, agar Indonesia bergerak.

Jakarta 6 Nov 2016

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY