Kick-off Tokyo International Film Festival ke-31: Musikal, Feminisme dan Kolaborasi Asia

Kick-off Tokyo International Film Festival ke-31: Musikal, Feminisme dan Kolaborasi Asia

26
SHARE
©2018 TIFF

Oleh: Daniel Irawan

Memulai perhelatan edisi ke-31-nya, Tokyo International Film Festival (TIFF) hadir dengan sejumlah pembaharuan. Menjadi kali kedua babak barunya di tangan Takeo Hisamatsu sebagai festival director, kick-off TIFF ke-31 ditandai dengan penayangan film pembuka A Star is Born (2018, Bradley Cooper) untuk pers dan industri, sebelum diteruskan dengan gelaran karpet merah dan penayangan film pembuka tersebut untuk publik dan seluruh undangan.

Ada visi jelas yang diusung TIFF sejak edisi ulang tahun ke-30 tahun lalu dengan slogan baru ‘Entertainment and Art in Symmetry’ yang mengacu pada sejumlah program baru untuk menarik pengunjung. Tahun ini ada pemutaran film klasik dalam konsep marathon sepanjang malam, di mana 3 film diputar berurutan masing-masing di slot Midnight Film Festival (The Terminator, A Nightmare on Elm Street, Robocop) dan Tribute to the Musical (Streets of Fire, Dreamgirls dan The Bodyguard) – yang memang dihadiri oleh banyak audiens, sementara di Tokyo Film Arena yang menjadi panggung utama pendampingnya, ada Cinema Athletic 31 di mana film-film klasik bertema sport akan ditayangkan setiap harinya.

Namun yang benar-benar tampil ke depan adalah nuansa musikal dan feminisme dalam keseluruhan balutan line up festivalnya. Selagi A Star is Born menjadi pembuka yang kuat untuk mengusung itu, program Crosscut Asia tahun ini – yang menjadi kolaborasi antara TIFF dan Japan Foundation, juga membawa tema sinema musikal dengan judul Soundtrip to Southeast Asia.

Selain film romansa musikal karya Garin Nugroho, Aach… Aku Jatuh Cinta (Chaotic Love Poems) yang dibintangi Chicco Jerikho dan Pevita Pearce, 8 film lainnya diisi oleh film-film musikal lintas genre dari berbagai negara Asia. Ada perpaduan pop idol Jepang dengan Thailand di BNK48: Girls Don’t Cry, dua showcase musik Kamboja masing-masing lewat Don’t Think I’ve Forgotten dan In the Life of Music, dua dari Filipina; hip hop lewat Respeto dan rock opera di Season of the Devil karya Lav Diaz, Go-Go Sisters dari Vietnam, serta 15 Malaysia; kumpulan 15 film pendek Malaysia tahun 2009 yang dikompilasi dan diproduksi oleh sineas multitalenta Pete Teo sebagai statement politik sineas-sineas muda di zamannya. Masih ada juga beberapa line up di segmen lain seperti Japanese Cinema Splash yang menjadi showcase sineas independen Jepang yang bernuansa musik secara kental seperti Rent a Friend karya Mayu Akuyama.

©2018 TIFF

TIFF tahun ini juga tetap mengusung nafas feminisme dan pemberdayaan wanita dalam pilihan film-filmnya. Sejumlah film kompetisi utama seperti Amanda (Perancis), The Bra (Jerman), The Father’s Shadow (Brazil), History Lessons (Meksiko), Three Husbands (Hong Kong) dan The Vice of Hope (Italia) merupakan film-film bertema feminisme begitu pula film-film di segmen Asian Future seperti Cold Sweat (Iran) yang mengisahkan tim futsal Iran di final Asian Games, Malaysia, Miss Baek (Korea), Tracey (Hong Kong) serta di Special Screenings; ada Amanogawa dan My Train Diary (Jepang), The Favourite (Inggris/AS) karya terbaru Yorgos Lanthimos, Roma (Meksiko), pemenang Golden Lion dari Alfonso Cuaron dan Padman (India).

Selain itu, mempererat hubungan dengan sejumlah negara Asia juga merupakan prioritas yang dianggap sangat penting seperti dukungan Asian Film Academy, Hong Kong atau China yang belakangan ini berperan cukup besar dalam industri film Jepang. Shoplifters, pemenang Palme d’Or Cannes karya Hirokazu Koreeda dirilis cukup luas di China dan sebuah film thriller kriminal baru – Wings over Everest yang dibintangi aktor Jepang legendaris Koji Yakusho – tahun ini menjadi Actor in Focus untuk TIFF, juga akan diproduseri Terence Chang sebagai kolaborasi Jepang dan China setelah Manhunt karya John Woo tahun lalu.

Terakhir, TIFF juga menyadari bahwa ekspansi sinema atau media digital dan berbagai platform tontonan online kini tak bisa dihindari. Layaknya sebagian besar festival internasional lain, TIFF juga tak menampik dukungannya terhadap platform digital seperti Amazon atau Netflix dengan menayangkan dua film Netflix; Roma (Alfonso Cuaron) dan serial animasi Devilman Crybaby yang sekalian menjadi sederet film pengisi segmen fokus animasi terhadap sineas/animator Masaaki Yuasa.

Dalam seremoni pembuka yang juga dihadiri festival ambassador Mayu Matsuoka, Menteri Negara untuk Strategi Cool Japan dan IP Takuya Hirai, juri internasional yang dikepalai sineas Filipina Brillante Ma Mendoza serta aktor Ralph Fiennes yang datang mempresentasikan film kompetisi karya penyutradaraannya, The White Crow, Takeo Hisamatsu menyebutkan bahwa tahun ini TIFF mencetak rekor submisi film kompetisi sebanyak 1809 film dari 109 negara, dan TIFF mengekspansi venue baru di Hibiya serta event-event kolaborasi lainnya dari fashion ke animasi untuk memperluas lagi usaha diversitasnya. Ia mengatakan bahwa ia sudah bekerja di industri film selama 40 tahun dan tak pernah menyesali itu. Menonton film baginya selalu memberi semangat baru dan juga hubungan-hubungan persahabatan di sekelilingnya. Memberi ucapan selamat datang ke seluruh partisipan, Takeo menyatakan TIFF edisi ke-31 resmi dibuka.

Tokyo International Film Festival berlangsung selama 10 hari dari 25 November hingga 3 November di venue utama Roppongi Hills dan sejumlah lokasi lainnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY