Kiki & The Klan

Kiki & The Klan

1804
SHARE

Kikie & The Klan (KKK) adalah party-set band. Menurut M.Fikrie, seorang jurnalis band ini merupakan Orkes Rockabilly berbahaya, yang siap mengajak berdansa, sambil tersenyum bahagia. “Musik mereka enak didengar, tampilan mereka sedap dipandang. Mendengarkan mereka adalah bercengkerama dengan musik ‘ngak-ngik-ngok’ yang dilarang Orde Lama, tapi dengan isian serta sikap yang hampir pasti diberangus Orde Baru. Itu semua menjadikan mereka sebagai anomali yang pantas untuk dinikmati,” katanya.

Adalah Kikie Pea yang sehari-harinya bekerja sebagai jurnalis swasta di surat kabar lokal Yogyakarta, karena keseringan nonton pertunjukkan musik, ia berpikir untuk mendirikan bandnya sendiri. Dari banyaknya jenis genre musik yang dilahapnya, kebetulan satu-satunya musik yang bisa ia mainkan adalah musik ‘ngak ngik ngok’ (tiga jurus alias three chord rock n’ roll).

Musik yang biasa dikenal dengan sebutan Rockabilly ini memang jadi kesukaannya sejak tiga turunan. Tembang-tembang milik Hank Williams, Elvis Presley, Ricky Nelson dan Johnny Cash sudah sangat akrab ditelinga Kiki sejak ia mulai bisa mengenal apa itu yang disebut nada.

2010 lalu, Kiki hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota yang memang ingin dijamahnya sejak lama. Setahun setelah bermukim di Yogyakarta, ia berkenalan dengan Rockin’ Spades, yang dianggapnya sebagai lembaga nirlaba yang menaungi para penggemar musik dan subkultur Rockabilly ini. Pada awal 2012 lalu, Kiki memutuskan untuk membuat band sendiri. Nama Kiki & The Klan kemudian keluar sebagai pilihan pertama dan terakhir.

Para musisi yang terlibat di proyek ini yang diutamakan dan dikedepankan adalah style ketimbang skill. Mereka memang sengaja dibajak dari band-band asuhan Rockin’ Spades, mereka adalah Laurentius Hendy Kaboel (Gitar/ Brandal Enerjix) Chatra Krisnandi (drum/ Brandal Enerjix), Valentinus Nagata (upright bass/ Bloody Hollow), Rinalda Rosditya (gitar/ Rebel Of Law), Mahadhana Dira (Upright Bass), Tito Desperados (Gitar/vokal), dan Rika Fadhila (Saxophone). Terkadang KKK juga dibantu oleh Ainx (Accordion), Anom (mandolin), Dian (biola) dari Band Folk Celtic Gerap Gurita.

Gigs demi gigs KKK sambangi dengan tembang-tembang milik Elvis Presley, Johnny Cash, Carl Perkins, Buddy Holly dan sederet musisi yang menghebohkan jagad musik era 1950-an. Nama-nama musisi seperti, Bob Dylan, Hank Williams, Tom Waits, Iggy Pop, Gene Vincent, Hank Williams III, Mike Ness, The Clash, Social Distortion, Deddy Stanzah, dan Stray Cats tentunya nggak lepas dari permainan audio, visual, dan performance yang dihasilkan. Uniknya KKK telah main diberbagai gigs dan kesempatan, mulai dari acara pembukaan pameran seni rupa, otomotif, peluncuran buku, pesta sekolahan, ditanggap perusahaan, acara tattoo, stand up comedy, pesta pernikahan, dan pesta meriah lainnya. Ini merupakan uniknya musik Rockabilly, mampu merasuk berbagai kalangan.

Maret 2013 lalu single mereka ‘Tiger & Butterfly’ dirilis dalam album Soundbox Compilation vol 1. Lagu yang berbalut irama musik country ala Johnny Cash dan Hank Williams ini bercerita tentang, sebut saja, kegagalan cinta. Lagu ini direkam di studio ERWE, dan dinahkodai oleh Luke ERWE sendiri. Ketika berhasil memasuki chart indie di beberapa stasiun radio di Yogyakarta, X-Code Film sebuah rumah produksi tertarik untuk membuatkan video klip untuk lagu ini. Video Klip yang disutradarai oleh Budi Laksono ini dilaunching secara resmi di Liquid Café, Jl Magelang, Yogyakarta, pada (28/5) lalu bersamaan dengan Soundbox Compilation Tour.

Kikie Pea berkata bahwa proyek ini sejatinya adalah kegiatan menghambur-hamburkan uang tabungannya. “Kami datang untuk menghidupi Rock N Roll, bukan hidup dari Rock N’ Roll, jangan takut miskin lah karena Rock N Roll,” ujarnya sedikit angkuh. Dalam waktu dekat ini, KKK akan memproduksi album yang bermaterikan karya-karya olahan mereka sendiri yang pastinya sangat beradaptasi dengan kultur Indo Rock.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY