Kilas Balik Perkembangan Film Anak Indonesia

Kilas Balik Perkembangan Film Anak Indonesia

2411
SHARE
Poster film Lima Sahabat, karya: CM. Nas, dibintangi oleh Septian Dwicahyo, Andika Iskandar, Soekarno M. Noor dan Benyamin Sueb

Oleh: Daniel Irawan

Percaya atau tidak, salah satu genre yang hampir tak pernah berhenti diproduksi di Indonesia selain melodrama dan horor adalah film anak. Secara definitif, film anak yang berdasar sasaran pasarnya juga sering disamakan dengan tontonan atau film keluarga memang merupakan genre yang mengandung anak-anak dalam konteks rumah atau keluarga sebagai elemennya. Walau begitu, sebenarnya film anak secara khusus lebih diperuntukkan untuk anak sementara tak semua film dengan rating segala umur sebagai tontonan keluarga selalu ditujukan khusus untuk mereka.

Dalam subgenre-nya, film anak sebenarnya juga punya banyak pendekatan genre yang sama seperti film-film lainnya, dan begitu pula dalam perfilman kita ada yang disajikan sebagai melodrama, komedi, fantasi, musikal bahkan perang, sementara berbeda dengan film-film luar, film anak dalam bentuk animasi justru jarang-jarang bisa ditemukan dalam sejarah perfilman kita. Dari pandangan edukatif, ini memang sebuah genre yang sangat perlu mendapat dukungan karena anak-anak juga butuh tontonan yang mendidik daripada terus terpaksa mengikuti arus trend yang ada bersama film-film remaja atau dewasa. Masalahnya juga, ketimbang film-film yang ditujukan sebagai tontonan keluarga, terkadang film anak yang benar-benar murni diperuntukkan untuk anak, terbentur dengan segmentasi penonton kita kebanyakan. Banyak film anak dalam sejarah film kita sebenarnya bukanlah film yang dibuat murni untuk anak namun lebih dalam wujudnya sebagai film keluarga.

Yang menjadi pertanyaan tentu saja mengapa genre ini masih terus dibuat hingga sekarang. Sasaran keluarga sebagai pemirsa, terutama di masa-masa liburan yang selalu jadi standar emas waktu perilisan film kita, memang masih sulit untuk dilepaskan, dan mungkin saja trend yang berkembang hingga saat ini sedikit banyaknya memberi ruang cukup luas untuk membuatnya terus diproduksi. Tema-tema inspiratif yang masih terus diikuti banyak produser sejak kesuksesan ‘Laskar Pelangi’, misalnya, kadang juga tak jauh dari keterlibatan elemennya.

Era Awal Perfilman Indonesia ke tahun ‘70an

Tak banyak mungkin catatan apa film anak Indonesia pertama yang diproduksi, namun dari era-era awal film kita, tercantum judul seperti ‘Aladin Dengan Lampoe Wasiat’ (1940) yang legendanya sangat dekat dengan anak-anak. Di era Usmar Ismail, dimana film nasional benar-benar diproduksi oleh orang Indonesia, genre ini juga masih tergolong cukup jarang. Judul-judul yang cukup dikenal diantaranya adalah ‘Ratapan Ibu’ (1950), ‘Si Pintjang’ (1951), ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’ (1953), ‘Djuara Sepatu Roda’ (1958) atau ‘Sri Asih’ (1954), adaptasi komik superhero lokal yang pangsa pembacanya memang dari kalangan segala umur. Sementara yang paling menonjol adalah ‘Djendral Kantjil’ (1958) yang melejitkan nama Achmad Albar sebagai bintang cilik . Era ’60-an pun tak banyak mencatat film anak di tengah tema-tema sosial bersama gejolak politik di zamannya, namun ada satu yang cukup dikenal, ‘Bintang Ketjil’ (1963).

Begitupun, film anak kita baru berkembang lebih baik di era ’70-an, setelah diwarnai dengan trend komedi yang mencatat nama Benyamin S. Atau Bing Slamet dan Ateng-Iskak-Eddy Sud dalam Kwartet Jaya. Dengan kesuksesan ‘Si Doel Anak Betawi’ di tahun 1973 yang sekaligus mengangkat nama Rano Karno sebagai bintang cilik berbakat, selain Rano yang jadi banyak berperan di film-film anak antara lain ‘Si Rano’, ‘Yatim’ atau ‘Dimana Kau Ibu’ di tahun yang sama, produser mulai mencari bintang cilik lain untuk diangkat.

Ditambah dengan sukses besarnya ‘Ratapan Anak Tiri’ yang memperkenalkan Faradilla Sandy dan Dewi Rosaria Indah, tahun itu seolah menjadi tonggak kebangkitan genre ini. Ada juga film-film lain seperti ‘Ita Si Anak Pungut’, Bing Slamet juga membuat komedi musikal ‘Bing Slamet Sibuk’ (disutradarai alm. Hasmanan) dengan inspirasi dari ‘The Sound Of Music’ dan memperkenalkan grup The Kids.

Trend ini masih terus berjalan ke tahun 1974 dimana genre komedi yang diusung grup-grup komedian seperti Kwartet Jaya dan Benyamin S. masih mewarnai pangsanya sebagai tontonan keluarga. Semakin banyak produser yang mencari bakat-bakat cilik baru dari ranah musik. Rano Karno masih terus tampil dalam ‘Anak Bintang’ yang bergenre drama fantasi, ‘Jangan Biarkan Mereka Lapar’, ‘Rio Anakku’ dimana Rano meraih Pemain Cilik Terbaik FFI hingga ‘Ratapan Si Miskin’ yang mempertemukannya dengan Faradilla Sandy dan tentu saja ‘Romi dan Juli’ yang meskipun lebih ke genre remaja namun mencatat salah satu penampilan Rano sebagai bintang cilik dengan pasangan legendarisnya Yessy Gusman. Selain itu ada debut Astri Ivo dalam ‘Boni dan Nancy’, Erwin Gutawa (credited as Erwin Gautama) di ‘Permata Bunda’, ‘Raja Jin Penjaga Pintu Kereta’ yang punya tema sangat unik, bahkan ‘Rama Superman Indonesia’ yang diilhami Superman dan peraih film terbaik Piala Citra 1975, ‘Senyum Pagi di Bulan Desember’ yang memperkenalkan Santi Sardi (hadiah khusus FFI 1975 untuk pemeran cilik terbaik).

Meski Rano Karno sudah mulai beranjak menjadi seorang remaja sejak perannya di ‘Romi dan Juli’, trend ini masih berkembang di tahun-tahun setelahnya dengan masuknya Adi Bing Slamet sepeninggal sang ayah sebagai bintang cilik baru di tahun 1976. Tak hanya tampil dalam melodrama anak seperti ‘Anak Emas’ dan ‘Cinta Kasih Mama’, Adi juga bergabung dengan grup ayahnya di ‘Ateng Sok Tahu’. Bersama popularitas Adi Bing Slamet, muncul pula Chicha dari keluarga Koeswoyo yang melejit lewat lagu ‘Helly’. Mengusung judul berdasar namanya sendiri, film ini bahkan berhasil memenangkan piala di Festival Film Kairo tahun itu. Menyusul Chicha, ada juga Yoan Tanamal, putri Tanty Yosepha lewat ‘Yoan’.

Adi Bing Slamet sendiri masih terus bertahan ke tahun 1976 lewat ‘Bandit Pungli’ bersama Eddy Sud yang berpisah dari Kwartet Jaya dan ‘Koboi Cilik’ di tahun 1977, dimana Eddy Sud berkolaborasi dengan Bagio dkk. Sementara Santi Sardi bermain dalam ‘Jangan Menangis Mama’ (1977), sementara saudaranya, Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi tampil di ‘Pengemis dan Tukang Becak’ yang mendapat unggulan film terbaik FFI, dan ada pula Bagus Santoso di ‘Jeritan Si Buyung’, ‘Petualang Cilik’ dan ‘Nasib Si Miskin’ di tahun yang sama.

Tahun 1979 mencatat debut Ira Maya Sopha dan Dina Mariana, keduanya juga penyanyi cilik untuk semakin meramaikan genre ini lewat ‘Ira Maya Si Anak Tiri’ dan ‘Ira Maya dan Kakek Ateng’. Selain itu juga ada Liza Tanzil dari Sangar Sanggrila yang sebelumnya muncul di ‘Kisah Cinderella’ (1978) lewat ‘Pinokio Si Boneka Kayu’ dan ‘Tuyul Perempuan’ (keduanya bersama Ateng-Iskak). Di tahun 1980 ada ‘Abizars Pahlawan Kecil’ yang sayangnya gagal melejitkan bintang ciliknya, Santi Sardi dengan ‘Senyum Untuk Mama’ dan ‘Anak-Anak Tak Beribu’ yang juga diperani Lukman dan Ajeng Triani, ‘Buah Hati Mama’ (Puput Novel dan Ryan Hidayat), dan ‘Nakalnya Anak-Anak’ yang mempertemukan Ira Maya Sopha, Dina Mariana, Ryan Hidayat bersama Ria Irawan dan Kiki Amelia, lagi-lagi diinspirasi ‘The Sound Of Music’.

‘Harmonikaku’ karya Arifin C. Noer yang mendapat nominasi FFI juga muncul di tahun ini. Seakan tak mau kalah, momen ini juga dimanfaatkan sutradara Sandy Suwardi Hassan untuk membesut sekuel ke film legendarisnya, ‘Ratapan Anak Tiri II’, tetap dengan Faradilla Sandy plus adiknya, Faraumaina Sandy. Berkolaborasi dengan Liza Tanzil, Ira Maya sendiri masih melanjutkan perannya dalam sekuel ‘Kisah Cinderella’, ‘Ira Maya Putri Cinderella’ di tahun 1981, sementara Dina Mariana dan Kiki Amelia masih tampil di ‘Tangan-Tangan Mungil’ bersama Kak Seto.

Era ’80 ke ‘90an

Genre ini menurun drastis di tahun-tahun selanjutnya dengan maraknya tema-tema legenda, percintaan remaja dan exploitation genre, namun masih menyisakan beberapa judul seperti ‘Lima Sahabat’ (1981) yang diperankan Septian Dwicahyo, ‘Merindukan Kasih Sayang’ (1984) yang kembali diperankan Abizars namun tetap tak bisa melejitkan karirnya, walau Abizars mendapat Piala Kartini untuk Pemain Cilik Terbaik FFI dan masih berlanjut ke action Barry Prima ‘Kesan Pertama’ (1985) yang sebenarnya merupakan tontonan keluarga rip-off dari film India ‘Jhutha Sach’, ‘Untukmu Kuserahkan Segalanya’ (1984), drama musikal dengan tema panti asuhan yang diperankan Rano Karno dan Lydia Kandou, sementara ‘Arie Hanggara’ (1985) dan ‘Tragedi Bintaro’ (1989) walaupun masing-masing mencatat penampilan bintang cilik Yan Cherry Budiono dan Ferry Octora namun lebih berupa kisah nyata tragedi yang sama sekali bukan untuk konsumsi anak, dan ‘Musang Berjanggut’ yang meski menyatukan banyak komedian legendaris tanpa elemen dewasa tapi lebih kental di genre legenda.

Beberapa melodrama keluarga tipikal lain seperti ‘Bila Saatnya Tiba’ (1985) dan ‘Tak Seindah Kasih Mama’ (1986) pun agak jauh untuk dikategorikan sebagai film anak. Ada sebuah usaha bagus dari Pitrajaya Burnama untuk mengadaptasi atmosfer ‘Bugsy Malone’, operet anak-anak dalam ‘Don Aufar’, namun sayangnya gagal total di pasaran, membuat genre ini semakin ditinggalkan.

Baru di tahun 1989 kemudian Slamet Rahardjo muncul dengan ‘Langitku Rumahku’. Mendapat banyak nominasi FFI 1990, dua Citra untuk artistik dan fotografi sekaligus Piala Kartini untuk Banyubiru, sayangnya tak sukses karena dituding tak mendapat perlakuan wajar dalam peredarannya. Di tahun yang sama juga ada ‘Si Badung’ yang juga mendapat nominasi FFI untuk film terbaik dan meraih Piala Kartini untuk aktris cilik Sheren Regina Dau, serta ‘Nyoman dan Merah Putih’ yang sempat mendapat penolakan judul awal ‘Nyoman dan Presiden’. Di tengah gempuran film-film erotis tahun ‘90an masih ada pula ‘Amrin Membolos’ karya Yonky Souhoka yang diperani aktor cilik Don Bograd dan Mandra yang tengah melejit, namun sayangnya juga gagal bersaing dengan film-film erotis itu.

Era Kebangkitan Film Indonesia – Sekarang

Meski genre-nya seakan tertinggal semasa dua dekade itu, salah satu film yang menandakan awal-awal kebangkitan film kita, ‘Petualangan Sherina’ (1999) juga ada di genre film anak. Serupa seperti resep yang banyak dipakai produser saat masa keemasan genre ini di tahun ’70-an, film dari duo produser-sutradara Mira Lesmana-Riri Riza ini juga menjual popularitas Sherina yang merupakan seorang penyanyi cilik.

Resep ini juga digunakan oleh dua film yang diperankan Joshua Suherman, ‘Joshua Oh, Joshua’ (2000) dan ‘Petualangan 100 Jam’ (2004), begitu juga Tina Toon dengan ‘Lenong Bocah The Movie’ (2004) namun sayangnya tak mampu menyaingi kesuksesan ‘Petualangan Sherina’.

Dari era awal kebangkitan film kita, sebenarnya masih cukup banyak film anak yang diproduksi. Walau terkadang lebih berupa film keluarga, sebagian diantaranya, bukan hanya baik secara kualitas, namun juga cukup mendapat sambutan. Film-film seperti ‘Denias : Senandung Di Atas Awan’ dan ‘King’ dari Alenia Pictures yang memang mengkhususkan produksinya ke arah tontonan anak, ‘Rumah Tanpa Jendela’ dari Aditya Gumay dan Sanggar Ananda, ‘Bendera’ dari Nan T. Achnas, ‘Ambilkan Bulan’ dari Mizan, ‘Untuk Rena’, ‘Garuda Di Dadaku 1-2’ dan ‘Tendangan Dari Langit’ yang punya tema sepakbola, hingga ‘Cita-Citaku Setinggi Tanah’ dan ‘Jendral Kancil The Movie’ yang menyambung serial teve sekaligus film klasik 1958-nya merupakan film-film anak yang sangat patut untuk diapresiasi lebih.

Sayangnya sebagian lagi tak seperti itu. Dipenuhi kekurangan ini dan itu, ada yang sangat lemah dalam penggarapan seperti banyak judul yang bahkan sulit kita ingat sampai saat ini, ada yang gagal menangkap kepolosan dan pola pikir anak-anak seperti segmen terakhir Upi di ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’, tanggung-tanggung seperti ‘Semesta Mendukung’ atau sebenarnya punya tujuan baik namun memberikan pesan misguided seperti ‘Leher Angsa’, ‘Rindu Purnama’ dan ‘Serdadu Kumbang’ atau malah cenderung berisi isu realisme yang terlalu berat dan malah tak pantas disaksikan anak-anak seperti halnya ‘Rumah Di Seribu Ombak’ dan ‘Di Timur Matahari’, bahkan dikotori kepentingan-kepentingan lain seperti ‘Sayap Kecil Garuda’. Selain itu, sebagian besar juga masih harus berurusan dengan sepinya sambutan penonton.

Sementara genre animasi agaknya masih cukup jauh tertinggal di belakang. Selagi perkembangannya di ranah independen sebenarnya sangat menjanjikan dengan kualitas-kualitas teknis yang mumpuni, dua yang hadir masih di masa-masa awal bangkitnya film Indonesia, ‘Homeland’ dan ‘Janus : Prajurit Terakhir’ sayangnya diedarkan cukup terbatas, sementara ‘Meraih Mimpi’ walau dikerjakan oleh animator-animator lokal namun hanyalah produk sulih suara dari ‘Sing To The Dawn’ yang aslinya merupakan film negara tetangga Singapura. Masih ada ‘Petualangan Si Adi’ dalam format 3D tahun lalu yang sebenarnya secara teknis cukup baik namun gagal total di pasaran. Yang cukup mendapat sambutan hanyalah sekuel ‘Petualangan Singa Pemberani’ yang dirilis sebagai afiliasi sebuah produk yang memang sudah sangat dikenal dari animasi-animasi homevideo-nya.

Begitupun, film anak tetaplah merupakan genre yang seharusnya tetap diproduksi karena anak-anak juga memerlukan tontonan berkualitas yang sekaligus bisa memberikan edukasi serta pemahaman sosial yang baik untuk perkembangannya. Adalah sebuah harapan agar produser dan sineas kita tak berhenti untuk memproduksi genre ini, bukan hanya sekedar niat, tapi juga dengan kualitas yang semakin baik nantinya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY