Konferensi Pers Juri Internasional TIFF ke-31: Menikmati Film Sebagai Juri Kompetisi dan...

Konferensi Pers Juri Internasional TIFF ke-31: Menikmati Film Sebagai Juri Kompetisi dan Penonton Film adalah Dua Hal Berbeda

32
SHARE
©2018 TIFF

Oleh: Daniel Irawan

Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, sebelum menunaikan tugas mereka, dewan juri kompetisi internasional Tokyo International Film Festival (TIFF) selalu menggelar jumpa pers bersama para jurnalis undangan untuk menyampaikan visi dan misi mereka. Tak mudah memang menyamakan pandangan saat 5 nama dikolaborasikan dalam sebuah panel penjurian tanpa pertemuan panjang sebelumnya.

Tahun ini, bertindak selaku presiden dewan juri adalah sineas Filipina Brillante Ma Mendoza yang hampir tak pernah absen mempersembahkan karyanya di TIFF. Selain itu ada produser Bryan Burk dari sederet blockbuster Hollywood seperti Star Trek, Mission: Impossible dan Star Wars: The Force Awakens, aktris Iran Taraneh Alidoosti, aktris senior Jepang Kaho Minami dan sutradara-produser Hong Kong Stanley Kwan dari film-film arthouse seperti Rouge dan Lan Yu.

Membuka sesinya, Burk menyampaikan kekagumannya pada Tokyo yang dianggapnya sama dengan cintanya pada sinema. Stanley Kwan kemudian menyampaikan rasa terima kasihnya dipilih untuk menjadi juri internasional tahun ini. “Saya merasa sangat nyaman ketika duduk di bioskop untuk menyaksikan sebuah film, karena itu saya sangat menantikan saat-saat di mana kami harus menyaksikan bersama 16 film yang terpilih untuk berkompetisi di TIFF.

©2018 TIFF

Menjawab pertanyaan dari seorang jurnalis tentang ekspektasi dan pengalaman mereka sebagai juri, Mendoza menjawab bahwa walau juri selalu menerima panduan secara relatif dari event yang bersangkutan, pada akhirnya penilaian pribadi sebagai juri lah yang akan menentukan siapa pemenangnya. Soal ekspektasi, bagi Mendoza, tak ada yang lebih seru saat menyaksikan sebuah film tanpa ekspektasi apapun. Ia menambahkan bahwa panduan atau guidelines apapun boleh saja ada, tapi di atas semua, yang penting untuk dinilai adalah seberapa besar sebuah film bisa menggerakkan kita sebagai penonton lewat penggunaan bahasa sinematiknya.

©2018 TIFF

Buat Kaho Minami sendiri, hal terpenting adalah kesan pertama saat menonton sebuah film tanpa harus mendapat terlalu banyak informasi sebelumnya. Ia selalu memilih untuk menyaksikan film dengan hati terbuka, untuk menerima kesempatan apapun yang bisa membuka dunia baru dalam pandangannya. Burk menimpali bahwa sekarang ini ia pun sering menghindari membaca sinopsis termasuk ketika berada dalam kapasitas juri untuk menilai. “Tak ada yang mudah di industri dan bisnis film, bisa terpilih dalam event-event seperti ini saja sudah sangat penting”, katanya.

©2018 TIFF

Berbeda dengan rekan-rekannya, Taraneh Alidoosti lebih memilih untuk menitikberatkan prosesnya sebagaimana kita memandang semua manusia di sekitar kita dengan mata yang sama. Berada di tengah-tengah kolaborasi penjurian ini, Alidoosti mengatakan bahwa berdasar anggapan tadi, ia akan mencoba melupakan nama atau negara mana asal film-film ini, dan akan melihatnya dengan mata yang sama.

©2018 TIFF

Stanley Kwan menambahkan bahwa menonton film sebagai dewan juri dengan penonton/filmgoer sebenarnya punya kapasitas berbeda. Ia mengatakan bahwa ia menyaksikan A Star is Born, film pembuka TIFF tahun ini di hari pertama saat dirilis di HK sebagai penonton, tanpa bisa menampik ekspektasi karena ia juga sudah tahu banyak hal dalam filmnya sebagai sebuah remake.

©2018 TIFF

Sebagai sineas pertama dari Filipina juga yang ditunjuk menjadi ketua juri FFI, Mendoza mengatakan bahwa ia merasa senang dan terhormat bisa dipilih menjadi ketua juri atas statusnya sebagai filmmaker yang datang dari negara sedang berkembang. “Filipina sekarang tengah merayakan ulang tahun ke 100 sinemanya dan saya merasa sangat penting bagi talenta-talenta sinema dari negeri saya untuk menghargai ini”, tambahnya.

Isu lain yang diangkat dalam jumpa pers ini adalah keberadaan juri wanita dalam komposisi juri internasionalnya. Alidoosti menjawab bahwa semua orang harusnya berperan dalam representasi yang sama. Adalah sebuah kenyataan bahwa filmmaker wanita memang masih tergolong minoritas seperti gendernya sendiri. Menurutnya semua orang mestinya mulai memperjuangkan hal ini dan ia cukup senang bahwa TIFF tahun ini memiliki dua juri wanita di antara lima juri internasionalnya.

Minami menambahkan bahwa ia berharap di tahun-tahun berikutnya bisa ada lebih lagi juri wanita dan mungkin menempati posisi ketua juri. Walaupun secara keseluruhan jumlah sutradara wanita dalam line up film-film seleksi TIFF masih kurang, kita perlu menyuarakan itu, sebagaimana yang dikatakan Cate Blanchett di Cannes tahun ini.

Burk kemudian ikut memberikan pendapatnya, bahwa pertanyaan dan isu-isu seperti ini harus terus-menerus disuarakan. Ia sendiri berharap suatu hari bisa berada dalam komposisi juri dengan lebih banyak juri wanita untuk representasinya secara keseluruhan. Sementara Mendoza juga menyebutkan bahwa 10 dari 13 filmnya memuat isu pemberdayaan wanita. Di Filipina, tambahnya, kondisi yang ada masih sangat patriarkis walaupun dalam sejarahnya mereka punya dua presiden wanita. Begitupun, menurutnya festival film lebih mengacu pada filmnya yang paling utama, bukan gender, meski isu-isu seperti ini tidak bisa tidak, harus tetap diangkat. TIFF, menurutnya, sudah melakukan langkah besar dengan komposisi juri internasionalnya.

Dari kiri ke kanan: Bryan Burk, Kaho Minami, Brillante Ma Mendoza, Taraneh Alidoosti, Stanley Kwan
©2018 TIFF

Terakhir, menjawab pertanyaan jurnalis bagaimana bila suara juri terpecah dalam penentuan Tokyo Grand Prix, penghargaan tertinggi di segmen kompetisi utama TIFF, Mendoza mengatakan bahwa hal itu sering terjadi dalam setiap momen penjurian. Namun solusinya selalu kembali bahwa sebagai juri, mereka harus memilih yang terbaik, bukan yang mereka suka. “Hanya karena kita secara personal kurang menyukai sebuah film, bukan berarti film tersebut tidak bagus atau memiliki kualitas yang baik. “Sebagai ketua juri, saya menghimbau teman-teman untuk memilih film yang baik, bukan semata yang kita sukai”, tutur Mendoza mengakhiri sesi jumpa persnya.

16 film dari berbagai negara akan bersaing memperebutkan penghargaan tertinggi TIFF, Tokyo Grand Prix – yang akan diumumkan pada penutupan festivalnya tanggal 3 November mendatang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY