Laundry Show: Komedi Profesi Jenaka dengan Pesan Berharga

Laundry Show: Komedi Profesi Jenaka dengan Pesan Berharga

125
SHARE

LAUNDRY SHOW

Sutradara: Rizki Balki

Produksi: MVP Pictures, 2019

Komedi memang masih jadi komoditas terbesar sebagai genre film Indonesia. Tapi yang benar-benar membidik latar profesi, ini tak banyak. Profession, occupational atau yang lebih populer di luar sana, workplace comedy – apapun istilahnya, memang bukan sekadar komedi biasanya. Bukan pula hanya menggunakan tempat kerja sebagai set, tapi berdasar skrip, ia biasanya harus pula menjadikan profesi yang diangkat bukan hanya latar tapi juga tema bahkan karakter yang menghidupi motivasi masing-masing tokohnya. Bahwa ada informasi lebih yang memang ikut membentuk elemen-elemen penting dalam keseluruhan pengisahannya.

Laundry Show yang hadir dari MVP termasuk salah satunya. Mengambil profesi pekerja binatu buat pertama kalinya, itu juga yang membuatnya sudah punya satu kekuatan untuk tampil dengan kesegaran lebih. Tapi tentulah, naskahnya merupakan satu lagi pembentuk bangunan yang penting. Apalagi ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Uki Lukas – juga ikut menulis skrip bersama supervisi dari Adi Nugroho (Jailangkung, Ruang), sementara ada Upi yang kian sering berkiprah sebagai creative producer di sejumlah film; seakan menjadi navigator yang bertugas menjaga keseluruhan produksinya.

Entah memang berasal dari pengalaman pribadi, Laundry Show memang mengisahkan tentang Uki (Boy William), seorang pemuda yang nekat memilih meninggalkan pekerjaannya di atas motivasi lelah terus-terusan menjadi bawahan, demi membuka usaha laundry sendiri atas kenangan masa kecil terhadap sang Ibu. Keahlian yang ia miliki dibawanya ke usaha laundry baru bernama Halilintar dengan rencana matang ditambah petunjuk motivator panutannya, Aryo Keukeuh (Hifdzi Khoir), namun memulai sebuah langkah baru tentu tak gampang. Dari mulai sadar sulitnya menjadi bos menangani anak-anak buah (diperankan Erick Estrada, Tissa Biani, Mamat Alkatiri, David Saragih, Fajar Nugra, Indra Jegel, Marshel Widianto dan Mbok Tun) dengan macam-macam tingkah polah menghadapi pelanggan dan dirinya sendiri, hingga laundry seberang milik Agustina (Gisella Anastasia) yang bukan saja serba canggih tapi karyawannya juga jauh lebih menarik dengan servis spesial bak kapal pesiar. Ini mau tak mau memicu persaingan di antara Uki dan Agustina sampai mendekati perang urat syaraf penuh kekacauan, tanpa lagi bisa menyadarkan rasa yang sebenarnya sudah muncul saat perkenalan mereka secara tak sengaja di sebuah swalayan.

Satu hal yang bagus, skrip Uki memang sudah memulai semuanya dengan aspek yang paling dibutuhkan dalam sebuah komedi profesi. Montase yang memuat motivasi secara jelas lewat prinsip yang selalu dipegang karakter utamanya – “Nggak ada noda yang nggak bisa dihilangin sama Mama” hingga informasi efektif soal usaha laundry tergelar dengan kuat sejak menit-menit pertama. Dan ini secara efektif masih disempali komedi memilih pegawai (tentu karakter-karakternya dibuat senyeleneh mungkin dalam konteks komedi; Erick Estrada, Mbok Tun dan Tissa Biani bermain paling kuat) serta menghadapi pelanggan dengan tampilan cameo yang bergantian (Gading Marten, Nadine Alexandra plus sejumlah komika).

Skrip itu juga masih punya daya amunisi tambah dari sematan multikultur karakter-karakternya, bahkan ke beda lapis sosial etnis Cina yang dibawa dua tokoh utamanya walaupun tak sampai sedetil Cek Toko Sebelah sebagai standar tertingginya, termasuk ke sempalan gimmick lebaran meski sayang urung dirilis di momennya. Walau keputusan pengarahan Rizki Balki (A: Aku, Benci dan Cinta) tak sampai terus membuat terpingkal-pingkal kecuali di beberapa adegan termasuk soal Ambon di antara Mbok Tun dan Boy, juga beberapa kesempatan menyemat koreografi musikal yang sayang tak pernah dibiarkan tergelar, tetap ada atmosfer ringan – menyenangkan yang bisa dipertahankan dengan cukup baik. Keseimbangan ini cukup terjaga untuk tak terdistraksi dramatisasi berlebihan, bahkan ketika akting Boy berkali-kali seakan lepas dengan ekspresi terlalu dramatik.

Hanya saja, cukup disayangkan memang, dua elemen utama soal persaingan gerai sejenis – lagi-lagi ini juga merupakan tema yang jarang diangkat di film kita, dengan ‘battle of sexes’ dari dua tokoh utama ke pekerja-pekerja mereka – yang seharusnya menjadi fondasi terkuat Laundry Show, tak berada dalam keseimbangan yang cukup. Selagi intensitas persaingan dan motivasi karakter Uki bergulir cukup kuat dari POV-nya sejak awal, benturan motivasi lawannya – Agustina, yang berada di balik latar buat meyakinkan keluarganya yang punya tingkat ekonomi jauh di atas, sayangnya terkesan lewat begitu saja hanya dengan sepenggal penjelasan menjelang akhir yang diselesaikan agak terburu-buru. Ada memang setup yang digelar lewat interaksi Erick dan Gabriella Desta sebagai Ranti yang cukup mencuri perhatian di perempat akhir, namun akting Willy Dozan sayangnya terlalu Willy Dozan buat bisa benar-benar menguatkan kesan di pengujungnya.

Begitupun, dengan konsistensi keseimbangan yang sebenarnya bisa lebih baik lagi, Laundry Show jelas bukan film yang gagal. Tata teknis dari penata kamera Aga Wahyudi dan artistik dari Eki Nurlaburhan – dua hal yang paling krusial dalam eksistensinya sebagai komedi profesi – apalagi soal persaingan gerai, tampil dengan baik, begitu juga penyuntingan Ahsan Adrian dan tata musik dari Bemby Gusti – Aghi Narottama. Namun yang terpenting, di luar beberapa toilet jokes yang tak ada pun tak mengapa (bulu ketek dan pakain dalam – ini masih jadi aspek yang kerap sulit dihindarkan film kita – masing-masing ada di dua film komedi yang hadir beberapa pekan sebelumnya), sebagian besar timing komedi dalam Laundry Show tetap hadir dengan tepat buat memancing tawa, sementara sematan dramanya – paling tidak di antara anak dan ibu dari karakter Uki dan ibunya, tetap bisa menyentuh nilai motivasi terpentingnya. Bahwa lebih dari sekadar noda pakaian yang sehari-hari membungkus tampilan luar kita, ada hal lain di dalamnya yang jauh lebih sulit serta sangat penting buat dihilangkan. Sayang memang ia urung dirilis sebagai sajian lebaran, tapi lagi – karya dengan pesan-pesan yang baik toh tak harus selalu menunggu momen spesial. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY