Leher Angsa: Sebuah Sentakan Konsep Pola Asuh

Leher Angsa: Sebuah Sentakan Konsep Pola Asuh

1166
SHARE
Saat premier film Leher Angsa di Jakarta

Konsisten adalah sebuah kata yang pas digunakan untuk mereka yang mau menelisik seluruh film karya Alenia Pictures. Bagaimana tidak, 7 film yang telah dibuat oleh rumah produksi film besutan pasangan suami istri, Ale Sihasale dan Nia Zulkarnaen ini selalu menyajikan anak-anak sebagai peran utamanya.

Tak hanya konsisten mengenai aktor anak-anak yang digunakan dalam setiap lakonnya. Ale, yang dulu pernah beken dengan serial Ali Topan Anak Jalanan ini juga konsisten mengangkat tema-tema ringan dan juga sarat dengan pesan moral dalam konsep parenting.

Terbukti dalam film terbaru yang dikeluarkan oleh Alenia Pictures, Leher Angsa kembali berusaha menyentakan sebuah nalar dalam konsep parenting. Setidaknya begitulah Ale mengakuinya.

“Apa yang dilakukan oleh anak-anak dalam setiap perbuatannya adalah sebuah cerminan dari perilaku orang tuanya,” kata Ale. Ale yang ditemui saat premier Leher Angsa di Jakarta lalu, mengakui, film terbarunya kali ini dibuat untuk mengisi liburan sekolah anak-anak sekolah.

Apa yang dikatakan Ale kala itu itu terbukti, pada awal film Leher Angsa tersebut, kita akan melihat bagaimana perilaku orang tua dalam kesehariannya di ikuti oleh anaknya. Aswin, sosok tokoh utama yang diperani oleh Bintang Panglima pun harus ikut kebiasaan Pak Tampan (Lukman Sardi) dalam hobi menyambung ayam atau yang biasa dikenal dengan adu ayam.

Sama seperti Aswin, Johan, Najib, dan Sapar adalah ketiga sahabat karib Aswin yang memiliki kesukaan yang tak jauh berbeda dengan orang tuannya. Johan (Agus Prasetyo) yang senang memainkan biola juga merupakan salah satu contoh dari potret orang tuanya yang gemar memainkan biola. Tapi tidak seperti ayahnya, gesekan dawai Johan tak sedap didengar. Bahkan cenderung menyakitkan telinga.

Kisah Sapar pun tak jauh berbeda dengan orang tuanya. Sapar yang diperankan oleh Yudi Miftahudin pun sukses membuat beberapa orang yang menontonnya tertawa. Dengan tubuh kurus, perawakan tinggi, dan gaya rambut yang unik, Sapar sukses menirukan kebiasaan ayahnya (Suryadi) yang gemar memakan ubi.

Dan, Najib (Fachri Azhari) yang juga salah satu dari ketiga teman Aswin pun mempunyai kebiasaan yang tak jauh berbeda dengan sang ayah (Gery Puraatmadja). Ayah Najib, yang suka melakukan mencari sisa-sisa makanan yang menempel di giginya turut menghiasi keseharian prilaku dari Najib.

Kenalkan cara hidup sehat

Leher Angsa yang menjadi judul dalam film terbaru dari Alenia Pictures ini pun sebenarnya merupakan sebuah analogi dari wc jongkok. Jika kita mau menyimak dan menelah, memang bagian bawah wc jongkok mirip sekali dengan leher angsa. Dan di beberapa daerah pun, penyebutan wc jongkong lebih akrab dengan sebutan leher angsa.

Dengan tema seperti itu, siapa yang sangka bisa menjadi sebuah film yang berdurasi sekitar 115 menit. Ditangan Ale, Leher Angsa, tuntas mengupas tentang kebiasaan dari masyarakat pedalaman yang gemar membuang hajat di sungai.

Cerita yang mengambil latar belakang Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan sebuah naskah yang diangkat dari karya tulis Abdul Musafar. Pria yang pernah mengarang buku tentang Kiamat Sudah Dekat ini mengaku skenario yang kini diangkat jadi layar lebar ini adalah naskah yang sudah lama. “Lama sekali naskah ini sudah ngider ke beberapa produser. Bahkan sampai ada yang harus kita kembalikan uangnya,” kata dia.

Ale membantah bahwa film Leher Angsa ini merupakan titipan dari organisasi kesehatan internasional. Ale pun yang sudah menyutradarai film Alenia Pictures sebanyak kali lima mengakui, film ini adalah sebuah refleksi dari kondisi nyata 16 juta masyarakat Indonesia yang hingga kini tidak bisa menikmati wc sehat dan layak.

Bahkan, Nia yang dalam film ini berperan sebagai Executive Producer, menyatakan, naskah mengenai Leher Angsa ini sudah lama berada di tangan Alenia. Namun, saat itu memang ada pengerjaan Timur Matahari. Alenia pun berani untuk memfilmkan naskah ini karena pesan yang disampaikan oleh naskah ini memang unik dan belum ada pernah ada yang mengangkatnya sebelumnya.

“Cerita ini unik dan menarik. Lantas kenapa tidak cerita ini diangkat oleh kita. Cerita berbicara tentang realita dan apa adanya. Kisah ini berbicara tentang hal yang ada disekitar kita. Semua naskah memang terlihat sederhana. Tapi eksekusiya paling susah,” kata Nia.

Uji nyali garap animasi

Dalam film ini, kita juga akan disuguhkan oleh beberapa tampilan animasi. Dan dibagian film ini, penonton juga akan disajikan oleh adegan balapan hajat. Animasi tersebut sukses menjadikan para penonton premier saat itu tertawa.

Selain itu, penggunaan animasi binatang juga terlihat dalam film ini. Adegan Aswin dikejar-kejar oleh seekor kucing yang berhasrat untuk mengambil ikan yang diberikan oleh Najib untuk Aswin. Walau dikeluhkan beberapa penonton karena adegan ini dinilai terlalu panjang.

Ale dan beberapa bintang Leher Angsa yang saat itu kompak mengenakan kaos lengan panjang bertuliskan Leher Angsa bertinta emas mengakui penggunaan animasi pada beberapa bagian film merupakan tes uji nyali bagi ia dan Alenia Pictures. Bahkan Ia pun mengakui, dari semua adegan, biaya yang paling mahal dikeluarkan adalah untuk pembuatan animasi.

“Memang kami mencoba disiplin pada skenario. Dan kami ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa anak-anak Indonesia mampu untuk membuat ilustrasi CGI (Computer Generated Imagery) dalam pembuatan film tersebut,” kata dia.

CGI adalah sebuah penggambaran dari visualisasi gambar yang menggunakan aplikasi komputer grafis. Tujuannya adalah untuk menghasilkan gambar atau efek tertentu dalam sebuah film, televisi program, iklan, simulator adegan, dan yang lainnya.

Penggunaan teknik CGI ini mempunyai keuntungan untuk merekayasa sesuatu adegan yang biasanya sulit diambil saat pengambilan suatu adegan. Untuk itu CGI diperlukan untuk memudahkan adegan tersebut dengan menggunakan rekayasa grafis.

Bintang Panglima, sanggup hafalkan 9 halaman naskah.

Bintang Panglima, yang di film ini merupakan tokoh utama mengaku ini film ke tiganya. Pasukan kapiten dan Pesan Dari Samudra adalah beberapa film yang sukses ia bintangi sebelumnya.

Berbekal dari asuhan arahan oleh Riri Riza dan Rudi Soedjarwo, Bintang Panglima mampu menghasilkan akting yang sempurna. Ia pun mengakui adegan dialog panjang yang ia lakukan bersama dengan ayahnya, Pak Tampan dilakukan dengan 3 kali take.

“Naskah itu panjang, ada sembilan halaman tapi syukur lancar saja ngapalinnya. Dan aku hanya punya waktu sebulan kurang belajar logat lombok,” kata dia. Bintang Panglima yang kini baru saja memasuki dunia sekolah menengah pertama mengakui, di film Leher Angsa ini ia amat tidak menyukai sosok pak kades.

“Pak kades (Ringgo Agus Rahman) pelit, dia engga kasih ijin buat nyobain wc leher angsa. Sosok paling baik menurut aku si guru Khaerul,” tambahnya.

Dalam syuting yang memakan waktu setu bulan lamanya, Bintang Panglima bercerita tentang pengalamannya selama berada di Lombok. Ia mengakui, pengalaman ini sungguh berkesan untuknya. Ia yang selama syuting tidak ditemani oleh orang tuannya telah belajar tentang kemandirian selama disana.

“Selain tidak ditemani orang tua, sapi-sapi yang banyak bertebaran disana membuat hati-hati. Karena kalau engga hati-hati bisa keinjak kotoran sapi,” jelas Bintang sambil tertawa.

Berkat syuting ini pula ia belajar untuk bekerja dalam tim. Melatih kesabaran selama di lokasi syuting. Selain itu, ia pun sangat senang sekali dengan keindahan alam di Lombok.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY