Liputan Tokyo International Film Festival Ke-28: Eksplorasi Ragam Sinema

Liputan Tokyo International Film Festival Ke-28: Eksplorasi Ragam Sinema

1081
SHARE
John Woo (kanan), Sutradara asal Hongkong yang meraih Samurai Award Japanese bersalaman dengan Sutradara asal Jepang, Yoji Yamada (kiri) saat pemberian penghargaan berlangsung pada acara Tokyo International Film Festival ke 28 di Tokyo, Jepang (sumber: http://www.570news.com)

Oleh: Daniel Irawan

Menggelar kembali festival film internasional-nya di tengah kemeriahan musim semi, Tokyo International Film Festival (TIFF) yang menginjak usia ke-30 dalam edisi ke-28-nya tetap memiliki fokus menarik sebagai tema utamanya. Tetap tak beranjak dari salah satu konten budaya sinema terbesar mereka di ranah animasi yang menjadi fokus tahun lalu, Yasushi Shiina, Director General TIFF kini membidik sinema Jepang dalam cakupan lebih luas ke berbagai ragam dalam perkembangannya sejak dulu hingga sekarang.

Dalam usaha membidik dan mengenalkan diversifikasi sinema mereka tadi, penyelenggaraannya juga meluas dari venue utama di Roppongi Hills, kawasan termahal Tokyo dengan TOHO Cinema dan pelataran luas O-Yane Plaza ke distrik tersibuk mereka di Shinjuku. Festival film internasional di Jepang dengan skala terbesar sekaligus satu-satunya yang diakui oleh International Federation of Film Producers (FIAPF) ini juga memutar lebih dari 200 film dari berbagai negara ke dalam segmen-segmen yang kian bertambah dalam penekanan fokus itu.

Sallh satu adegan film Ran (sumber: http://image.net.)
Salah satu adegan film epic karya Akira Kurosawa, Ran (sumber: http://image.net.)

Ada segmen baru ‘Japan Now’ yang merupakan retrospektif sinema mereka dari masa lalu ke karya-karya terbaru dalam penelusuran identitasnya – dengan subsekuen Director in Focus yang menempatkan sineas Masato Harada ke tengah-tengahnya, perayaan Masters of J-Horror sebagai salah satu konten terbesar di samping ranah animasi di tengah kemeriahan Halloween dengan fokus ke tiga spesialis horor mereka; Takashi Shimizu (‘Ju-On’), Kiyoshi Kurosawa (‘Pulse’) dan Hideo Nakata (‘The Ring’) dengan film terbarunya ‘Ghost Theatre’, selebrasi ke-80 Terayama Film, pemutaran komemoratif filmografi salah satu aktor Jepang legendaris Ken Takakura, dua film Akira Kurosawa; ‘Ran’ dalam format 4K remastered serta versi 35 mm dari ‘They Who Step on a Tiger’s Tail’, karya Kurosawa sebelum Perang Dunia ke-2 yang diangkat dari teater Kabuki ‘Kanjincho’, sementara fokus animasinya kini beralih ke ‘The World of Gundam’ yang mempersembahkan lebih dari 30 instalment franchise-nya.

Segmen Kompetisi Variatif

Namun yang lebih menarik adalah proses untuk menyemat ragam sinema mereka ke dalam segmen-segmen festival termasuk kompetisinya. Dari hanya satu film Jepang di tahun lalu, tahun ini ada tiga film mereka yang masuk ke dalam segmen kompetisi untuk memperebutkan Tokyo Grand Prix di pengujung festivalnya. Ada ‘Foujita’ karya Kohei Oguri, sebuah biopik pelukis terkenal masa perang Jepang yang dikenal sebagai maestro seni setaraf Michelangelo dengan pendekatan arthouse yang kuat, ‘Sayonara’ karya Koji Fukada, sebuah arthouse indie futuristik bahkan film horor ‘The Inerasable’ yang sekilas terlihat komersil sebagai titik kembalinya sutradara Yoshihiro Nakamura ke genre spesialisasinya setelah 10 tahun, namun punya konten kultural masyarakat Jepang yang kuat dalam mitos-mitos properti.

Sayonara, karya Koji Fukada, sebuah film yang menggunakan robot Geminoid F sebagai pemerannya.
Sayonara, karya Koji Fukada, sebuah film yang menggunakan robot Geminoid F sebagai pemerannya.

Yoshi Yatabe, programming director untuk segmen kompetisi internasional mengatakan bahwa konsep pemilihan film-film itu tetap memiliki tingkat kesulitan tersendiri di tengah dua visi utama TIFF. Ke dalam, ia harus terus memperkenalkan sinema dunia ke audiens lokal, sementara ke luar, TIFF juga punya kewajiban mutlak buat mendukung sineas-sineas muda sekaligus memperkenalkan konten sinema mereka ke dunia internasional.

Sementara sasaran utama seleksinya punya beberapa poin penting dalam tendensi-tendensi itu. Pertama adalah bagaimana mereka mempertimbangkan konsep seleksinya ke dalam keseimbangan antara negara-negara peserta tanpa harus meninggalkan titik promosinya terhadap sinema Jepang dan yang kedua adalah diversifikasi genre yang juga diakui President of Jury Members tahun ini; Bryan Singer, sebagai salah satu kelebihan TIFF dibandingkan festival-festival film internasional lainnya. Begitu pentingnya garis bawah terhadap variasi negara produksi ini karena Yoshi menganggap film adalah salah satu media paling efektif dan efisien dalam pertukuran kultur tanpa harus bersusah-payah menginjak langsung negaranya.

Poin penting lain yang diperlukan dalam membentuk wajah TIFF selama bertahun-tahun sebagai salah satu festival film internasional paling profilic di Asia adalah status penayangan film-film terpilih tadi sebagai World premiere atau paling tidak, Asian premiere. Ini juga menjadi salah satu kriteria tersulit, terlebih karena TIFF juga menjalin beberapa kerjasama dengan festival film Asia dan internasional lainnya dalam rekomendasi sebagian film-film pesertanya. Dengan 16 film di segmen kompetisi, bertambah satu dari tahun lalu, masih tetap sulit untuk memberikan dukungan khusus ke semua negara Asia.

Mobile Suit Gundam Unicorn, episode Day Of The Unicorn yang juga masuk dalam line up Tokyo International Film Festival ke-28.
Mobile Suit Gundam Unicorn, episode Day Of The Unicorn yang juga masuk dalam line up Tokyo International Film Festival ke-28.

Yoshi juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak adanya perwakilan dari Indonesia, Malaysia ataupun Burma yang muncul bergantian tahun-tahun yang lalu dalam kompetisi tahun ini, namun bukan berarti pola itu tak bisa berganti di tahun-tahun berikutnya. Dan di atas semuanya, konsep pemilihan ini masih terus bergulat dengan usaha untuk mengajak lebih lagi audiens untuk mau meluangkan waktu mereka menyaksikan film-film internasional dalam skala festival.

Persoalan Universal Penyelenggaraan Festival

Tak jauh beda dengan masalah-masalah yang sama dengan audiens festival kita, Yoshi yang juga punya profesi sebagai pengajar harus terus membujuk bahkan memberikan tiket gratis dalam mengajak siswa-siswanya datang untuk menyaksikan film-film non-mainstream yang ada. Sebagai orang Jepang, ia harus lebih mempromosikan film-film Jepang sekaligus mendukung sineas-sineas mudanya, sementara sebagai audiens, ia juga merasa perlu untuk lebih memperkenalkan sinema dunia ke pemirsa lokal mereka.

Ini juga diakui oleh Yasushi Shiina sebagai Director General TIFF, bahwa meski pengunjung festivalnya terus bertambah dari tahun ke tahun, mereka masih terus berjuang untuk menyemat keseimbangan yang baik antara lineup pemutarannya dengan sejumlah film-film mainstream atau high profile secara komersil. Namun begitu, ia mengatakan bahwa kemajuan itu terus terlihat, salah satunya dari film pemenang di segmen ‘Japanese Cinema Splash’ tahun lalu yang segmentasinya lebih ke karya-karya independen yang jauh dari konsep komersil. Sejak diperkenalkan pertama kali di TIFF tahun lalu, ‘100 Yen Love’ karya Masaharu Take ternyata terus meraih penghargaan di berbagai festival lokal, Asia hingga dunia dan eksposur yang baik ini membuat resepsi box office-nya saat dirilis Desember lalu bisa bersaing dengan film-film komersil bahkan pada akhirnya menjadi perwakilan Jepang ke Oscar tahun lalu.

Yuko Takeuchi and Ai Hashimoto, pemeran utama dalam film The Inerasable karya Yoshihiro Nakamura (sumber: http://image.net)
Yuko Takeuchi and Ai Hashimoto, pemeran utama dalam film The Inerasable karya Yoshihiro Nakamura (sumber: http://image.net)

Asian programmer Kenji Ishizaka yang terlihat lebih militan dalam memperjuangkan tradisi film-film arthouse dalam festival film internasional ini pun menyampaikan hal yang sama dalam konsep seleksinya. Kenji mengatakan bahwa festival-festival sejenis memang dimaksudkan untuk jadi platform yang kuat untuk mencari sisi distribusi yang lebih baik buat membantu film-film indie arthouse agar bisa merangkul lebih banyak lagi penonton. Ia merasa bahwa audiens Jepang masa kini sudah lebih bisa menikmati film-film non komersil seperti sebagian karya sineas Thailand Apichatpong Weerasethakul ataupun film-film karya sutradara Tsai Ming-liang selalu mendapat tempat di tengah-tengah sinema mainstream di Jepang.

Sejalan dengan tujuan ini, Kenji juga menjelaskan pilihannya terhadap sinema Filipina untuk menjadi fokus dalam segmen Crosscut Asia yang disponsori Japan Foundation Asia Center sejak tahun lalu. Jika fokus tahun lalu ada di sinema Thailand dengan sebagian besar film-film komersil, Kenji melihat bahwa sinema independen di Filipina benar-benar sedang berada dalam tahapan yang mengagumkan, dan karena itu memerlukan perhatian lebih dalam dukungan ke sineas-sineas independen mereka ketimbang film-film komersil. Selain itu, kebanyakan film-film independen dengan pendekatan arthouse ini juga biasanya lebih memiliki konten kuat dalam pengenalan serta budaya tanpa harus berkompromi dengan selera pasar, dan belum banyak juga film Filipina yang bisa mendobrak sinema Jepang. Bersubtitel ‘The Heat of Phillipine Cinema’, salah satu subsegmen Crosscut Asia tahun ini meletakkan fokusnya ke film-film independen – arthouse karya sineas Brillante Ma Mendoza berikut karya terbarunya, ‘Taklub’ atau ‘Trap’ dalam titel internasionalnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY