Liputan TIFF ke-28, Wawancara John Woo: ‘A Better Tomorrow’ Adalah Titik Balik...

Liputan TIFF ke-28, Wawancara John Woo: ‘A Better Tomorrow’ Adalah Titik Balik Karir Saya

2265
SHARE
John Woo (kanan), Sutradara asal Hongkong yang meraih Samurai Award Japanese bersalaman dengan Sutradara asal Jepang, Yoji Yamada (kiri) saat pemberian penghargaan berlangsung pada acara Tokyo International Film Festival ke 28 di Tokyo, Jepang (sumber: http://www.570news.com)

Oleh: Daniel Irawan

Terus berkembang sebagai salah satu perhelatan insan film dunia paling dikenal di Asia, ‘Tokyo International Film Festival’ (TIFF) selalu dihadiri oleh sineas-sineas ternama yang mempresentasikan film-film mereka dalam berbagai segmen, dari Special Screening hingga penerimaan penghargaan. Setelah nama Takeshi Kitano dan Tim Burton sebagai penerima perdananya tahun lalu, ‘Samurai Award’, piala spesial yang dipersembahkan untuk dua insan film; lokal dan internasional yang terus menghasilkan karya-karya mengagumkan sebagai definisi perkembangan sinema, kini diserahkan pada sutradara veteran Jepang Yoji Yamada dan John Woo.

John Woo jelas bukan nama asing bagi penggemar film di seluruh dunia. Kiprahnya mengubah peta perfilman serta standar genre aksi Asia di tahun 1980 masih terus menggulirkan pengaruh ke pembuat film aksi hingga sekarang. Sebut semua, dari trilogi ‘A Better Tomorrow’ (disini dirilis dengan judul ‘Gangland Boss 1-3’), ‘The Killer’, ‘Bullet in the Head’ ke ‘Hard Boiled’, kiprahnya di Hollywood lewat ‘Hard Target’, ‘Broken Arrow’ ke ‘Face/Off’ dan ‘M:I-2’ hingga dwilogi ‘Red Cliff’ dan ‘The Crossing’ setelah ia kembali ke perfilman Asia, sebagian besarnya merupakan daftar wajib dalam ‘Action Film Bible’.

Signature action-nya yang penuh gaya dari jas panjang, kacamata hitam, aksi slow-motion tembak-menembak penuh darah dengan dua pistol di tangan dibalik karir Chow Yun-fat sebagai bintang aksi internasional yang dilambungkannya hingga ke puncak, serta tak ketinggalan, merpati putih – yang selalu jadi simbol buat humanisme mendalam dalam bangunan karakter-karakternya; adalah elemen-elemen penting yang membuat John Woo menjadi seorang maestro di genre-nya.

Ada banyak adegan aksi yang bagus, tapi di film John Woo, semua ini tampil diatas sebuah kesempurnaan koreografi dalam sebuah pertunjukan musik atau tari yang menggetarkan. Dan ia punya penjelasan yang sungguh tentang hal ini saat menggelar sesi spesial yang juga dihadiri oleh 7 filmmaker muda Jepang untuk saling berbagi pengalaman.

John Woo saat speech setelah menerima penghargaan Samurai Award di Tokyo International Film Festival ke 28. (sumber: http://image.net)
John Woo saat speech setelah menerima penghargaan Samurai Award di Tokyo International Film Festival ke 28. (sumber: http://image.net)

Berikut petikannya:

Mari melihat sedikit ke belakang. Sejauh mana sulitnya untuk masuk ke industri perfilman HK hingga menjadi John Woo yang sekarang?

Saya sebenarnya sudah menyukai film sejak kecil, juga mulai membuat film sejak usia sangat muda. Sayang, di Hong Kong kala itu (Woo pindah ke Hong Kong sejak usia 5 tahun) tak ada fasilitas yang memadai untuk pendidikan ke arah ini. Saya terus membaca buku-buku tentang film dari perpustakaan hingga suatu hari memutuskan untuk mencoba masuk ke industri. Namun ini tak mudah.

Ada gap yang jelas antara sineas senior dengan junior, hingga ada petinggi jaringan Cathay Studios yang menerima saya menjadi penasehat skrip. Saya lalu sempat menjadi asisten sutradara di Shaw Studios hingga akhirnya dipercaya menyutradarai ‘The Young Dragons’ (1974), film kung fu yang koreografinya ditangani Jackie Chan. Tapi kesuksesan finansial saya yang pertama justru datang dari sebuah komedi ‘Money Crazy’ yang dibintangi Ricky Hui dari The Hui Brothers di tahun 1977.

Siapa saja pengaruh terbesar Anda di dunia film?

Sejak ‘Money Crazy’ saya terus membuat beberapa film atas permintaan studio, sambil menyiapkan proyek yang sudah lama saya impikan dari pengaruh-pengaruh terbesar dalam membuat film. Ada Akira Kurosawa lewat ‘Seven Samurai’ dan David Lean di ‘Lawrence of Arabia’ yang mengajarkan saya menampilkan humanisme dalam film aksi, dan itu saya ramu dengan kesadisan verbal yang begitu mengesankan saya dalam ‘The Wild Bunch’-nya Sam Peckinpah, serta keindahan gaya dari film aksi polisi Eropa Perancis karya Jean-Pierre Melville yang dibintangi Alain Delon, ‘Le Samourai’. Saya kira mereka adalah influence terbesar saya di dunia film; orang-orang yang akhirnya melahirkan gaya penyutradaraan saya secara keseluruhan.

Dan film itu adalah ‘A Better Tomorrow’?

Benar.

Dari semua karya Anda, film mana yang terpenting, yang jadi titik balik dalam karir Anda dan mengapa?

‘A Better Tomorrow’ adalah titik balik terbesar karir saya sebagai sutradara. Bukan hanya karena film itu sukses luarbiasa secara finansial hingga melahirkan dua sekuel sekaligus status yang melekat ke nama saya. Namun ada hal penting, bahwa film itu bukan hanya sekedar film aksi, tapi juga sebuah drama emosional. Sebelum ‘A Better Tomorrow’, sudah ada banyak sekali film aksi polisi lawan gangster namun rata-rata memuat penggambaran yang terlalu hitam putih terhadap karakter-karakter baik dan jahatnya.

Sampul DVD film A Better Tomorrow II, yang rilis tahun 1987. (sumber: volumemovies.biz)
Sampul DVD film A Better Tomorrow II, yang rilis tahun 1987. (sumber: volumemovies.biz)

Lewat sebuah kisah keluarga tentang kakak beradik berbeda jalur dan seorang kerabat yang muncul ke tengah-tengah mereka, saya ingin menyampaikan bahwa walaupun Anda seorang gangster, ada nilai-nilai yang bisa membuat Anda menjadi seorang hero dalam skup yang bukan hanya bicara soal keluarga tapi juga secara jauh lebih luas. Ada integritas antar karakter serta humanitas yang kuat di dalamnya, dan ini juga menjadi film pertama dimana saya memegang penuh kontrol terhadap kreatifitas dan ide-ide yang ada. Untuk itu saya harus berterima kasih terhadap Tsui Hark (produser kenamaan Hong Kong yang juga ikut bermain dalam sekuelnya) atas kepercayaan yang ia berikan, jauh berbeda dengan sistem produksi rata-rata film Hong Kong masa itu.

Apakah ‘A Better Tomorrow’ juga yang membuka jalan bagi Anda untuk menembus perfilman dunia – khususnya Hollywood?

Mungkin ya, tapi sebenarnya ‘The Killer’, film saya tahun 1989 yang menjadi kerjasama kedua dengan Chow Yun-fat di luar franchise ‘A Better Tomorrow’ atas penampilan dan ide-ide kreatifnya membangun karakter Mark di film pertama, yang begitu memukau audiens, yang membuat saya mendapat telefon dari studio besar Hollywood dan ditawari membuat film disana. ‘The Killer’ sebenarnya merupakan tribute saya terhadap sutradara Jepang Teruo Ishii dan ada homage yang jelas juga ke film Jean-Pierre Melville disana. Begitupun, baru di tahun 1992 proyek film Hollywood saya yang pertama baru terlaksana (‘Hard Target’-nya Jean Claude Van Damme).

Apa perbedaan sistem produksi di Hong Kong dan Hollywood yang paling Anda rasakan?

Sama seperti di Hong Kong, sebuah produksi film berskala besar juga didukung oleh orang-orang bertalenta besar di bidangnya. Saya awalnya begitu kagum begitu menginjakkan kaki di produksi Hollywood, karena semua ini membuat prosesnya jadi lebih mudah, namun akhirnya merasakan bahwa ada satu perbedaan, bahwa di Hollywood, bukan sutradara, tetapi aktor terkenal yang dipilih studio atau Anda gunakan-lah yang memegang kontrol terbesar dalam sebuah produksi; dari skrip ke putusan-putusan kreatif lain termasuk editing.

Yang terakhir ini sempat sangat menyusahkan saya karena film action sangat bergantung pada editing. Ketika Anda tak diserahi bagian terbesar untuk menentukan proses-proses kreatifnya, hasilnya adalah sesuatu yang bukan benar-benar Anda harapkan. Saya sempat marah terhadap kecenderungan sistem ini, namun untunglah ini mulai membaik di produksi-produksi selanjutnya, ‘Broken Arrow’ hingga akhirnya, ‘Face/Off’, benar-benar memberi saya kebebasan kreatif untuk menentukan arahnya.

Ada sedikit konflik di penentuan ending menyangkut karakter anak dari tokoh antagonisnya atas persepsi budaya yang berbeda di Hollywood dan Hong Kong. Awalnya saya menuruti ide mereka, namun saat banyak komentar pada preview awalnya, mereka setuju dengan ide saya. Ketika Anda memegang kendali penuh terhadap produksi, hasilnya adalah yang sebenar-benarnya Anda harapkan. ‘Face/Off’ meraih sukses besar di box office domestik dan internasional, dan saya benar-benar bangga terhadapnya.

Official Poster film Face Off karya John Woo, yang dibintangi oleh John Travolta dan Nicholas Cage
Official Poster film Face Off karya John Woo, yang dibintangi oleh John Travolta dan Nicholas Cage

Apa yang menyebabkan Anda akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan Hollywood dan kembali ke Hong Kong?

Cukup lama setelah ‘M:I-2’, saya mendapat panggilan untuk kembali ke Hong Kong untuk menerima sebuah penghargaan. Namun memang sejak lama saya mempunyai niat untuk kembali mengambil bagian dalam industri film di kampung halaman saya yang sedang berada dalam tahapan perkembangan yang sangat mengagumkan. Saya juga ingin mendorong sineas-sineas muda disana dan memperkenalkan sinema kami keluar. Saya pun memutuskan kembali dan membuat ‘Red Cliff’, epik sejarah yang sudah lama ingin saya kerjakan setelah terus-menerus membuat film aksi modern.

Apa saja metodologi dan filosofi Anda yang selalu Anda ingin tuangkan di film-film Anda?

Satu yang terpenting adalah emosi dan refleksi-refleksi humanitas. Film aksi akan menjadi hanya film aksi tanpa adanya refleksi humanitas ke dalamnya. Tapi aksi juga tak bisa dibuat sembarangan. Salah satu film pertama yang saya saksikan hingga membuat saya ingin menjadi seorang sutradara hingga menggemari genre-nya hingga sekarang adalah ‘The Wizard of Oz’ sebagai film musikal. Saya begitu menggemari film-film musikal, dan ini membuat gagasan action di dalam film-film saya tidak boleh tidak punya ritme yang kuat dalam adegan-adegan itu. Ketika mengedit adegan-adegan aksi, saya selalu mendengarkan musik, kebanyakan jazz atau klasik, untuk menciptakan sebuah ritme ke dalamnya. Gerakan, angle, frame dan semua elemennya saya bangun berdasarkan kesukaan saya terhadap musik. Lewat itu pula Anda bisa menggambarkan humanisme ke dalam action tak peduli seberapa sadis gelaran yang Anda gambarkan.

Sebaliknya, action dapat ditransformasikan sebagai kekuatan yang sunggu besar untuk merefleksikan humanisme ke tengah-tengahnya. Itu salah satu yang saya pelajari dari Kurosawa-san. Setelah ‘Red Cliff’ sebenarnya saya hampir membuat sebuah film musikal tapi belum terlaksana hingga sekarang.

Kami dengar proyek terbaru Anda punya kaitan besar dengan Jepang. Bagaimana Pandangan Anda terhadap Sinema Jepang?

Benar. Film terbaru saya akan membawa saya kembali ke genre action. Sebuah adaptasi novel Jepang yang sudah pernah difilmkan tahun 1976 oleh Junya Sato dan dibintangi aktor Ken Takakura dengan judul ‘Hot Pursuit’ (juga ditayangkan di segmen komemoratif film-film Ken Takakura di TIFF). Kami juga akan mengambil sebagian besar lokasinya di Jepang, sebagai salah satu negara Asia dengan industri film terbesar yang masih terus berkembang dengan luarbiasa. Tapi secara pribadi saya mungkin lebih memilih film-film klasik Jepang dengan filmmaking spirit-nya.

John Woo menerima penghargaan Samurai Award dari General Director TIFF Yasushi Shiina dalam sebuah event spesial di Kabukiza Theatre, Tokyo, didampingi sutradara Keishi Otomo dari ‘Rurouni Kenshin’, yang juga merupakan fans terbesar Woo yang pernah berjumpa dengannya 17 tahun yang lalu dibalik sebuah pesan yang masih terus diingat Otomo; bahwa seorang sineas tak harus hanya bisa membuat film, tetapi juga menulis skripnya.

Humanity is always the one that made me fall in love with movies and I decided to devote my life to making them. I will continue trying to make better movies. – John Woo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY