Menemukan ‘Values’ Dalam Film Indonesia

Menemukan ‘Values’ Dalam Film Indonesia

1349
SHARE

Oleh: Wella Sherlita

Duapuluh lima tahun sejak ditayangkan perdana di bioskop-bioskop se-nusantara, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan lagi film “Tjut Nja’ Dhien” (1988).

Sutradara Eros Djarot menggarap film kolosal ini secara ‘all out’ alias habis-habisan; dari mulai memilih Christine Hakim (Tjut Nja’Dhien) dan Slamet Rahardjo (Teuku Umar), sebagai pemain utama, hingga ratusan pemain lokal untuk ikut dalam pengambilan gambar di belantara hutan, gunung dan sungai di Aceh Barat, serta di beberapa kawasan di luar Aceh. Segalanya dilalui melalui riset yang cermat sekitar empat tahun sebelum shooting dimulai.

Eros pun tidak sembarangan memilih kru di balik layar. Tercatat nama George Kamarulah sebagai sinematografer, Benny Benhardi selaku penata artistik, serta Idris Sardi untuk penata musik. Untuk ukuran sinema Indonesia tahun 1980-an, tim ini termasuk dalam kategori ‘The Dream Team’. Mereka sudah sering meraih piala Citra, termasuk pula untuk film ‘Tjut Nja’ Dhien’.

Bagian paling menarik di sini bukan hanya pada kisah kepahlawanan yang heroik dan mengharukan, tetapi juga bagaimana ‘values’ ditempatkan dalam porsi yang terbaik.

Dalam adegan terakhir, ketika pasukan Belanda datang ke ‘markas’ Tjut Nja’ Dhien di tengah hutan, demi melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang panglima perang perempuan yang sedang berzikir. Ia tampak begitu gigih dan pantang menyerah dalam kondisi fisik menurun, dan sepasang mata yang buta terserang katarak.

Komandan dan seluruh pasukan Belanda itu membuka topi mereka dengan takzim. Dengan segala hormat, si Komandan dengan kepala tertunduk menghampiri Tjut Nja’ Dhien, dan ia meminta maaf atas perintah dari negeri Belanda untuk menangkap istri dari Teuku Umar itu hidup atau mati dan dibawa ke Jawa.

Saat menyaksikan adegan itu, ekonom Faisal Basri yang duduk persis di samping saya, seketika berbisik, “Jika kita menjadi seseorang yang disegani, lihatlah, lawan pun memperlakukan kita dengan penuh rasa hormat.”  Dalam hati saya setuju atas ungkapan Bung Faisal.

Film ini penuh dengan berbagai ‘values’ atau nilai-nilai perjuangan orang Aceh yang menderita fisik dan batin waktu itu. Ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam dialog mengandung unsur kebajikan, perjuangan untuk mengusir penjajah, dan mengamalkan hidup sesuai tuntutan agama Islam.

Saya lantas teringat dengan film-film Amerika, India, Asia (China, Korea, Jepang), dan Eropa. Mereka masing-masing memiliki ciri khas. Saya selaku penggemar berat film Hollywood, menyadari bagaimana Amerika Serikat begitu gencar menggunakan sinema sebagai alat promosi ke-digdaya-an mereka, seperti kemerdekaan berpendapat, meraih mimpi dan cita-cita, dominasi atas pihak lain, serta kesetiaan pada negara dan bangsa.

Menariknya, penjabaran atas ‘values’ ini bentuknya macam-macam. Saya iseng-iseng sering memperhatikan ‘lambaian’ bendera Amerika yang nyaris ada di setiap film. Mungkin hanya tiga detik atau bahkan kurang, tetapi lambaian bendera garis-garis merah dan bintang-bintang biru itu ditampilkan begitu kentara; apakah itu dalam adegan di kelas, di ruang kantor, di jalan, dan sebagainya. Dalam serial drama dan sitcom, juga program MTV sekalipun, lambaian bendera mereka kerap muncul.

Sedangkan film Iran, India, China, Jepang, dan Korea, selain istimewa dari segi bahasa, drama dan tema, juga spesial dalam hal warna. Saya senang nonton film India karena pakaian para bintangnya yang warna warni, dan kisahnya juga khas India banget. Sinema China selalu didominasi warna merah.

Sementara film “The White Ballon”, karya Jafar Panahi dari Iran akan selalu menjadi favorit saya. Dari negeri yang pemerintahnya melarang warga memiliki akun facebook itu, selalu lahir film-film berkualitas yang justru enak ditonton lantaran menuturkan kisah sehari-hari warganya. Nilai-nilai penghormatan kepada keluarga dan falsafah negara tidak tampil se-eksplisit sinema Amerika

Uni Eropa, yang terdiri dari belasan negara anggota, masing-masing mengangkat budaya khas Eropa yang majemuk. Runtuhnya tembok Berlin pada 1990-an, kabarnya banyak berpengaruh pada tema-tema sinema Eropa saat ini.

“Kecenderungan film-film Eropa yang ‘nyeni’ dan ‘serius’ mulai berganti dengan yang menghibur dan ‘seru’,” kata Direktur Festival Film Uni Eropa, Orlow Seunke, beberapa waktu lalu.

Dari hasil pengamatan dan berbagi pengalaman di atas, saya merasa belum menemukan ‘values’ dalam film-film Indonesia. Apakah ‘values’ atau ‘nilai’ perlu, dan kalau perlu bagaimana cara menggambarkannya dalam film? Apakah hanya wajib dalam film-film sejarah saja?

Film ‘Nagabonar’ (1986) dan ‘Nagabonar Jadi 2 (2007) mungkin bisa jadi satu contoh. Ada keragaman Indonesia kita di sana. Ada orang Batak, orang Jawa, Betawi, dan sebagainya. Juga ada konflik antara orangtua dan anak muda mengenai kepahlawanan. Masih ingat ‘kan dengan adegan Nagabonar memberikan tanda hormat pada patung Jenderal Sudirman? Lalu sang Nagabonar sendiri juga diam-diam rindu mengaji.

Apakah kita ingin berkutat dengan sinema yang serba ‘warna warni’ seperti India, atau menonjolkan sisi drama seperti sinema Asia lain? Ataukah justru ingin tampak ‘mendominasi’ dan demokratis seperti tampilan sinema Amerika, atau memilih untuk bercita rasa seni tinggi seperti film-film Eropa?

Ini semua tergantung dari persepsi tentang ‘nilai’ itu tadi. ‘Nilai’ dalam film-film Indonesia, apapun judul dan temanya, sebisa mungkin bermakna positif supaya tidak sekedar enak ditonton lantaran bintang-bintangnya berwajah rupawan, tetapi juga berkesan di hati dan pikiran penontonnya, hingga kapanpun. Penonton yang sengaja datang ke bioskop untuk menyaksikan film Indonesia sudah membayar tiket berikut pajak tontonan. Please, jangan biarkan kami keluar dari ruang teater hanya dengan membawa kotak popcorn kosong!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY