Menilai Film Yang Bagus

    2175
    SHARE

    Film adalah satu dari sekian hasil karya seni yang sangat berpengaruh dalam membuat realitas di kepala para penikmat seni. Pesan yang terdapat dalam film sangat kuat dan mudah untuk bertransformasi ke dalam pikiran dan imaginasi penontonnya dan sangat mungkin membuat realitas baru yang dianggap kebenaran yang bisa diikuti dalam diri penonton. Film juga menjadi salah satu hiburan terbaik yang bisa didapatkan di waktu senggang. Masalah umum yang selalu muncul dan dihadapi seseorang, dengan pengetahuan tentang film yang terbatas, dalam memilih film adalah film terbaik apa yang harus ditonton di luar film-film yang mereka tahu.

    Di saat seperti ini, tak jarang bagus atau tidaknya poster film atau sampul CD atau DVD film, menjadi cara terbaik seseorang untuk menentukan pilihan tentang film mana yang akan ditonton. Dan tak jarang juga, beberapa dari penggemar film lari pada situs online yang menyediakan informasi tentang rating dan ulasan sebuah film.

    Beberapa situs besar (berbahasa Inggris) yang sering dijadikan acuan adalah RottenTomatoes.com, IMDB.com, Metacritic.com, atau MovieReviews.com dan masih banyak lagi yang lainnya. Situs rating film tersebut bisa dikatakan sebagai “pembimbing” yang memberikan rekomendasi film terbaik dengan cara memasang nilai (angka) dari sebuah film pada pengunjung.

    Sebetulnya, kualitas sebuah film sangat menentukan tingginya antusiasme masyarakat terhadap film tersebut. Kualitas film yang semakin baik dari segi cerita, sinematografi, juga teknis, secara idealnya seharusnya akan menentukan tingginya antusiasme penonton untuk berbondong-bondong menyaksikannya.

    Aktor senior Didi Petet yang pernah mengatakan bahwa sebuah film harus mampu mengedukasi masyarakat justru menjadi dilema sendiri bagi penonton dan pembuat film. “Ini yang selalu menjadi dilema pembuat dan penontonnya,” katanya.

    Apakah sebuah film harus mengedukasi masyarakat, menurut Didi, jangan hanya dibebankan kepada orang-orang film. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri.  Karena film adalah refleksi dari keadaan masyarakat pada zamannya, maka biarkan masyarakat mengedukasi dirinya sendiri. “Film itu mencerminkan masyarakat pada zamannya. Perkembangannya bisa kita lihat lewat film. Film bisa mengungkapkan semua, latar belakang budaya, pendidikan, dan sebagainya,” ungkap pemain film yang juga menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta tersebut.

    Lebih lanjut ia menambahkan, penonton harus cerdas dalam menonton sebuah sajian film. “Penonton harus cerdas, kita semua harus cerdas. Kalau tidak perlu ditonton ya tidak usah ditonton. Kita nonton film yang bisa membuat kita menjadi cerdas,” katanya.

    Lola Amaria juga pernah mengatakan mengatakan bahwa dalam sebuah film, etika, estetika, dan logika sangat penting. Ia mencontohkan hal-hal yang tidak logis yang masih ada di film dan sinetron Indonesia, seperti dandan berlebihan di dalam rumah dan memakai bulu mata palsu saat sedang tidur.

    Lalu bagaimana menentukan kriteria sebuah film yang dianggap bagus atau tidak? Beberapa kritikus film sering menggunakan kriteria yang sederhana. Buat mereka, ketika sebuah film membuat kita berpikir tentang sebuah hal yang baru, mengubah perspektif dan cara pandang kita tentang sesuatu hal, mampu mempengaruhi dan menggerakkan, mampu membawa respon emosional penontonnya, itulah sebetulnya kriteria bahwa sebuah film dapat dikatakan bagus.

    Secara sederhana, sebetulnya bisa disimpulkan bahwa sebuah film dapat dikatakan bagus adalah jika memenuhi beberapa kriteria seperti;

    1. Sebuah film harus memiliki alur cerita yang kuat. Walaupun sebuah film hanya menceritakan sebuah cerita yang sederhana dengan cara yang tepat, film tersebut bisa jadi lebih baik daripada sebuah film yang berisikan cerita yang penuh intrik dengan terlalu banyak ploting cerita yang tidak berkesinambungan. Sebuah cerita yang baik adalah cerita yang mampu menghubungkan cerita film dan isi pesan di dalamnya dengan penonton secara emosional. Inilah tugas utama dari seorang penulis cerita dan skenario, di mana mereka harus menciptakan dialog yang baik yang alami dan dapat dipercaya untuk karakter-karakter yang terdapat dalam sebuah cerita.
    1. Sebuah film yang baik harus mampu membangkitkan emosi para penontonnya. Misalnya, jika kita menonton film komedi, seharusnya kita bisa tertawa karena kelucuan-kelucuan dalam adegan film pada saat kita menontonnya. Pemeran film yang baik harus mencurahkan perasaannya dalam tiap adegan pada alur cerita film. Mereka mengikuti arahan dan juga menambahkan inisiatif dengan sentuhan mereka sendiri kepada film yang sedang dimainkan. Hal ini untuk memperkuat pengaruh emosional pada setiap adegan untuk mempengaruhi penonton.
    1. Teknik sinematografi juga memainkan peran yang sangat penting dalam proses pembuatan sebuah film untuk menyempurnakan proses pembuatan film secara visual. Sinematografi yang baik, mempersiapkan dan menyuguhkan suasana hati dan emosional pada keseluruhan film, mengisi transisi antara adegan-adegan yang efektif dan kreatif, seperti sudut kamera yang kreatif, pencahayaan yang baik dan menjaga detil-detil visual yang tidak penting yang hanya menjadikan kekonyolan, ketidaksesuaian dengan adegan dan keseluruhan film.

    Jadi, saat penonton film sudah mulai memiliki pemahaman bahwa sebuah film itu sangat bisa mempengaruhi cara pandang dan pemikiran penontonnya, maka sudah saatnya penonton film mampu memilih film-film yang dianggap layak tonton dan memang memiliki pesan dan cerita yang baik. Untuk itu memang, kecerdasan emosional dan intelektual menjadi penting. Hanya saja, ini bukan hanya menjadi tanggung jawab penonton film untuk menjadi cerdas, ketika justru pembuat film dan pengambil kebijakan tidak terlalu memperdulikan hal ini.

    Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika para produser dan pembuat film hanya memikirkan dan mementingkan orientasi profit dari karya filmnya dan tidak lagi memikirkan pengaruh pesan di dalam film pada pola budaya masyarakat yang menontonnya. Juga ketika para distributor dan pengimpor film selalu membandingkan film-film produksi Indonesia dengan film-film produksi Hollywood dan tidak pernah mau memberikan tempat yang sedikit layak bagi produksi dalam negeri. Juga pada saat pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak pernah mau membuat aturan main yang bisa dijadikan pijakan dan landasan bagi industri film untuk bergerak secara adil agar bisa memberikan pencerahan bagi penontonnya dan pada akhirnya membangun proses pencerdasan pada pola budaya sebuah masyarakat.

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY