Negeri Tanpa Telinga: Komedi Satir Edukatif Yang Terantisipasi

Negeri Tanpa Telinga: Komedi Satir Edukatif Yang Terantisipasi

5347
SHARE

Realitas kehidupan dunia politik sebuah bangsa memang penuh liku-liku. Dari mulai hal-hal baik yang bermanfaat untuk banyak orang, hingga hal-hal pribadi yang seringkali menghubungan antara politik, uang dan urusan ranjang. Ide ini diangkat oleh Lola Amaria dalam film Negeri Tanpa Telinga. Film ini menceritakan kisah seorang bapak bernama Naga (T. Rifnu Wikana) yang berprofesi sebagai pemijat refleksi panggilan. Kehebatannya dalam menyembuhkan penyakit dengan pijat refleksi membuatnya banyak memiliki klien dari berbagai kalangan. Mulai dari artis, para petinggi partai politik, pemerintahan hingga kelompok jurnalis.

Sebagai tukang pijat ia seringkali menjadi pendengar semua perbincangan orang-orang penting itu. Bahkan tidak sedikit yang memang sengaja mengajak Naga berdiskusi sambil dipijat. Tanpa diminta, ia mendengarkan bagaimana Partai Martobat yang dipimpin oleh Piton Wangsalaba (Ray Sahetapy) berusaha mengumpulkan dana untuk konvensi. Caranya adalah dengan menggolkan proyek wisma Khayangan. Ia juga tahu persis peran Mentri Joko Ringkik (Rukman Rosardi), Marmood (Tanta Ginting)sang bendahara partai, dan Tikis Queenta (Kelly Tandiono) anggota legislatif sang pelobi ulung. Sejumlah kader petinggi partai itu memang pasien Pak Naga.

Sementara itu di sisi lain Partai Amal Syurga yang dipimpin Ustad Etawa (Lukman Sardi) sedang mengatur tender Impor Daging Domba. Naga mendengar dengan jelas ketika memijat kader-kader partai ini, bagaimana simbol-simbol keagamaan digunakan sebagai kedok memperkaya diri sendiri. Tak hanya soal uang, Naga pun jadi saksi ketika transaksi urusan ranjang dilakukan oleh para penguasa tersebut. Ia bahkan memijat Tikis Queenta yang kelelahan setelah melakukan “lobi-lobi” dengan sejumlah rekan anggota dewannya.

Dengan plot tersebut, kita dengan mudah menangkap apa gerangan yang ingin digambarkan dalam film tersebut. Film yang skenarionya ditulis oleh Indra Tranggono dan Lola Amaria ini memang sengaja memotret realitas kehidupan politik kontemporer di Indonesia. Mereka membawanya secara satir untuk menyindir dan memvisualisasikannya dalam adegan-adegan film ini.

“Ide cerita ini saya dapatkan karena selama 5 tahun ke belakang media begitu gamblang menceritakan soal skandal-skandal korupsi dan politik di negeri ini. Bahkan sidangnya pun disiarkan secara langsung,” ujar Lola Amaria yang juga berperan sebagai sutradara.

Agak disayangkan bahwa film ini digulirkan dalam plot genre komedi. Dengan dengan tipenya yang satir, sulit untuk bisa menjadikan film ini menjadi sebuah tontonan komedia yang bisa membuat kita tertawa dan melupakan sejenak beban hidup dan malah justru membuat dahi berkerut walaupun mungkin masih bisa tertawa kecil, di dalam hati atau hanya sekedar tersenyum.

Aline Jusira yang menjadi editor di film ini pun mengakui kesulitan mempertahankan komedi ini.  “Plot aslinya peran Ustad Etawa sudah selesai di 20 menit awal. Namun jika plot dibiarkan seperti itu, film ini akan menjadi membosankan. Karena itu plot cerita kita bongkar ulang untuk memperpanjang kehadiran Etawa yang terbukti lucu,” papar Aline.

Pembelokan premis yang tak terantisipasi penonton adalah hal penting untuk membangun sebuah alur komedi. Semakin jauh sebuah hasil akhir (punch line) dengan premis akan makin tercipta kelucuannya. Dan dalam film ini memang sudah berusaha dibangun punchline yang baik, seperti contoh dialog seorang kader partai Amal Surga pada pimpinan partainya, “Saya sudah ikhtiar dan tawakal Ustad, supaya korupsi kita tidak ketahuan.”

Persoalannya, hal inipun sudah terantisipasi oleh penonton, karena film Negeri Tanpa Telinga memang mengambil ide satir dari kasus-kasus yang sudah sering kita simak pemberitaannya di televisi. Meski Lola Amaria dan Indra Tranggono mengaku telah lepas dari fakta dan mencoba membuat realitas baru, tetap saja hal ini dengan mudah dicerna oleh penonton dan mengasosiasikannya dengan tokoh yang ada di dunia nyata sehari-hari. Ini mugkin sebab yang menjadikan hanya sedikitnya terdapat kejutan untuk membuat penonton tertawa karena jalannya scene sudah terantisipasi.

Namun begitu, patut diakui bahwa film ini telah berusaha dengan berani memotret kisah-kisah buruk negeri ini secara gamblang. Aksi-aksi pemerannya yang diatas rata-rata juga bisa membuat nilai tambah. Film yang menampilkan Gery Iskak sebagai sosok paling vokal dalam pemberantasan korupsi, Lukman Sardi sebagai seorang ustad dan Kelly Tandiono sebagai pelobi ulung yang tidak kenal halal dan haram. Hadir juga Ray Sahetapy, Tanta Ginting, dan Jenny Zhang yang punya peran tidak kalah menarik.

Salah satu adegan yang layak diperhatikan adalah antara Ray Sahetapy dan Jenny Zhang yang dilakukan dalam mobil. Adegan ini terasa begitu natural dan menguras emosi. Bahkan sebagai pemeran Ray juga mengaku melatih adegan ini berkali-kali. Kemudian jangan lepaskan mata dari tokoh Tikis Queenta sang pelobi ulung. Killer body-nya Kelly Tandiono yang memerankan tokoh ini dijamin bikin meleleh. Di awal ia sudah tampil dengan perut rata cenderung sixpack-nya sambil olah raga lari. Di beberapa adegan ia muncul hanya mengenakan pakaian dalam seksi two pieces warna merah. Dan tercatat sekurangnya ia beradengan cinta dengan tiga laki-laki berbeda di film ini.

Sayang sekali, setelah film ini rilis, terdengar kabar bahwa Lola Amaria harus mendapatkan teror. Penyebabnya tak lain adalah karena alur cerita film ini yang mengangkat banyak skandal di kehidupan politik elit Republik Indonesia. Mulai dari cerita seks, kisah para pelobi yang menghalalkan banyak cara sampai koruptor yang divisualisasikan lewat akting di film ini. Semoga film ini bisa terdokumentasikan dengan baik dan bisa menjadi pelajaran bagi generasi penerus tentang satu masa gelap kehidupan politik elit di negeri ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY