Para Kritikus Film

Para Kritikus Film

1975
SHARE

Oleh: Shandy Gasella

Bila menilik ke belakang perihal awal mula kritik film di Indonesia — khususnya yang menyoal film buatan negeri sendiri, kita tak perlu menengok jauh hingga ke tahun 1926 pada saat film cerita pertama ‘Loetoeng Kasaroeng’ dibuat. Pada  awal sejarah perfilman Indonesia, kritik film belumlah ada. Pada masa itu film merupakan media baru dan hanya dipandang sebagai produk hiburan semata. Ia masih belum terjamah oleh kepentingan-kepentingan politik pemerintah kolonial atau pun kepentingan lain yang dapat saja dipakai oleh si pembuat film untuk menyampaikan pesan tertentu pada masyarakat (baca: khalayak penonton). Pada masa itu film masih berproses menemukan bentuknya, dan belum ada seorang pun yang menganggapnya sebagai satu cabang seni pertunjukan yang layak diapresiasi secara serius.

Pada akhir tahun 50an ada Misbach Yusa Biran yang selain baru menapaki karirnya sebagai sineas, ia pun sebagai seorang wartawan aktif menulis kritik film. Ia pernah menjadi ketua redaksi ‘Mingggu Abadi’ (1958 – 1960), ‘Majalah Purnama’ (1962 – 1963), Redaktur ‘Ahad Muslimin’ dan ‘Lembaran Kebudayaan’ dari harian ‘Duta Masyarakat’ (1964-1965). Pada masanya dan hingga sekarang ia adalah salah satu tokoh perfilman Indonesia yang paling dihormati. Namun kini timbul pertanyaan; siapa pula generasi sekarang yang pernah membaca kritik film tulisannya?

JB Kristanto bisa jadi lebih populer ketimbang Misbach Yusa Biran, ini pun tentu saja hanya di kalangan para penikmat film Indonesia garis keras, karena bagi masyarakat umum toh keduanya sama-sama tak populer. JB Kristanto pernah menjadi jurnalis ‘Harian Kompas’, dan lewat perannya sebagai jurnalis ini kritik film di media massa jadi memiliki bobot, atau setidaknya ia merangsang para jurnalis lain memberi perhatian lebih akan penulisan berita maupun ulasan film. Selain itu ia pun layak dipuji dan diberi penghormatan karena  menulis buku Katalog Film Indonesia yang amat berharga itu. Kritik-kritik film dari buah pikirannya selalu mendalam khas tulisan akademisi, padahal ia menulis untuk media cetak arus utama. Dari tahun 70an hingga kini ia masih aktif menulis kritik film, yang terbaru darinya dapat ditemui di laman ‘filmindonesia.or.id‘, di situs yang menyajikan data dan informasi lengkap tentang perfilman Indonesia itu ia mengulas film ‘Kisah 3 Titik’ karya Lola Amaria yang dirilis pada awal Mei tahun ini. Sudah tak seproduktif dulu, namun jelas terlihat bahwa semangat dan minatnya terhadap kajian film masihlah menggebu.

Masih ada nama lain seperti Eric Sasono dan Lisabona Rahman misalnya yang serius mengkaji film lewat cara yang mirip dilakukan oleh JB Kristanto, yaitu mengulas film dengan sudut pandang tertentu, menelaah secara mendalam dengan teori-teori disiplin ilmu tertentu pula. Kritik yang mereka hasilkan sangat mumpuni dan bisa jadi masukan yang amat berarti tak hanya bagi para sineas yang filmnya mereka kritik, namun juga dapat menjadi catatan penting dokumentasi bagi kepentingan pendidikan, khususnya soal kajian film di Indonesia. Sejatinya fungsi kritikus film adalah sebagai penghubung si pembuat film dengan penontonnya. Merekalah yang menjembatani penyampaian gagasan-gagasan si pembuat film agar dapat lebih dipahami oleh penonton. Maka, peran kritikus film sebagai perantara tersebut menarik untuk dicermati.

Kini di era media sosial yang kian ramai dipadati warga, saat akses kepada informasi berseliweran tak terbendung, setiap orang bisa menjadi kritikus film, dan bahkan mereka bisa menjadi kritikus apapun yang mereka kehendaki. Setiap hari kita selalu menjumpai tweet seseorang yang mengomentari sebuah film yang baru saja ditontonnya, lengkap disertai tautan ke alamat blog pribadinya untuk mengetahui ulasan lengkap yang ditulisnya. Dan ini terjadi tak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.

Untuk menyampaikan informasi, gagasan, opini, dan lain sebagainya kepada khalayak ramai, kini kita tak perlu lagi menitipkan tulisan kepada kolom surat pembaca, atau kepada media-media online jurnalisme warga yang tak memberi kompensasi sepeser pun kepada kontributornya itu, kita hanya cukup mempostingnya di blog pribadi dan setiap orang memiliki akses untuk membacanya.

Berbicara soal blog, kenyataannya tak sedikit blog-blog yang khusus mengulas film ditulis oleh anak-anak berumur belasan tahun atau awal 20an, umumnya ditulis dengan amat serampangan seolah mereka tak pernah mendapatkan pendidikan bahasa Indonesia di sekolahnya, dan yang paling mengejutkan blog mereka ternyata dikunjungi oleh banyak sekali pembaca. Hal yang lumrah sekali dijumpai.

Movie blogger — begitu mereka biasa disebut, alih-alih membantu penikmat film lebih memahami film yang ditontonnya, terkadang mereka malah menyesatkan atau setidak-tidaknya tak memberi informasi berharga apa pun. Tentu tak semua movie blogger demikian, ada beberapa yang cukup berdedikasi dan mampu menulis ulasan filmnya secara mendalam. Internet telah memberi rumah baru bagi dunia kritik film, dan mereka bebas menulis apa pun sesuka hati. Masalahnya, memiliki kebebasan penuh untuk menulis apa pun dengan sesuka hati dibutuhkan disiplin ilmu yang memadai.

Mikael Johani, seorang penyair sekaligus pemerhati budaya pop lewat blognya di ‘oomslokop.tumblr.com‘ sering pula mengulas film. Dalam salah satu postingannya ia menelaah, membandingkan film ‘Negeri di Bawah Kabut’ karya Salahuddin Siregar dengan ‘The Act of Killing’-nya Joshua Oppenheimer. Menarik bukan? Dan kajiannya terhadap kedua film tersebut tak hanya mendalam, namun juga memberi perspektif unik yang tak tercetus dari (katakanlah) pengulas film lain di media arus utama baik cetak maupun online. Lalu ada Mumu Aloha — nama beken dari Is Mujiarso, seorang managing editor salah satu media berita online terbesar di Indonesia ini, seperti Mikael Johani, ia pun kerap kali berbagi opini soal film yang telah ditontonnya lewat blognya di ‘penyinyiran.tumblr.com‘. Pada salah satu postingannya ia mengulas film ‘Finding Srimulat’ karya Charles Gozali dengan gaya bahasa yang santai namun juga sarat analisis yang tajam. Membaca tulisan mereka berdua selalu menyegarkan dan menutrisi akal pikiran, juga tak jarang saya dibuat tertawa karena keduanya orang yang jenaka, selalu tak pernah kekurangan humor, dan sarkasme — satu hal yang jarang dimiliki oleh para penulis lain di negeri ini.

Secara umum kritik film dibedakan menjadi dua, kritik jurnalistik dan kritik akademis. Kritik jurnalistik biasanya ditulis oleh jurnalis atau penikmat film, dipublikasikan lewat media massa. Kritik ini biasanya dimuat sebagai panduan bagi calon penonton dalam memilih film yang baru rilis di bioskop. Pada media cetak dan beberapa media online kritik jurnalistik sangat dibatasi oleh ruang halaman, dan terkadang harus berkompromi dengan aturan-aturan redaksional tertentu. Sedangkan kritik akademis lazimnya ditulis oleh kalangan akademisi dari perguruan tinggi, dimuat dalam jurnal ilmiah atau majalah berbobot yang mengulas film. Berbeda dengan kritik jurnalistik yang mengutamakan informasi aspek-aspek dasar sebuah film — seperti sinopsis, bintang film, hingga genre dan mutu film, kritik akademis bertujuan mendalami makna sebuah film dan efeknya bagi penonton. Yang satu enteng dibaca, satu lagi terasa berat. Eric Sasono dan Lisabona Rahman masuk kedalam golongan terakhir.

Amerika dengan Hollywood sebagai kiblat perfilman dunia, selain memiliki banyak movie blogger yang handal seperti Dennis Cozzalio (Sergio Leone), Kim Morgan (Sunset Gun), dan ratusan movie blogger lainnya, ya ratusan — bahkan situs film terkemuka TotalFilm.com pernah memuat artikel tentang 600 blog film yang layak dikunjungi, mereka pun memiliki banyak sekali kritikus film handal yang bekerja di media arus utama. Ada Vincent Canby (The New York Times), Richard Corliss (majalah Time), mendiang Roger Ebert (Chicago-Sun Times), Todd McCarthy (Variety, The Hollywood Reporter), dan masih banyak lagi yang lainnya. Media-media arus utama tersebut masih menjadi acuan bagi para penikmat film yang hendak mencari tontonan di akhir pekan atau bagi yang sudah menonton dan ingin sekedar menambah wawasan akan film yang telah ditontonnya. Rubrik ulasan film di media-media arus utama tadi memang diasuh oleh para ahli, para penikmat film yang dibekali ilmu yang memadai — satu hal yang jarang terjadi di negeri ini.

Hampir sebagian besar media massa di negeri ini dalam mengulas film masih berkutat soal menceritakan kembali sinopsis film, seputar siapa bintang film dan sutradaranya, lalu menjustifikasi filmnya sebagai tontonan yang baik atau buruk dengan memberi skor bak guru di sekolah yang memberi nilai ujian terhadap siswanya. Mereka masih belum menganggap penting rubrik film dengan tidak mempekerjakan pengasuh rubrik dari lulusan Kajian Film misalnya, atau setidak-tidaknya lulusan Sastra Indonesia atau Sastra Inggris yang telah mengenyam pendidikan soal apresiasi sastra dan turunannya beserta teori-teori pendukungnya. Lewat cara ini setidak-tidaknya ulasan film di media massa dapat dipertanggungjawabkan, serta memiliki kredibilitas.

Ade Irwansyah adalah satu dari sedikit pengulas film di media massa arus utama yang memiliki kredibilitas itu. Tulisan-tulisannya biasanya tak begitu panjang, enak diikuti, ditulis dengan gaya yang santai namun mendalam dengan misalnya menelaah simbol-simbol tersirat dari suatu film. Tak jarang ia memberi peringatan “spoiler alert” di awal artikel. Karena konsekuensi dari menelaah film secara mendalam, memang terkadang pengulas harus membeberkan semua cerita dalam film, termasuk unsur kejutan yang selalu ada di penghujung sebuah film.

Kita sebagai penikmat film memiliki banyak sekali alternatif bacaan pendamping selepas menonton film, ada ulasan “berat” dari Eric Sasono yang panjang-panjang, ulasan cerdas namun penuh nyinyir khas Mumu Aloha, atau ulasan dari Ade Irwansyah yang enak diikuti itu, belum lagi ulasan dari sejumlah movie blogger berhati mulia — bagaimana tidak, tanpa dibayar, mereka dengan segala keikhlasan hati selalu menulis ulasan-ulasan film terkini secara berkala. Atau lewat majalah yang sedang anda pegang ini, makin memperkaya khasanah dunia kritik film di Indonesia bukan?

Satu catatan kecil tentang kritik film di negeri ini bahwa mengapa para penikmat film tak membaca tulisan sejumlah kritikus film tertentu adalah karena para kritikus ini kekurangan humor, asik sendiri menelaah dengan mengolah kata-kata yang membuat pembacanya harus selalu sedia kamus bahasa Indonesia sebagai pendamping. Rasanya hanya angan-angan saja kita dapat menemukan seorang kritkus film setajam Eric Sasono namun juga seasik Mumu Aloha. Bila memang ada kritikus film yang seperti ini, insyaallah, dunia kritik film Indonesia akan semakin asyik saja untuk diikuti.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY