Peduli Lingkungan Hidup, Lab Teater Ciputat Gelar Kegiatan Bertajuk: “Bersama Hutan Kota,...

Peduli Lingkungan Hidup, Lab Teater Ciputat Gelar Kegiatan Bertajuk: “Bersama Hutan Kota, Menyusuri Kearifan Kali Pesanggrahan”

1605
SHARE

Di pengujung tahun 2015, Lab Teater bekerja sama dengan Komunitas Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana, akan kembali menggelar kegiatan seni berbasis kearifan alam yang diberi judul “Bersama Hutan Kota: Menyusuri Kearifan Kali Pesanggrahan”. Kegiatan di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana ini sebagai upaya menguatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian dan penyelamatan alam (sungai dan hutan), khususnya di wilayah perbatasan Jakarta melalui pendekatan kebudayaan, Cq.Kesenian.

Pendekatan yang dimaksud adalah penciptaan karya seni pertunjukan, seni rupa instalasi, dan sastra yang bermutu yang dilakukan oleh pelaku seni yang tergabung dalam Lab Teater dan seniman seni tradisi dari Kelompok Sangga Buana. Bentuk pendekatan ini dipilih karena lebih dapat diterima dengan baik, sekaligus dapat menggerakkan kesadaran masyarakat akan arti kehidupan sungai, alam dan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Drama Anak Kapuk Teko pada "Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko" di kantor RW 01 Kapuk Teko, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa(30/12). Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko merupakan presentasi hasil riset partisipatif tahap 1 kelompok Teater Kubur dengan warga Kapuk Teko  dalam program "Kota yang Tenggelam". Program ini digagas komisi teater DKJ untuk mendalami berbagai sebab yang menimbulkan ancaman tenggelamnya  Jakarta.
Drama Anak Kapuk Teko pada “Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko” di kantor RW 01 Kapuk Teko, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa(30/12). Pentas Pendampingan Masyarakat Kapuk Teko merupakan presentasi hasil riset partisipatif tahap 1 kelompok Teater Kubur dengan warga Kapuk Teko dalam program “Kota yang Tenggelam”. Program ini digagas komisi teater DKJ untuk mendalami berbagai sebab yang menimbulkan ancaman tenggelamnya Jakarta (Sumber: http://teaterdankota.org/).

Kegiatan yang akan digelar ini berupa diskusi dengan tokoh lintas disiplin, pertunjukan seni teater, workshop teater, jelajah hutan, susur sungai dan berbagai kegiatan ritual tradisi yang telah berlangsung dalam Kelompok Tani Lingkungan Hidup Sangga Buana yang diorientasikan pada pengenalan kawasan, penghormatan terhadap sungai dan hutan. Seluruh rangkaian acara ini akan dihadiri oleh para pegiat teater muda yang secara prioritas akan ditempatkan di perkemahan hutan kota selama acara berlangsung.

Kegiatan ini akan berlangsung mulai Kamis tanggal 17 s/d hari Minggu, 20 Desember 2015. Agenda utamanya adalah presentasi pertunjukan teater karya Lab Teater berjudul Suluk Sungai karya/Sutradara Abdullah Wong dan Mata Air Mata karya/Sutradara Bambang Prihadi, yang sekaligus menjadi puncak kegiatan “Bersama Hutan Kota” pada Sabtu malam, 19 Desember 2015. Kedua karya tersebut merupakan hasil riset kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana dan proses latihan bersama para aktor Lab Teater.

Pentas "Suluk Sungai" oleh Lab. Teater Ciputat di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan "Sangga Buana", Karang Tengah, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2014). Pentas ini merupakan presentasi hasil riset teater partisipatif tahap 2 oleh Lab. Teater Ciputat dan warga Kampung Baru-Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dalam rangkaian program "Kota yang Tenggelam" yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, untuk mendalami persoalan banjir, serta kemungkinan ancaman bahwa Jakarta akan tenggelam.
Pentas “Suluk Sungai” oleh Lab. Teater Ciputat di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan “Sangga Buana”, Karang Tengah, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2014). Pentas ini merupakan presentasi hasil riset teater partisipatif tahap 2 oleh Lab. Teater Ciputat dan warga Kampung Baru-Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dalam rangkaian program “Kota yang Tenggelam” yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, untuk mendalami persoalan banjir, serta kemungkinan ancaman bahwa Jakarta akan tenggelam (Sumber: http://teaterdankota.org/).

Agenda utama tersebut akan dimeriahkan dengan tiga pertunjukan teater tamu di hari sebelumnya, antara lain Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang yang membawakan lakon Keluarga Mie Instan karya/Sutradara Yusril Katil; Teater Sisi Medan dengan lakon Nuun karya Yondik Tanto, Sutradara Rifki Arnold; dan Teater Rumil dengan lakon EG karya/Sutradara Fermana Manalu. Lima pertunjukan dalam kesamaan tema itu akan memilih tempat pementasan berbeda di kawasan Hutan Kota, sesuai dengan kebutuhan konsep para sutradara.

Adapun, peserta tetap sebanyak 50 orang (berstatus penonton juga) akan difasilitasi dalam format perkemahan teater selama 3 malam 4 hari. Mereka dan penonton non-kemah akan diajak menikmati suasana Hutan Kota sambil menonton lima karya pertunjukan dengan nyaman. Selain itu, peserta tetap yang berasal dari komunitas seni se-Jabodetabek dan beberapa kota lain, seperti; Serang, Solo, Medan, dan Cirebon akan mengikuti sejumlah kegiatan tambahan dan rutin di kawasan Hutan Kota, yaitu Tawasulan, Diskusi Peradaban Sungai bersama Radhar Panca Dahan dan Haidar Baqir, Workshop Teater, Jelajah Hutan Kota, Ritual Bersih Kali, Penanaman Pohon, Tebar Ikan dan Pelepasan Burung. Kegiatan ini akan dihadiri oleh Tokoh Masyarakat sekitar, Pegiat Lingkungan, Seniman, Budayawan, Aktivis Kemanusiaan, Politisi, Pengusaha, Perwakilan Kedutaan Besar USA, Pengamat Seni Pertunjukan, Birokrat Kesenian dan sejumlah Artis Jakarta.

Pentas "Suluk Sungai" oleh Lab. Teater Ciputat di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan "Sangga Buana", Karang Tengah, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2014). Pentas ini merupakan presentasi hasil riset teater partisipatif tahap 2 oleh Lab. Teater Ciputat dan warga Kampung Baru-Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dalam rangkaian program "Kota yang Tenggelam" yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, untuk mendalami persoalan banjir, serta kemungkinan ancaman bahwa Jakarta akan tenggelam. (Sumber: http://teaterdankota.org/)
Pentas “Suluk Sungai” oleh Lab. Teater Ciputat di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan “Sangga Buana”, Karang Tengah, Jakarta Selatan, Rabu (31/12/2014). Pentas ini merupakan presentasi hasil riset teater partisipatif tahap 2 oleh Lab. Teater Ciputat dan warga Kampung Baru-Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dalam rangkaian program “Kota yang Tenggelam” yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, untuk mendalami persoalan banjir, serta kemungkinan ancaman bahwa Jakarta akan tenggelam. (Sumber: http://teaterdankota.org/)

Dampak yang diharapkan dari kegiatan ini, selain menggugah kesadaran masyarakat akan kelestarian alam, juga peluasan nilai dan kearifan lokal sebagai dasar bagi perkembangan masyarakat yang berdaya secara ekonomi dan kebudayaan. Diharapkan, mereka dapat mengapresiasi dengan baik seluruh karya yang disajikan para kreator. Dan sebaliknya, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat menggugah kesadaran masyarakat akan arti penting kesenian dan nilai kearifan lokal Kali Pesanggrahan demi keselarasan alam dan martabat kemanusiaan. Sebagaimana kata mutiara yang sering kali diibaratkan Babeh Idin “setetes embun punya nilai di padang pasir”.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY