Pembukaan 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival: Selamat Datang Spirit Asia!

Pembukaan 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival: Selamat Datang Spirit Asia!

1264
SHARE
Garin Nugroho, presiden Festival dan Budi Irawanto, Direktur Festival, membuka secara resmi 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) tadi malam.

10th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) secara resmi dibuka tadi malam, 1 Desember 2015, di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta. Sekitar pukul 19.30 WIB, seremoni pembukaan dimulai  dengan sambutan dari Dinas Kebudayaan DIY dan Japan Foundation yang diwakili oleh Tadashi Ogawa.

Festival ini dibuka secara resmi oleh Garin Nugroho selaku Presiden JAFF dan Budi Irawanto selaku Direktur Festival, ditandai dengan hujan deras. “Selamat datang Spirit Asia!” seru Garin sebelum memukul gong simbol pembukaan. 

Garin Nugroho dan Budi Irawanto, setelah pemukulan Gong sebagai tanda festival secara resmi dibuka.
Garin Nugroho dan Budi Irawanto, setelah pemukulan Gong sebagai tanda festival secara resmi dibuka.

Menurut Garin, JAFF yang didirikannya sejak sepuluh tahun yang lalu memikili posisi yang unik sebagai sebuah festival film. “Film-film Asia selalu menarik dan memunculkan kejutan. Ketidakstabilan Asia di setiap periode dan banyaknya paradoks budaya yang berbeda-beda, membuat Asia selalu menarik, dan itulah keindahan JAFF,” sambungnya.

Budi Irawanto mengungkapkan, kali ini JAFF menghadirkan 159 film dari 23 negara. “Ini hampir dua kali lipat tahun lalu,” tegasnyanya. Budi juga mengatakan bahwa di peta internasional, JAFF telah diakui oleh kritikus sebagai salah satu dari 25 Coolest Film Festival in the World. Selain itu, Budi menambahkan bahwa JAFF menjadi salah satu festival yang mampu membuat peta film Asia.

Film pembuka pada 10th JAFF kali ini adalah film pendek berjudul Salesi dan film panjang Memories On Stones (Biraninem li ser keviri). Salesi merupakan sebuah film pendek berdurasi 30 menit dan disutradarai oleh Garin Nugroho serta Vilsoni Hereniko, yang diadaptasi dari legenda Jawa yang populer, Mangir, yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Film ini diproduksi dalam rangka untuk memperingati 25 tahun Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) yang juga sekaligus dipilih untuk mendeklarasikan nama NETPAC yang baru menjadi Network for the Promotion of Asian Pacific Cinema.

Salah satu adegan dalam film "Salesi", karya Garin Nugroho dan Vilsoni Hereniko.
Salah satu adegan dalam film “Salesi”, karya Garin Nugroho dan Vilsoni Hereniko (sumber: program.hiff.org).

Sedangkan Memories On Stones (Biraninem li ser keviri), merupakan film bergenre drama dari Irak yang diproduksi oleh Mitos Film karya sutradara Shakat Amin Korki dan sekaligus menjadi penulis skenario bersama Mehmet Aktas yang dirilis pada 2014. Film drama ini akan membawa kita mengenang lagi kejadian tragis pembantaian di Irak. “Memories On Stones” adalah salah satu film Asia yang berhasil meraih banyak penghargaan dan terpilih sebagai film berbahasa asing terbaik di 88 Academy Awards.

Salah satu adegan film Memories On Stone, karya sutradara Shakat Amin Korki  bersama Mehmet Aktas, yang banyak mendapatkan penghargaan Internasional (sumber: www.asiapacificscreenacademy.com)
Salah satu adegan film Memories On Stone, karya sutradara Shakat Amin Korki bersama Mehmet Aktas, yang banyak mendapatkan penghargaan Internasional (sumber: www.asiapacificscreenacademy.com)

Selain kedua film ini, mulai hari Rabu JAFF akan menghadirkan film – film Asia termasuk dari Indonesia. Film panjang dari Indonesia yang akan diputar, diantaranya A Copy of My Mind, Pendekar Tongkat Emas, Filosofi Kopi, dan Lovely Man.

Selain film panjang, akan diputar juga film-film pendek yang tergabung dalam “Special Program : Film Dari Jogja (Bagian 1)”. Film – film ini merupakan film pendek yang diproduksi dan didanai oleh Provinsi DIY. Film-film yang tergabung dalam program Asian Feature dan Light of Asia juga akan mulai diputar mulai Rabu.

logo10

Program Public Lecture akan diawali dengan diskusi mengenai “(Be)coming Asia & Focus on Chinese Cinema” serta “Diskusi Buku: Crisis & Paradoks (Krisis dan Paradoks Film Indonesia (1990 – 2015))”. Program lain yang tidak kalah menarik adalah Forum Komunitas, yang menjadi wadah bagi para penggiat film di Indonesia untuk berdiskusi dan bertukar informasi seputar komunitasnya dan hasil karyanya. Info lengkap mengenai jadwal pemutaran dan agenda JAFF lainnya dapat diakses melalui www.jaff-filmfest.org dan akan berlangsung hingga tanggal 6 Desember nanti.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY