Perayaan 100 Tahun Anime Di Kyoto International Film And Art Festival 2017

Perayaan 100 Tahun Anime Di Kyoto International Film And Art Festival 2017

141
SHARE

oleh: Daniel Irawan

Menginjak usia 100 tahun sejak pertama kali ditayangkan di Jepang di tahun 1917, tahun ini merupakan tahun penting bagi keberadaan animasi Jepang yang dikenal dengan istilah anime. Perkembangannya selama 100 tahun sudah menjadi bagian yang sangat signifikan dalam budaya Jepang. Ikut membentuk ciri dan juga salah satu identitas visual terbesar sinema mereka, belum lagi berbicara soal pengaruhnya ke seluruh dunia. Di sini, memasuki generasi ‘90an, anime dan manga sukses menggantikan pengaruh komik Eropa dan animasi Amerika dari generasi sebelumnya.

Kyoto International Film and Art Festival (KIFF) di edisi tahun ini juga tak mau ketinggalan menyorot momen penting tersebut. Menjadi kali pertama segmen animasi dihadirkan dalam line up festivalnya, bukan hanya penayangan sejumlah film-film anime panjang dan pendek yang akan digelar selama perhelatannya, tapi juga event-event terkait seperti simposium dan talkshow untuk merencanakan pengembangan industri anime oleh Yoshimoto Kogyo dalam keterkaitannya terhadap kultur wisata, khususnya keberadaan Kyoto dalam skala industri berbeda dengan Tokyo.

©2017 kiff.kyoto.jp

Dalam simposium yang digelar di hari kedua KIFF 2017, Chairman KIFF Ichiya Nakamura mengangkat topik Wisata Anime (Anime Tourism) yang dalam konsep dasarnya menggabungkan tiga hal penting yang saling terkait; anime, wisata dan kultur tradisional Kyoto sebagai salah satu prefektur dengan situs bersejarah terbanyak di Jepang, juga dulu merupakan pusat pemerintahan dan budaya Jepang.

Benar juga bahwa alasan banyak turis dari seluruh dunia datang ke Jepang juga salah satunya untuk menikmati sejarah anime lewat museum dan tempat-tempat yang menyatukan budaya hiburan dengan wisata. Sebut di antaranya, dari Museum Ghibli yang tiketnya harus dibeli berbulan-bulan sebelumnya, Doraemon hingga konten anime yang merambah theme park sekelas Disneyland dan Universal Studios. Inilah yang menjadi pemikiran mereka untuk makin mengembangkan industrinya bersama kiprah Yoshimoto di KIFF.

©2017 kiff.kyoto.jp

KIFF juga memilih anime The Eccentric Family (Uchuoten Kazoku) yang diangkat dari novel berjudul sama karya Mihiko Morimoto untuk menjadi duta anime Kyoto yang mereka namakan ‘Special Kyoto Goodwill Ambassador’, atas plot yang mengangkat Kyoto modern sebagai set-nya. Selain Nakamura, simposium tersebut menampilkan tiga pembicara; Dai Kusaki dari Dewan Pariwisata Kyoto, Takayoshi Yamamura, profesor dari Universitas Hokkaido dan Nobuhiro Kikuchi, direktur eksekutif dari PH anime Progressive Animation Works yang berbasis di Toyama.

Yamamura mengatakan bahwa gerakan Anime Tourism ini akan diresmikan menjadi bagian penting selain daya tarik situs-situs wisata dan kultur pop lain seperti musik dan film Jepang. Kyoto, menurutnya lagi memiliki potensi pengembangan elemen-elemen modern tanpa kehilangan semangat tradisi yang terus dipertahankan bersama keberadaan situs-situs wisatanya.

Kasuki kemudian menambahkan, ia merasa Kyoto merupakan tempat yang tepat untuk mengembangkan anime karena selain ada 38 sekolah yang mengajarkan anime, Toei Studio Park atau yang dikenal dengan nama Eigamura (Movie Village) yang menjadi salah satu sasaran turis menelusuri jejak film-film Jidaigeki, juga menjadi basis produksi Nintendo dan banyak film animasi lain.

Selain itu, Kyoto juga punya Kyoto International Manga Museum yang menurut data departemen pariwisata mereka bisa meraih 2,7 juta pengunjung setiap tahunnya. Ada pula pasar manga/anime tahunan yang menurut penjelasan Kasuki mampu meraup rata-rata 44.000 pelaku bisnisnya.

Nobuhiro Kikuchi dari Progressive Animation Works, PH anime yang memproduksi The Eccentric Family, juga percaya bahwa industri anime akan berkembang semakin besar dengan adanya budaya-budaya baru seperti merchandise, cosplay, sementara manga dan games juga merupakan elemen yang menyatu dan terus berkembang dengan industrinya.

Secara terpisah, talkshow yang menampikan Kikuchi dan Progressive Animation Works di teater bersejarah Minami-za, juga jadi penanda keterkaitan anime – yang belum pernah ditayangkan di sana selama sejarahnya, dengan pelestarian budaya dan situs-situs tradisional bersejarah di Kyoto. Ia kembali menegaskan bahwa animasi merupakan unsur yang sangat ampuh untuk mendatangkan lebih banyak lagi turis ke kota mereka.

Sejumlah film animasi yang ditayangkan selama KIFF berlangsung adalah The Dog of Flanders (Yoshio Kuroda, 1997), Rurouni Kenshin: Trust and Betrayal (Kazuhiro Furuhashi, 1999), Hakuoki: Demon of the Fleeting Blossom – Wild Dance of Kyoto (Osamu Yamazaki, 2013), I Want to Let You Know that I Love You (Tetsuya Yanagisawa, 2016), kumpulan animasi pendek dari G9+1 Project (grup penulis animasi tertua di Jepang), serta omnibus anime berjudul Anime Tango 2016, karya 4 sutradara anime muda pemenang proyek Young Animator Development Project dari pemerintah mereka.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY