Pesta Film Solo 2016 POSTALGIA: Perjalanan Masa Lalu Sebagai Perjuangan Bersama

Pesta Film Solo 2016 POSTALGIA: Perjalanan Masa Lalu Sebagai Perjuangan Bersama

909
SHARE

Pada hari Jumat lalu, tanggal 13 Mei 2016, helatan Pesta Film Solo kembali digelar di Taman Budaya Jawa Tengah. Tahun ini, Kine Klub FISIP UNS mengangkat tajuk POSTALGIA, di mana film-film yang diputar menggambarkan perjalanan perfilman Indonesia sejak awal 90-an hingga tahun 2000. Selain memutar film yang sesuai dengan tema, ada juga sesi pemutaran Film’e Wong Solo, Film Komunitas, dan Film Utama.

Pesta Film Solo #6 Postalgia mengadakan submisi film, di mana filmmaker seluruh Indonesia mengirimkan karyanya, sebagai bentuk apresiasi terhadap film komunitas independen. Open film submission tersebut berhasil mendapatkan 169 judul film yang masuk dari komunitas film se-Indonesia maupun karya pribadi. Seluruh film yang masuk tersebut dikurasi oleh 3 kurator yakni BW Purba Negara, Steve Pillar, Tunggul Banjaransari yang berlatar belakang sebagai sineas film, dan meloloskan total 20 film.

Film yang diputar pada acara ini tidak hanya film-film komunitas tapi juga menayangkan Film’e Wong Solo, Film Tematik, dan 3 film utama yaitu Petualangan Sherina, Bulan Tertusuk Ilalang, dan Viddsee Shortee yang akan memutarkan 5 film pendek dari film maker di Asia. Tidak hanya menonton film saja, festival ini juga mengadakan sesi diskusi bersama film maker dan pembicara ahli seputar tema yang diangkat, seperti Garin Nugroho, JB Kristanto, Adrian Jonathan, dan Pong Harjatmo, serta ada juga acara hiburan lain seperti stand up comedy.

Diskusi pada acara Pesta Film Solo 6 ini memiliki tema yang berbeda setiap harinya. Untuk hari pertama (Jumat 13 Mei 2016), tema diskusinya adalah “Untuk Ekspresi yang Terbelenggu” dengan menghadirkan pembicara ahli yakni, JB Kristanto (kritikus film, editor katalog film nasional, filmindonesia.or.id) dan Dimas Djayasrana dari Viddsee. Untuk dua hari selanjutnya (14-15 Mei 2016)  pada sesi diskusi memiliki tema yang berbeda yakni “Dirikan Fondasi, Bangkitlah Industri” dan “Euforia Reformasi” dengan pembicara ahli.

Acara yang diselenggarakan oleh Kine Klub FISIP UNS ini terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dipungut biaya. Namun khusus untuk film Petualangan Sherina dikenakan donasi sebesar Rp 15.000. Pesta Film Solo tahun ini juga mengadakan dua Temu Komunitas yang menjadi ruang diskusi permasalahan seputar perfilman bagi komunitas-komunitas film di Indonesia.

Tahun lalu Pesta Film Solo #5 diadakan di Gedung Teater Arena berhasil mendatangkan penonton sebanyak 200 sampai 300 per harinya. Penonton tersebut merupakan gabungan dari komunitas film yang hadir dan juga masyarakat umum. Tahun ini Pesta Film Solo 6 yang diadakan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Tengah diperkirakan mampu menembus 250 sampai 300 penonton setiap harinya dikarnakan juga kapasitas Gedung yang dipakai tahun ini bisa memuat kurang lebih 350 penonton.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY