Phillip Cheah: JAFF Senantiasa Tentang Orang-Orang Dan Secangkir Kopi

Phillip Cheah: JAFF Senantiasa Tentang Orang-Orang Dan Secangkir Kopi

1108
SHARE

Sepuluh tahun silam, Garin Nugroho meminta saya membantunya menghelat Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) karena ia tahu tak ada seorang pun yang mampu melakukannya. Saat itu tarikh menunjuk 2005. Sesungguhnya saya tengah di bawah tekanan banyak tenggat waktu karena Singapore International Film Festival bakal merayakan ulang tahunnya yang ke-20 pada 2007. Karenanya, menjadi keputusan pelik untuk menambah perkerjaan baru.

Saya tahu, pekerjaan itu bakalan sulit. Tapi kunjungan pada awal 2006 membuat saya tercengang oleh pikiran anak muda yang dipenuhi kehausan intelektual. Yogyakarta kondang sebagai kota dengan banyak perguruan tinggi dan tak seperti legenda kafe di masyarakat Barat, kota Jogja memiliki banyak filsuf jalanan, yakni sekumpulan mahasiswa yang nongkrong di sepanjang jalan, duduk bersila di atas tikar dan mendiskusikan banyak hal sembari menyeruput secangkir kopi (ya, biji kopi yang sama terkenalnya di mancanegara!).

Saya terpana ketika diberitahu di Jogja ada lebih dari 100 komunitas film. Lantas saya teringat bagaimana rezim Suharto dipaksa tumbang. Gerakan mahasiswa begitu intens, namun tak ada pemimpin mereka yang bisa dikenali. Karenanya, mereka TIDAK bisa dilumpuhkan. Kehidupan intelektual di Jogja bekerja dengan letupan yang sama. Tak ada komunitas yang abadi. Mereka ada untuk menghidupkan gagasan, memperturutkan kegairahan dan memuaskan rasa keingintahuan. Itu sudah cukup. Mereka tidak merasa perlu meninggalkan struktur dan lembaga sebagaimana dilakukan negara-negara maju. Mereka hanya ingin meninggalkan ide! Maka dari itu, membuat program untuk festival ini amatlah mendebarkan karena para penontonnya hidup dengan pikiran merdeka.

Phillip Cheah, Kurator Festival Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF)
Phillip Cheah, Kurator Festival Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF)

Sejak awal kami mengikuti dengan dekat Gelombang Filipina lewat film John Torres Todo Todo Teros, film Doy Del Mundo Pepot Artista, film Sherad Anthony Sanchez The Woven Stories of The Other. Begitu pula, Gelombang Baru Sinema Malaysia lewat karya-karya Amir Muhammad, James Lee, Ho Yuhang, dan Tan Chui Mui. Bahkan, film-film klasik Vietnam kami jadikan program retrospeksi. Agar selaras dengan misi NETPAC dalam mempromosikan sinema Asia, kami mengenalkan sinema Arab ke Jogja melalui karya-karya Jocelyn Saab dan Mai Masri, dua dokumentaris perempuan Lebanon legendaris serta retrospeksi pembuat film Palestina legendaris Michel Khleifi. Program retrospeksi lainnya mengenalkan sinema dari Sri Lanka, Irak, Asia Tengah, Cina, dan belakangan Korea dan Jepang.

Dari sepuluh anggota kepanitiaan, beberapa yang masih bertahan antara lain, Budi Irawanto (direktur festival yang mengaku hidup dengan tokek terbesar di kampungnya), Ifa Isfansyah (yang saya kenal pertama kali sebagai pembuat film pendek dan kemudian sutradara film panjang serta kini kerabat dekat Mas Garin), Yosep Anggi Noen (sutradara film yang kini tengah naik daun), Ismail Basbeth (kini seorang sutradara film yang mumpuni dan jagoan membentuk jaringan) dan Ajish Dibyo (kini seorang produser film dan menjadi jangkar yang kukuh dari tim kepanitiaan ini). Festival ini dalam beberapa hal juga menumbuhkan Gelombang Baru pembuat film muda; dan JAFF di tahun 2012 harus membuat program khusus yang mempertontonkan film-film yang mereka buat. Persahabatan kami kian karib ketika Budi harus tinggal di Singapura selama lima tahun (2009-2014) untuk menyelesaikan program doktoralnya, sementara Ajish menggantikannya sebagai interim director.

Tapi saya masih merindukan panitia awal JAFF. Sista Komala yang tahu bagaimana tampil mengesankan dan selalu menemukan jalannya sendiri. Tak ada yang memiliki kecakapan menangani film traffic saat itu selain dia. Ada pula Hangga Fatana yang mengurus hospitality serta menjadi asisten kepercayaan Sista, serta cendekia Dyna Herlina, sebagai publicist pertama, yang kemudian meniti kariernya di dunia akademis.

JAFF senantiasa tentang orang-orang. Tahun perdana penyelenggaraan JAFF pada 2006 begitu nahas dan bersejarah. Gempa bumi mengguncang dengan kekuatan 6,4 skala richter dan menelan korban 5.700 jiwa. Para sponsor mendadak surut karena dana dialihkan untuk pemulihan bencana. Namun festival telah memegang teguh misinya. Di luar pemberian bantuan material, JAFF mulai dengan dana terbatas mengingat kami mesti memberikan pengharapan untuk para korban. Pemutaran khusus dilakukan di lapangan terbuka tempat penampungan pengungsi dan publisitas menyerukan bantuan untuk para korban.

Tak ada keglamoran, tak ada karpet merah, tak ada sampanye. Dalam JAFF yang ada adalah layar lebar atau layar tancap dan kepercayaan penonton bahwa mereka bakal menyaksikan film-film yang menantang pikirannya. Kemudian mereka kembali menjadi filsuf jalanan dan memperdebatkan film yang barusan mereka tonton. Dan jangan lupa, secangkir kopi.

Sumber: Website resmi JAFF

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY